Bio Energy Power Memperkuat Gerakan Self-Healing Berbasis Komunitas

BEP ini bukan sekadar senam, tapi sarana self-healing yang murah, mandiri, dan terukur.

Bio Energy Power Memperkuat Gerakan Self-Healing Berbasis Komunitas
Para pelatih yang terlibat dalam Latihan Gabungan Rumah Sehat (RS-2) ON-OG BEP, Sabtu (19/7/2025) di Pendopo Kantor PT Taspen Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ratusan peserta dari 13 Rumah Sehat di bawah naungan Perkumpulan Komunitas Bio Energy Power Seluruh Indonesia (PKBSI) Cabang Sleman mengikuti Latihan Gabungan Rumah Sehat (RS-2) ON-OG BEP, Sabtu (19/7/2025), di Pendopo Kantor PT Taspen Yogyakarta.

Kegiatan ini menandai semakin kuatnya gerakan komunitas dalam mendorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui metode terapi nafas dan gerak khas Indonesia.

Latihan gabungan ini diikuti oleh 427 anggota komunitas dan 53 pelatih bersertifikat, serta digelar rutin setiap bulan sebagai bagian dari 15 program utama PKBSI. Selain latihan bersama, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antar komunitas BEP, termasuk sarasehan dan ceramah.

“BEP ini bukan sekadar senam, tapi sarana self-healing yang murah, mandiri, dan terukur. Olah napas dan gerak yang kami lakukan mengaktifkan sistem regenerasi tubuh,” ujar Siti Isnindarwati atau Ning, Wakil Ketua PKBSI Pusat, di sela kegiatan.

Latihan Gabungan Rumah Sehat (RS-2) ON-OG BEP di Pendopo Kantor PT Taspen Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Bio Energy Power merupakan kombinasi Olah Nafas dan Olah Gerak (ON-OG) yang diciptakan oleh dr Harry J Angga sejak awal 1990-an. BEP berangkat dari filosofi bahwa manusia dapat menyembuhkan dirinya sendiri (self-healing) secara alami melalui teknik pernafasan dalam dan gerakan statis-dinamis.

Melalui teknik Tarik-tahan-buang nafas serta kombinasi gerakan tubuh, BEP terbukti dapat meningkatkan kadar oksigen dalam darah, memperbaiki metabolisme, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam praktiknya, satu gerakan bisa diulang hingga puluhan kali untuk menghasilkan efek terapeutik yang maksimal.

“Gerakan BEP hanya tiga, tapi teknik nafasnya sangat dalam. Bisa dilakukan duduk, berdiri, atau bahkan saat sakit. Ini membuat BEP cocok untuk semua kalangan -- dari lansia, ibu hamil hingga pekerja muda,” jelas Ning.

Pasca wafatnya dr Harry J Angga, estafet pengembangan BEP secara nasional dilanjutkan oleh Yayasan Bio Energy Power Indonesia (YBEPI) di bawah kepemimpinan Dra Lis Nurul Qomariyah MM. YBEPI menjadi pemegang mandat penuh dari sang pencipta, dengan misi menjadikan ON-OG BEP sebagai sarana peningkatan kesehatan nasional.

Seluruh Indonesia

Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, YBEPI mendorong lahirnya organisasi skala nasional yang berperan langsung sebagai wadah pengelola komunitas Perkumpulan Komunitas Bio Energy Power Seluruh Indonesia (PKBSI). Organisasi ini kini dipimpin oleh Prof Dr Ir Suhariningsih dan telah resmi berbadan hukum.

PKBSI memiliki struktur nasional, wilayah, hingga cabang, dengan cabang Sleman sebagai salah satu yang paling aktif dalam pelaksanaan latihan rutin dan pengembangan Rumah Sehat.

Sleman saat ini memiliki 13 Rumah Sehat BEP aktif yang menyelenggarakan latihan mingguan dan kegiatan sosial berkala. Daftarnya meliputi Opak Pogung, Sha’idah, Happy Embung Tambakboyo, Batan, Nordic Power 23823, Sekip Ceria, Lansia, Anggrek Drono, Garuda, Wardah, Pendopo Taspen, Mawar Sucen, IKAPEN UNY 25225 dan Rahayu Pringwulung.

Latihan gabungan kali ini diadakan di Pendopo PT Taspen karena jumlah peserta yang meningkat tak lagi tertampung di lokasi sebelumnya seperti Embung Tambakboyo."Setiap Rumah Sehat mengirim perwakilan, dan peserta tampak antusias mengikuti instruksi gerakan dan teknik nafas yang dipandu oleh pelatih pusat," kata Ning.

Bantu negara

Di tengah lonjakan biaya kesehatan dan makin menurunnya kesadaran gaya hidup sehat, komunitas BEP menawarkan alternatif yang sederhana namun berdampak. Dengan iuran hanya Rp 50 ribu seumur hidup, peserta bisa mengikuti latihan rutin, mendapat kartu anggota dan bahkan berpeluang menjadi pelatih melalui program pelatihan berjenjang.

“Ini gerakan dari bawah, dari masyarakat. Tidak menunggu pemerintah, tapi membantu negara menjaga kesehatan warganya,” ujar Ning menegaskan filosofi gotong royong BEP.

BEP kini tak hanya berkembang di Jawa, tetapi juga di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. YBEPI dan PKBSI menargetkan hadir di seluruh provinsi pada 2027. (*)