Ketika Semitone dari Piano Tua Buatan 1942 Jadi Simbol Kasih Sayang

Cerita tentang piano warisan itu akan didengar jutaan orang melalui single solo piano terbaru Bagus berjudul "Semitone".

Ketika Semitone dari Piano Tua Buatan 1942 Jadi Simbol Kasih Sayang
Bagus Mazasupa bersama piano warisan ayahnya saat konser. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pada sudut ruangan sederhana sebuah piano tua berwarna hitam legam buatan 1942. Bagi Bagus Mazasupa, piano yang sudah kusam dimakan usia itu adalah harta tak ternilai sekaligus manifestasi kasih sayang seorang ayah yang kini telah tiada.

Hari ini, 19 Juli 2025, cerita tentang piano warisan itu akan didengar jutaan orang melalui single solo piano terbaru Bagus berjudul "Semitone". Tersedia di berbagai platform streaming digital, lagu ini menyimpan narasi sederhana namun mendalam tentang kebahagiaan seorang anak yang akhirnya memiliki piano impiannya.

Semitone bukanlah karya yang baru lahir. Melodi ini pertama kali mengalir dari jari Bagus pada 2013, ketika perasaan bahagia karena memiliki piano masih segar dalam ingatan. Namun perjalanan lagu ini membutuhkan waktu 12 tahun untuk sampai ke telinga pendengar.

"12 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah lagu menunggu waktu yang tepat. Tetapi saya percaya setiap karya memiliki momentumnya sendiri. Dan momen untuk Semitone adalah sekarang, ketika saya sudah lebih matang dalam bermusik," ungkap Bagus Mazasupa, pengarah musik, komposer dan pianis asal Yogyakarta ini kepada koranbernas.id, Jumat (18/7/2025).

Sirkus Barock

Bagus Mazasupa dikenal luas karena keterlibatannya dengan Sirkus Barock, grup yang didirikan oleh Sawung Jabo. Selain aktif sebagai penata musik untuk dunia teater, dia juga telah merilis album dan sedang mengerjakan proyek konser keliling berbasis lecture recital bernama #musikono.

Keputusan merilis Semitone dalam format solo piano tahun ini bukan kebetulan. Bagi Bagus, ini adalah cara menghormati kenangan sang ayah yang meninggal dua tahun lalu.

"Ayah saya meninggal pada 2023, dan sejak saat itu piano warisan beliau menjadi lebih dari sekadar alat musik. Ini menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan kenangan. Setiap kali jari saya menyentuh tuts-tuts piano itu, seolah saya sedang berbicara dengan ayah," kata pianis berusia 35 tahun itu.

Pemilihan judul Semitone penuh makna. Dalam teori musik, semitone adalah interval terkecil dalam sistem musik Barat, setengah nada yang menjadi elemen dasar harmoni kompleks.

Tidak terburu-buru

"Semitone itu seperti hal-hal kecil dalam hidup yang sebenarnya sangat berarti. Seperti piano pemberian ayah ini. Mungkin bagi orang lain ini hanya piano tua, tetapi bagi saya ini adalah semitone dalam simfoni kehidupan saya, kecil tetapi sangat penting," jelas Bagus sambil memainkan beberapa nada di piano tuanya.

Proses pembuatan Semitone tidak terburu-buru. Selama 12 tahun, Bagus sesekali memainkan dan memodifikasi lagu ini, membiarkannya berkembang seiring dengan perkembangan perasaannya terhadap piano warisan ayah.

"Prosesnya sangat organik. Saya tidak memaksakan untuk segera merilis. Tetapi inti emosinya tetap sama, kebahagiaan yang tulus karena akhirnya memiliki piano," cerita Bagus.

Recording dilakukan langsung dari piano 1942 miliknya tanpa menggunakan piano studio yang mungkin lebih sempurna secara teknis. "Saya ingin pendengar merasakan karakter asli piano ini. Setiap nuansa, setiap detail suara yang mungkin tidak sempurna secara teknis, tetapi sangat authentic secara emosional," jelasnya.

Harapan ke depan

Meski tidak eksplisit disebut sebagai tribute song, “Semitone” membawa dedikasi mendalam untuk sang ayah. Bagus mengaku keputusan merilis tahun ini terkait dengan proses grieving yang dilalui. "Dua tahun pertama setelah ayah meninggal, saya kesulitan memainkan piano ini. Setiap kali duduk di depan piano, perasaan sedih langsung muncul. Tetapi perlahan-lahan, saya mulai menyadari bahwa piano ini adalah cara ayah untuk tetap hadir dalam hidup saya," kenangnya.

Bagus melihat Semitone sebagai bagian dari perjalanan artistiknya yang lebih luas. Proyek #musikono yang sedang dikerjakannya menunjukkan komitmennya untuk terus mengembangkan pendekatan personal dalam bermusik.

"Saya hanya ingin sedikit berbagi cerita lewat lagu Semitone. Semoga lagu ini dapat menyentuh hati para pendengar, dan mungkin mengingatkan mereka akan momen-momen sederhana yang berharga dalam hidup," kata Bagus dengan kerendahan hati.

Dengan rilisnya Semitone di platform streaming seperti Joox, Deezer, Apple Music dan YouTube Music, sebuah cerita tentang kasih sayang ayah dan kebahagiaan sederhana seorang pianis siap didengar. Piano tua itu akan terus berbunyi, menceritakan kisah kasih sayang yang tidak lekang waktu, satu semitone dalam satu waktu. (*)