RSUD Sleman Perkenalkan Layanan Baru dan Perbarui Tata Laksana DBD Melalui Forum Komunikasi Publik
RSUD Sleman menggelar Forum Komunikasi Publik 2026 untuk memperkenalkan layanan kesehatan terbaru sekaligus memperbarui tata laksana DBD guna meningkatkan kualitas pelayanan dan jejaring kesehatan
KORANBERNAS.ID, SLEMAN–Komitmen RSUD Sleman dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kembali ditunjukkan melalui penyelenggaraan Forum Komunikasi Publik (FKP) yang mengangkat tema Sosialisasi Layanan Baru RSUD Sleman dan Update Tata Laksana Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (4/6/2026) tersebut menjadi ruang dialog antara rumah sakit, tenaga kesehatan, mitra layanan, dan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam pelayanan kesehatan.
Forum yang berlangsung selama tiga jam itu melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat pengguna layanan, akademisi dan praktisi kesehatan, instansi terkait, organisasi masyarakat sipil, hingga kalangan media massa. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menghadirkan masukan, kritik, dan saran yang konstruktif bagi pengembangan layanan kesehatan di RSUD Sleman.
Direktur RSUD Sleman, dr. Wisnu Murti Yani, M.Sc., menegaskan bahwa Forum Komunikasi Publik merupakan bagian dari upaya rumah sakit untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka sekaligus memperkuat jejaring pelayanan kesehatan. Menurutnya, forum ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga wadah untuk mengevaluasi kebijakan dan layanan yang telah berjalan agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Melalui forum konsultasi publik ini, kami berharap memperoleh berbagai masukan dari masyarakat sehingga kualitas pelayanan publik di RSUD Sleman dapat terus meningkat," ujar dr. Wisnu saat membuka kegiatan.
Ia menjelaskan, FKP memiliki peran penting dalam membahas berbagai aspek pelayanan kesehatan, mulai dari perencanaan, penerapan, hingga evaluasi kebijakan yang dijalankan rumah sakit. Dengan adanya komunikasi dua arah, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, harapan, maupun usulan terkait layanan yang diterima.
Pada kesempatan tersebut, RSUD Sleman turut memperkenalkan sejumlah pengembangan layanan yang telah dan akan dihadirkan sepanjang tahun 2026. Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari langkah rumah sakit untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin lengkap, mudah diakses, dan berkualitas.
Layanan yang diperkenalkan meliputi Poliklinik Sore yang memberikan alternatif waktu berobat bagi masyarakat, Layanan Code STROKE untuk penanganan cepat pasien stroke, serta Layanan PONEK yang mendukung pelayanan kegawatdaruratan ibu dan bayi. Selain itu, RSUD Sleman juga menghadirkan Klinik Bedah Anak, Klinik Mentari Ceria untuk rehabilitasi tumbuh kembang anak, layanan jemput sampel bagi mitra kesehatan, Klinik Endokrinologi Reproduksi, layanan mammografi, vaksinasi, hingga layanan home care yang memungkinkan pasien memperoleh pelayanan kesehatan dari rumah.
Menurut dr. Wisnu, penguatan komunikasi dengan mitra layanan kesehatan menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pelayanan yang terintegrasi. Kehadiran berbagai layanan baru tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang semakin modern dan komprehensif.
Selain sosialisasi layanan, forum juga menghadirkan webinar yang membahas pembaruan tata laksana Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Materi pertama disampaikan oleh dr. Dedi Aprianto yang menyoroti pentingnya jejaring pelayanan kesehatan dalam penanganan kasus DBD di wilayah Sleman.
Dalam paparannya, dr. Dedi menekankan bahwa keberhasilan penanganan DBD tidak hanya bergantung pada kemampuan klinis tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan koordinasi yang kuat antar fasilitas pelayanan kesehatan. Mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan, seluruh elemen harus bekerja secara terintegrasi agar pasien memperoleh penanganan yang cepat dan tepat.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh dr. Widiani Wahyu Purnomo, M.Sc., Sp.A., yang mengulas pembaruan tata laksana DBD berdasarkan pedoman dan evidensi ilmiah terkini. Paparan tersebut mencakup aspek diagnosis, klasifikasi tingkat keparahan penyakit, tata laksana cairan, pemantauan kondisi pasien, hingga pengenalan tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera.
Pembahasan mengenai tata laksana DBD menjadi perhatian penting mengingat penyakit tersebut masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama saat terjadi peningkatan kasus di berbagai wilayah.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang memungkinkan peserta berdialog langsung dengan para narasumber. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan pelayanan, hingga strategi penanganan kasus DBD dibahas secara terbuka sehingga memperkaya wawasan peserta.
Melalui Forum Komunikasi Publik ini, RSUD Sleman berharap dapat meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, memperkuat koordinasi antar fasilitas pelayanan kesehatan, sekaligus memperkenalkan berbagai layanan unggulan kepada masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang responsif, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat (*)
Nila Hastuti
