Rokok Ilegal Gerogoti Ekonomi Buruh Linting Sigaret Kretek Tangan

Persaingan rokok murah ternyata bukan isapan jempol belaka.

Rokok Ilegal Gerogoti Ekonomi Buruh Linting Sigaret Kretek Tangan
Ilustrasi rokok ilegal mempengaruhi ekonomi pekerja. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Jarum jam baru menunjukkan pukul 14:30, namun Zudiyati (39) sudah melangkah keluar dari gerbang pabrik di Yogyakarta. Bagi buruh linting Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang telah mengabdi selama 12 tahun ini, pulang gasik bukanlah kemewahan, melainkan tanda bahaya.

"Dulu kalau lagi rame, kita bisa lembur sampai setengah enam sore. Itu lumayan banget duitnya buat pegangan. Kalau sekarang? Mungkin jam dua siang udah kelar," tutur Zudiyati, Kamis (22/1/2026).

Suasana di lantai produksi kini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Hilir mudik ribuan batang rokok yang dulu dikejar demi kuantitas, kini berubah menjadi tekanan kualitas yang disebutnya sebagai "seleksi alam".

Apa yang dialami Zudiyati adalah potret mikro dari guncangan makro industri hasil tembakau (IHT) nasional. "Kabar burung" yang didengar Zudiyati tentang persaingan rokok murah ternyata bukan isapan jempol belaka.

Terbebani cukai

Mengacu pada data tahun 2025, industri rokok legal sedang "berdarah-darah" digerogoti rokok ilegal. Fenomena downtrading yaitu konsumen beralih ke rokok yang lebih murah akibat tekanan ekonomi semakin subur karena disparitas harga yang jomplang. Rokok legal terbebani cukai, sementara rokok ilegal melenggang bebas tanpa pita cukai.

Laporan dari Indodata Research Center menyebutkan sepanjang tahun sebelumnya, peredaran rokok ilegal (rokok polos) mengalami lonjakan signifikan dengan potensi kerugian negara yang fantastis, ditaksir mencapai lebih dari Rp 97 triliun.

Bagi pekerja SKT yang padat karya seperti Zudiyati, angka-angka statistik ini diterjemahkan menjadi piring nasi yang kian sedikit isinya.

Seruan serikat pekerja seperti Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) pada akhir 2025 juga telah memperingatkan beban cukai dan maraknya rokok ilegal adalah lonceng kematian bagi buruh, yang berujung pada efisiensi jam kerja hingga ancaman PHK.

"Harga rokok makin mahal, akhirnya orang lari ke yang murah-murah. Imbasnya ke kita, orderan sepi," keluh Zudiyati.

Makan gratis

Di tengah impitan ekonomi akibat hilangnya uang lembur, Zudiyati mengaku sangat terbantu dengan program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis yang diterima anaknya, Rama, di sekolah. "Itu kerasa banget ngebantu-nya. Uang saku yang biasanya buat jajan, bisa kita simpen atau diputer buat kebutuhan lain," ungkapnya.

Meski pendapatan pas-pasan hanya cukup untuk muter sehari-hari, Zudiyati memilih bertahan. Alasannya sederhana: kepastian. 

Di tengah badai industri yang membuat banyak pabrik lain kolaps atau menunggak gaji, perusahaannya masih tertib membayar hak karyawan, mulai dari THR hingga jaminan kesehatan.

"Intinya sekarang pinter-pinter kita ngatur duit aja. Nggak bisa lagi ngarepin lemburan kayak zaman dulu," katanya. (*)