Revolusi Museum pada Era Kebiasaan Baru
WORLD Health Organization (WHO), menetapkan Covid-19 sebagai Pandemi pada tanggal 11 Maret 2020 (Cobley et al, 2020). Setelah penetapan ini, pola kerja dan layanan institusi publik seperti museum berubah. Masyarakat tidak lagi diperkenankan mengakses museum secara langsung dan pegawai bekerja dengan konsep work from home dan work form office. Pola layanan dan kerja ini diambil untuk memimalkan interakasi antara staf museum dan masyarakat yang akan mengakses museum.
Pada awal pandemi banyak museum yang menutup layanan dan membagi pekerjaan dengan konsep kerja dari rumah atau di kantor. Kondisi ini mendorong pimpinan dan staf museum berkreasi menciptakan inovasi. Inovasi yang memberikan kesempatan masyarakat mengakses museum dengan mengandalkan produk-produk teknologi informasi.
Kunjungan Virtual
Inovasi yang dilakukan museum agar masyarakat dapat mengunjungi museum pada era pandemi adalah dengan pengembangan virtual tour atau virtual visit. Dengan bantuan produk-produk teknologi informasi, museum mulai mengembangkan virtual tour atau virtual visit. Dengan konsep ini masyarakat mengakses museum secara virtual yang kondisinya sama dengan kondisi riil museum. Masyarakat dapat mengakses museum dari manapun dan kapanpun. Virtual tour justru memberikan kesempatan akses yang lebih luas kepada masyarakat. Selama ini, untuk mengakses museum masyarakat harus datang ke museum.
Museum di tanah air yang telah mengembangkan virual tour adalah Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Untuk mengakses virtual tour Museum Benteng Vredeburg dapat membuka laman dengan alamat virtualtourvredeburg.id. Dengan mengisi buku tamu yang ada pada laman tersebut, maka masyarakat dapat mengunjungi museum secara virtual.
Pameran Virtual
Inovasi berikutnya yang dapat dilakukan museum adalah digitalisasi koleksi museum dan selanjutnya mendesain pameran virtual. Pameran virtual merupakan upaya pemanfaatan aplikasi berbasis web dan media sosial seperti Instagram dan Youtube untuk memamerkan koleksi museum. Dengan pemeran virtual memungkinkan masyarakat mengakses koleksi museum tanpa harus datang ke museum. Staf museum perlu melakukan digitalisasi koleksi dan selanjutnya menyajikan koleksi digital tersebut melalui web atau media sosial yang dimiliki museum.
Museum Sumpah Pemuda merupakan salah satu museum yang menyelenggarakan pemeran virual. Museum yang berkedudukan di Jakarta ini, melakukan digitalisasi koleksi dan selanjutnya menyajikan koleksi lengkap dengan deskripsi koleksi tersebut melalui web museum. Deskripsi yang ditampilkan di setiap koleksi lengkap seperti deskripsi ketika berkunjung ke museum secara langsung.
Even Berbasis Zoom
Aplikasi pertemuan daring seperti Zoom Meeting atau Google Meet telah ada sebelum pandemi. Aplikasi ini menjadi populer di era pandemi karena memungkinkan menyelenggarakan rapat, diskusi dan seminar secara daring. Untuk menyelenggarakan rapat, diskusi dan seminar, peserta seminar akan bertemu di ruang virtual. Untuk menyelenggarakan berbagai even virtual tersebut seseorang akan bertugas sebagai host, co-host dan peserta.
Pada masa pandemi ini, museum juga memanfaatkan aplikasi untuk menyelenggarakan acara talkshop atau seminar. Dengan memanfaatkan aplikasi pertemuan daring, memungkinkan museum menyelenggarakan acara tanpa harus datang ke museum, sehingga menghindari kerumunan atau pertemuan secara langsung. Dengan menggunakan Zoom Meeting atau Google Meet memungkinkan seminar dihadiri oleh banyak orang tanpa perlu memikirkan kapasitas ruangan. Penyelenggaraan seminar secara daring justru dapat menghemat biaya penyelenggaraan kegiatan dan memungkinkan diikuti banyak partisipan.
Dengan berbagai inovasi di atas, museum berusaha senantiasa eksis di tengah masyarakat. Museum berevolusi sesuai dengan dinamika yang terjadi di masyarakat. Semoga dengan momentum hari Museum Internasional ini, semakin memotivasi masyarakat untuk lebih mengoptimalkan eksistensi museum. **
Heri Abi Burachman Hakim, SIP, MIP.
Pranata Humas ISI Yogyakarta