Problem Lahan Sempit dan Sampah, Warga Suryodiningratan Manfaatkan Ember Tumpuk dan Lorong Sayur untuk Lingkungan Produktif
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Upaya mewujudkan lingkungan yang hijau, produktif, dan berkelanjutan di wilayah padat penduduk Suryodiningratan digencarkan melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PbM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Program inovatif ini memperkenalkan dua solusi sekaligus untuk masalah klasik perkotaan yakni keterbatasan lahan dan penumpukan sampah organik.
Inovasi yang disosialisasikan meliputi pelatihan sistem Ember Tumpuk untuk pengolahan kompos rumah tangga dan pembuatan Lorong Sayur untuk pemanfaatan ruang sempit secara vertikal.
Kegiatan ini melibatkan sinergi tiga keilmuan, dipimpin oleh Muhammad Fauzan Farid Alhamdi (ahli perbenihan/pertanian), didampingi Eni Muryani (ahli lingkungan), dan Retno Hendariningrum (ahli komunikasi).
Budidaya Vertikal di Gang Sempit
Muhammad Fauzan Farid Alhamdi, selaku ketua tim dan ahli pertanian, menekankan pentingnya adaptasi teknik budidaya di permukiman padat. Metode Lorong Sayur dirancang agar warga tetap dapat menanam meskipun lahannya terbatas.
“Teknik penanaman secara vertikal ini menjadi solusi efektif. Sistem penanaman bertingkat membuat kita dapat menanam lebih banyak jenis sayuran dalam ruang yang relatif terbatas,” ungkap Fauzan.
Ia berharap warga dapat menjadikan metode ini sebagai bagian dari budidaya sehari-hari karena dapat memberikan hasil yang optimal meski dilakukan pada gang atau halaman kecil.
Warga berpartisipasi membuat piranti untuk membuat pupuk organik dari sampah rumah tangga. (istimewa)
Lorong Sayur dan Ember Tumpuk dirancang saling melengkapi, di mana kompos yang dihasilkan dari sampah dapur akan membantu persiapan media tanam untuk budidaya vertikal tersebut.
Ubah Sampah Dapur Jadi Kompos
Sementara itu, inovasi pengelolaan sampah difokuskan pada sistem Ember Tumpuk, sebuah metode sederhana namun efektif, yang dinilai sesuai untuk kawasan padat karena tidak membutuhkan ruang luas.
Eni Muryani, selaku ahli lingkungan, mengajak warga memahami bahwa sampah dapur bukan sekadar limbah, tetapi bahan organik bernilai tinggi apabila dikelola dengan benar.
“Sampah organik merupakan masalah harian di perkotaan. Daripada sampah itu dibuang, lebih baik diolah menjadi kompos yang bermanfaat. Ember tumpuk ini memungkinkan warga mengolah sampah organik sendiri dan hasilnya dapat digunakan untuk kegiatan menanam,” jelasnya.
Pengelolaan sampah yang konsisten melalui metode ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah kota. Warga dipandu mulai dari pemilihan ember, penyusunan sekam, tanah, sampah organik, hingga proses fermentasi alami di dalamnya.
Kunci Sukses: Komunikasi yang Humanis
Keberhasilan program ini didukung oleh pendekatan komunikasi yang humanis dan partisipatif. Retno Hendariningrum, ahli komunikasi, menekankan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat ditentukan oleh seberapa baik informasi dipahami dan diterima oleh warga.
“Komunikasi itu bukan hanya sekadar menjelaskan, tetapi juga memastikan bahwa pesan kita benar-benar tersampaikan dan dapat dipahami. Kita perlu menggunakan bahasa yang sederhana, memberikan contoh nyata, dan mengajak warga berinteraksi langsung,” jelas Retno.
Warga Suryodiningratan menunjukkan antusiasme tinggi dan mulai menyadari bahwa kompos dari ember tumpuk dapat digunakan untuk memupuk tanaman Lorong Sayur. Beberapa warga menyatakan rencana untuk meneruskan kegiatan ini secara mandiri di rumah masing-masing. (*)
Siaran Pers
