petani-merugi-suplai-air-minim-sebabkan-bulir-padi-kosongPetani padi di Kecamatan Buluspesantren memilih memanen padi tanpa diburuhkan. Cara ini dilakukan untuk menekan nilai kerugian akibat kekeringan. (Nanang WH/koranbernas.id)


nanang

Petani Merugi, Suplai Air Minim Sebabkan Bulir Padi Kosong

SHARE

KORANBERNAS.ID--Petani padi penyewa lahan mengalami kerugian, ketika air irigasi pada musim tanam (MT) II tahun 2019, tidak sampai ke sawah garapannya. Bulir padi sebagian besar kopong. Karena saat pembuahan, air irigasi sangat kurang. Ironisnya, tidak jauh dari lahan sawahnya ada saluran irigasi. Namun saluran ini kering ketika musim kemarau.

“Tanam sebelumnya air cukup karena masih hujan. Tapi tanaman kita diserang wereng,“ kata Nizar (52), petani penyewa lahan warga Desa Waluyo, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen.


Baca Lainnya :

Kepada koranbernas.id, Nizar mengungkapkan, ia menyewa lahan dengan status tanah milik Desa Waluyo. Sawah seluas 100 ubin atau 1.400 meter persegi ini, ia sewa dengan tarif Rp 1,6 juta setahun. Jika tidak ada hama wereng dan cukup air, semestinya ia bisa kembali modal.

Ditemui ketika istirahat memamen bersama istrinya, Nizar mengungkapkan, perbandingan modal dari sewa lahan, biaya mengolah tanah, pemeliharaan dan pupuk serta pembasmi hama, masih lebih besar dibanding dengan hasil panennya.


Baca Lainnya :

Karena sebagian besar bulir padi kopong, hasil padinya kurang dari 500 kg gabah kering panen. Hitungan kerugiannya lebih dari Rp 1,5 juta untuk 2 kali musim tanam padi atau setahun sewa lahan.

Pengamatan koranbernas.id, areal pesawahan di Waluyo dan sekitarnya, sebenarnya sawah berpengairan tehnis. Namun dalam beberapa musim tanam padi, air irigasi yang berasal dari Waduk Wadaslintang tidak sampai ke lahan sawah di daerah ini.

Pemerintah pernah membantu pompa air untuk mengalirkan air Sungai Luk Ulo yang berada di daerah itu. Karena alasan biaya untuk bahan bakar minyak, petani tidak menggunakan pompa air tersebut.

Kesulitan air irigasi juga terjadi di sawah lebih hulu. Namun petani di hulu, memilih memanfaatkan air bawah tanah untuk mencukupi kebutuhan lahan pertaniannya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kebumen, Supangat kepada mengungkapkan, tidak teralirinya sawah di hilir, disebabkan kerusakan saluran irigasi.

Rusaknya saluran irigasi, menyebabkan kebocoran air dengan volume cukup tinggi. Sehingga daerah hilir tidak kebagian air. Diperlukan rehabilitasi menye;uruh saluran irigasi.(SM)


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini