Petani di Desa Jurangjero Klaten Terapkan Teknologi TBS, Efektif Kendalikan Hama Tikus
Tidak perlu banyak orang, tinggal pasang pagar dari plastik semacam fiber.
KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Pemerintah Desa (Pemdes) Jurangjero Kecamatan Karanganom Klaten dan beberapa petani setempat mengembangkan teknologi TBS (Trap Barrier System) pada lahan pertanian yang dikelola. Langkah tersebut dinilai efektif mengendalikan hama tikus yang merajalela sejak tahun Agustus 2023 hingga Juli 2025 dan mengakibatkan petani gagal panen.
Penerapan TBS tersebut dinilai berhasil karena tanaman padi yang dipagari fiber atau menerapkan TBS benar-benar bisa dipanen karena tidak terserang hama tikus.
Di sela-sela menghadiri acara kampanye Gemar Makan Ikan di Dukuh Bungkusan Desa Jurangjero, Kamis (18/9/2025), Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo juga meninjau langsung lahan pertanian yang menerapkan teknologi TBS sebagai upaya pengendalian hama tikus.
"Salah satu isu besar di Kabupaten Klaten adalah berkaitan dengan hama tikus dan mewabah di hampir seluruh wilayah. Nah, ini ada teknologi TBS seperti jebakan, agar tikus ini tidak berkembang ke sawah yang lain," katanya.
Terbukti efektif
Menurutnya, teknologi TBS lebih efektif dari gropyokan, tidak perlu banyak orang, tinggal memasang pagar dari plastik semacam fiber. Kemudian, pada jalur masuk tikus diberi perangkap. "Ini terbukti efektif karena di sini (Desa Jurangjero) sempat tidak panen sejak 2023 dan setelah memakai teknologi TBS ini bisa panen," ujar bupati.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Iwan Kurniawan mengemukakan pada TB I (Tengah Bulan) September serangan hama tikus di Kabupaten Klaten cenderung turun tinggal 132 hektar bila dibandingkan TB II Agustus seluas 307 hektar.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengendalikan hama tikus, termasuk penerapan TBS yang dinilai sangat efektif. Terbukti ada yang mencoba tiga kali tanam dan bisa panen.
Ditambahkan, pengendalian hama tikus bisa dilakukan dengan tiga macam yakni mekanis seperti gropyokan dan teknologi TBS, biologis dengan burung hantu dan ular serta kimia.
Tergantung bahan
Saat ditanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi TBS pada lahan pertanian seluas satu patok, Iwan Kurniawan menjawab tergantung bahan yang digunakan. “Kalau bahannya fiber dengan ketebalan tertentu akan lebih mahal,” jelasnya.
Kepala Desa Jurangjero, Ali Murtono, mengatakan luas lahan pertanian di desanya 142 hektar, 86 hektar di antaranya atau 60 persen terserang hama tikus dari Agustus 2023 hingga Juli 2025. Tahun 2014 hingga 2023 Desa Jurangjero justru aman dari serangan hama tikus.
Beberapa faktor penyebab merajalelanya hama tikus di Desa Jurangjero pada Agustus 2023 hingga Juli 2025 adalah meningkatnya populasi tikus serta menurunnya daya buru burung hantu.
Penerapan teknologi TBS dalam upaya pengendalian hama tikus di Desa Jurangjero diawali dari adanya bantuan dari Kementerian Pertanian. Fiber yang digunakan untuk memagari lahan pertanian dari ancaman hama tikus juga memiliki keterbatasan karena hanya bisa dipakai dua kali musim tanam. (*)
Masal Gurusinga
