Perang Melawan Kebatilan
Oleh: Sudjito Atmoredjo
Suatu peringatan penting agar tidak ada suatu bangsa berlindung, bersekongkol, berkoalisi dengan bangsa lain hanya demi keamanan dan kenyamanan kehidupan duniawi. Dalam situasi aman-damai ataupun darurat-perang, kenyamanan hidup itu hadir karena pertolongan Allah Swt. Keakraban dan kenyamanan berkoalisi hanyalah semu, bersifat sementara, ketika kepentingan terakomodasi. Pada saatnya, koalisi akan pecah dan berubah menjadi musuh. Keengganan anggota NATO mendukung sikap AS merupakan bukti nyata.
SEORANG teman berkomentar perihal berkecamuknya perang di Timur Tengah. Katanya, dilihat dari perspektif filsafat, perang itu banyak sisi positifnya. Tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan filsafat perang. Pun pula, tidak dijelaskan apa sisi positifnya. Saran dan kritik disampaikan agar saya banyak membaca filsafat perang, sehingga saya paham tentang sisi positif perang itu.
Setahu saya, filsafat adalah suatu kajian tentang realitas fisik-materiil, atas dasar rasionalitas (penalaran berdasarkan akal/ratio). Dalam pengertian itu, maka kebenaran hakiki/filsafati hanya sebatas pada objek fisik-materiil dan sebatas kemampuan akal. Problema kehidupan di dunia dipahami sesempit itu. Tak ada keterkaitan dengan alam akhirat. Padahal, perang di Timur Tengah dan perang-perang besar lainnya amat luas persoalannya, dari materi hingga immateri, dari akal hingga transendental (di atas akal). Realitas suprarasional/transendental itu tak terjangkau, sekalipun oleh orang ber-IQ tinggi. Karenanya dipinggirkan dari kajian filsafat.
Hemat saya, filsafat bukanlah segala-galanya. Filsafat perang pun, bukanlah kajian ampuh untuk memahami hakikat perang. Tak ada bukti empiris bahwa perang bisa dicegah, dikobarkan, atau digali sisi positifnya berdasarkan filsafat perang. Ketika perang terjadi, umumnya banyak orang khawatir, resah, was-was akan akibat/dampak negatifnya. Perang merupakan keterpaksaan, dan bukan solusi atas permasalahan kehidupan bersama.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada tokoh-tokoh filsafat perang, saya justru terinspirasi oleh petunjuk Kitab Suci dan bimbingan moralitas religius agar manusia bersikap benar/tepat dalam memahami masalah perang. Secara garis besar, manusia di alam dunia ini terbagi dalam dua golongan.
Pertama: Golongan orang-orang konsisten/istiqomah pada kebenaran Ilahiyah. Golongan ini percaya kehidupan di dunia hanya fana, sarat tipu daya, bersifat sementara. Kehidupan abadi ada dan akan ditemui pascakematian. Di sanalah, bahagia atau derita, berkesesuaian dengan amal/perbuatannya. Demi kebahagiaan sejati, maka amal saleh diupayakan terakumulasi sebanyak mungkin. Segala noda dan dosa dicegah atau dihapus melalui pertobatan.
Kedua: Golongan orang yang gemar menapaki jalan sesat/batil, mengumbar nafsu duniawi. Tanda-tanda yang melekat pada golongan ini antara lain: (1) enteng bersumpah/berjanji, tetapi enteng pula mengingkari; (2) gemar membuat tipu daya, mencerca, memutar-balikan ayat-ayat Allah, dan menghalangi-halangi ibadah orang beragama; (3) gemar berbuat melampaui batas (menumpuk harta, meluaskan kekuasaan, menindas golongan lemah). Terhadap golongan ini, Tuhan dan Rasul-Nya memaklumkan tentang putusnya hubungan (berlepas diri) dengan mereka. Bahkan diperintahkan agar orang-orang beriman (golongan pertama) memeranginya. Tuhan berjanji memberi bantuan dan kemenangan.
Pada perang melawan kebatilan, dapat dicerna akal sehat bahwa perang merupakan jihad, perbuatan positif, dan kalah atau menang pun bernilai positif. Agar kemenangan dapat diraih, perlu semangat juang tinggi, kesiapan jiwa-raga, cukup modal logistik, ilmu perang, siasat, strategi, teknis, dan segalanya. “Jer basuki mawa bea”. Sungguh, tak mudah memenuhi berbagai persyaratan tersebut. Dipertanyakan, seberapa banyak/serius orang mau berperang dan berkorban demi kebenaran?
Pasti ada sebagian di antara kita (orang, bangsa, dan negara) yang rela berperang dan berkorban demi kebenaran, membela negara, membela agama. Namun, tak sedikit pula, orang enggan ikut berperang, tak mau berkorban, barang sedikit pun. Itulah orang-orang kikir, pelit, dan oportunis. Mereka, kadang muncul sebagai “pahlawan kesiangan”. Orang-orang macam ini, bersemangat ketika berebut barang rampasan perang. Dalam konteks kekinian, barang rampasan perang dimaksud bisa berupa sumber daya alam (minyak, nikel, batu bara, uranium, dll.), termasuk sumber energi sosial-kebangsaan (sistem politik, sistem ekonomi, sistem perdagangan, dsb.).
Kaum oportunis mengira sikapnya itu benar. Bergabung dengan negara besar/adi-daya diyakini akan mendatangkan rasa aman, nyaman, sejahtera. Perkiraan seperti itu, dalam perspektif moralitas-religius, sungguh keliru. Kemunafikan mereka diketahui oleh Sang Pencipta dan dicatat oleh malaikat. Pada umat-umat terdahulu, hal demikian sudah dikisahkan dengan gamblang. Baginya kehinaan dan azab pedih di dunia dan di akhirat.
Lain halnya bagi golongan istiqamah. Mereka tegar, kokoh pendirian, selalu menunaikan kewajiban, rela berkorban. Mereka diberi derajat lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang hanya berdiam diri, hanya berdoa, ataupun berkomentar sebagai analis. Rahmat, ridha, kebahagiaan abadi, menjadi bagian kehidupan golongan ini.
Suatu peringatan penting agar tidak ada suatu bangsa berlindung, bersekongkol, berkoalisi dengan bangsa lain hanya demi keamanan dan kenyamanan kehidupan duniawi. Dalam situasi aman-damai ataupun darurat-perang, kenyamanan hidup itu hadir karena pertolongan Allah Swt. Keakraban dan kenyamanan berkoalisi hanyalah semu, bersifat sementara, ketika kepentingan terakomodasi. Pada saatnya, koalisi akan pecah dan berubah menjadi musuh. Keengganan anggota NATO mendukung sikap AS merupakan bukti nyata.
Bagi Indonesia, dalam rangka ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, semestinya Pemerintah tidak ngeblok pada Israel-AS. Pada dimensi moralitas-religius, perlu diserukan agar kekuatan yang melimpah pada negara dan lembaga internasional didayagunakan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Kita mengingatkan bahwa karena perang, korban manusia dan hancurnya fasilitas umum tak terbilang banyaknya. Peradaban pun berubah menjadi kebiadaban.
Perang melawan kebatilan hukumnya wajib. Mengobarkan perang demi kebatilan, hukumnya haram. Amat elegan bila Israel-AS mampu mengoreksi diri dan menghormati kedaulatan masing-masing negara. Sekalian dengan politik luar negeri “bebas-aktif”, kita kritisi keterbatasan filsafat perang, akal bengkok, akal bulus, dan kekuatan yang mengabaikan moralitas-religius maupun hukum internasional.
Wallahu’alam. ***
Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.
Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana UGM
-@Pranala
