Pemkab Sleman Ajak Warga Tanam Sayuran di Pekarangan Rumah
Ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan bahan pangan.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memperkuat ketahanan pangan dengan pendekatan berbasis potensi lokal, mulai dari optimalisasi pertanian hingga pengembangan perikanan sistem bioflok serta percepatan regenerasi petani muda.
"Ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup akses, pemanfaatan dan stabilitas pasokan secara berkelanjutan," kata Rofiq Andriyanto, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, kepada awak media, Selasa (3/3/2026).
Menurut Rofiq, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup, aman, bergizi, merata dan terjangkau bagi masyarakat dari waktu ke waktu.
Dia mengakui, penguatan ketahanan pangan di Sleman masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti produktivitas yang belum optimal, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM), belum kuatnya kelembagaan kelompok tani, hingga rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Langkah terpadu
"Karena itu, diperlukan langkah strategis dan terpadu melalui pemberdayaan pertanian dan perikanan berbasis sumber daya lokal," kata Rofiq.
Pada sektor pertanian, peningkatan ketersediaan pangan dilakukan dengan penggunaan benih unggul, pola tanam tepat, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu.
Sementara di sektor perikanan, penguatan dilakukan melalui budi daya skala rumah tangga dan kelompok dengan kolam terpal, sistem bioflok, serta pola pertanian terintegrasi seperti mina padi. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki asupan gizi keluarga melalui ketersediaan protein.
"Pendampingan petani dilakukan lewat penyuluhan teknis budi daya, pelatihan manajemen usaha tani, serta peningkatan akses pembiayaan dan pasar. Kelompok tani dan Gapoktan didorong menjadi pusat pembelajaran, unit produksi, sekaligus wahana kerja sama," jelasnya.
Informasi pasar
Sedangkan penguatan kelembagaan diharapkan mampu meningkatkan daya tawar petani, efisiensi produksi, serta akses terhadap permodalan, teknologi dan informasi pasar.
"Strategi lain yang dikedepankan adalah optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lumbung pangan kedua. Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran, buah, tanaman obat keluarga, hingga budi daya ternak dan ikan skala kecil," ajaknya.
Langkah ini dinilai menjadi solusi atas berkurangnya luas lahan sawah di Sleman sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga dan menambah pendapatan keluarga. Penguatan ketahanan pangan juga diarahkan pada peningkatan kapasitas SDM dan percepatan regenerasi petani muda.
Pelatihan teknis budidaya, manajemen usaha, literasi keuangan, hingga pemasaran digital menjadi fokus agar petani mampu mengelola usaha secara profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Nila Hastuti
