Sabtu, 24 Okt 2020,


pembelajaran-secara-daring-di-tengah-pandemi-covid19Dhea Maheswari Fitria Utami (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).


Redaktur

Pembelajaran Secara Daring di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Dhea Maheswari Fitria Utami
SHARE

PANDEMI corona virus disease 2019 (Covid-19) yang sedang menjangkiti dunia saat ini muncul pada awal Desember 2019 yang berasal dari kota Wuhan, China. Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020. Penyebaran virus ini terbilang cukup cepat yang menyebabkan banyak aktivitas terhambat. Salah satunya yaitu proses kegiatan belajar-mengajar di kampus.

Proses kegiatan belajar-mengajar yang awalnya dilakukan secara offline atau tatap muka, kini dilakukan secara online atau daring. Pembelajaran secara online bisa menggunakan aplikasi seperti WA Group, Google Classroom, Zoom, Google Meet, dan lain-lain. Banyak dampak positif dari proses belajar-mengajar secara daring ini, salah satunya yaitu, efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan. Guru besar University of Applied Science and Arts, Hannover, Germany and Senior Experten Services (SES) Germany, Prof. Dr. Gerhad Fortwengel mengatakan, wabah corona ini justru menjadi katalis hebat yang memacu dunia pendidikan. Seperti mendorong lebih banyak pemanfaatan teknologi informasi dalam aktivitas pembelajaran jarak jauh. Namun, di sisi lain terdapat beberapa dampak negatif yang ditimbulkan.


Baca Lainnya :

Dampak negatif yang pertama yaitu, kendala jaringan saat proses pembelajaran berlangsung. Tidak semua tempat tinggal mahasiswa itu memiliki jaringan internet yang baik. Sampai harus berjuang mencari jaringan internet keluar rumah. Bahkan ada beberapa mahasiswa sampai memanjat pohon, duduk di pinggir tebing, dan lain-lain. Hal tersebut merupakan tindakan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan. Tapi apalah daya, demi menjalankan pembelajaran daring mereka harus rela melakukan hal tersebut, terutama para mahasiswa yang dituntut mengerjakan ujian. Belum lagi tugas yang diberikan oleh dosen banyak yang menyebabkan mahasiswa harus bekerja lebih ekstra cepat karena tidak mungkin untuk mencari jaringan internet pada malam hari di luar rumah. Kendala jaringan ini menyulitkan para mahasiswa dalam menerima dan memahami materi karena suara yang terputus-putus dan terkadang layar (screen) presentasi tidak muncul. Selain itu, mahasiswa yang terkendala jaringan internet juga sering keluar masuk google meet atau zoom dengan sendirinya. Beberapa hal tersebut membuat pembelajaran sangat tidak efektif.

Dampak yang kedua adalah borosnya penggunaan kuota internet. Penggunaan kuota yang biasanya bisa digunakan mencapai dua minggu kini hanya bisa digunakan sekitar tiga sampai lima hari saja. Tergantung banyaknya pertemuan kuliah secara online dan durasi waktu yang digunakan. Semakin lama durasinya maka semakin cepat kuota internet habis. Karena borosnya penggunaan kuota dan tidak dapat memprediksi kapan dan jam berapa kuota tersebut habis. Maka mahasiswa harus meyiapkan kuota cadangan agar sewaktu-waktu kuota internet habis di tengah jalan saat perkuliahan berlangsung dapat diisi dengan cepat tanpa harus membeli terlebih dahulu sehingga dapat menyingkat waktu.


Baca Lainnya :

Pemerintah pun akan memberikan bantuan kuota internet sebagai implementasi dari Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020-2021 pada masa pandemi Covid-19.

Bantuan ini diberikan kepada siswa dan guru. Selain itu, bantuan kuota internet juga diberikan kepada mahasiswa dan dosen. Adapun besaran kuota khusus bagi mahasiswa dan dosen diberikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu sebesar 50 GB setiap bulannya.

Dampak negatif yang terakhir yaitu, kesulitan pada media pembelajaran. Tidak semua mahasiswa memiliki laptop dan mengharuskan mereka menggunakan smartphone mereka untuk melakukan kuliah secara daring. Kuliah secara daring dilakukan dari pagi sampai sore bahkan bisa sampai malam. Jika digunakan terus menerus maka smartphone tersebut akan cepat panas. Smartphone atau alat elektronik jika digunakan terlalu lama akan panas dan menyebabkan cepat rusaknya barang tersebut. Terkadang waktu yang diberikan untuk jeda dari mata kuliah satu ke mata kuliah selanjutnya hanya berselang 10 menit atau 15 menit yang mana kurun waktu tersebut kurang untuk mendinginkan atau mengistirahatkan alat elektronik tersebut. Jika sedang beruntung bisa mendapatkan waktu sekitar 30 menit untuk mengistirahatkan alat elektronik tersebut lebih baik. Tapi jika hanya 10 atau 15 menit itu terlalu cepat. Karena untuk mengikuti perkuliahan online biasanya para mahasiswa dianjurkan masuk sekitar 10 menit atau 15 menit sebelum kelas dimulai. Hal tersebutlah yang menyebakan tidak sempatnya mahasiswa untuk mengistirahatkan smartphone. Salah satu kerusakan yang akan timbul yaitu, cepat matinya smartphone secara tiba-tiba.

Yang kedua adalah mengisi daya baterai dalam keadaan menyala. Ini akan cepat merusak baterai pada smartphone. Baterai akan cepat menggembung dan bengkak. Bahaya baterai yang menggembung yaitu membuat casing smartphone membengkak , dan baterai yang menggembung juga menimbulkan masalah lain. Seperti bocornya baterai tersebut yang menyebabkan kerusakan pada bagian lain, hingga meledak.

Adanya Covid-19 ini memberikan dampak di berbagai bidang, salah satunya pembelajaran di lingkungan pendidikan. Tentunya memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu dapat menekan angka penyebaran Covid-19 di Indonesia dan dampak negatifnya kesulitan dalam mendapat jaringan yang baik, borosnya penggunaan kuota, dan media yang digunakan. Walaupun dalam keadaan pandemi, pemerintah dan dosen tidak kehabisan cara untuk tetap menjalankan program pendidikan , meskipun di tiap-tiap pelaksanaannya masih ada kendala seperti kurangnya pemerataan internet pada daerah-daerah tertentu. Untuk mengatasi beberapa kendala saat pandemi seperti ini diperlukan campur tangan dari berbagai pihak terutama pemerintah. Misalnya, pemerintah dapat mengkoordinir pada bagian lembaga pendidikan terkait pembelajaran daring di tengah pandemi. *

Dhea Maheswari Fitria Utami

Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.


TAGS:

SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini