Peduli Aksara Jawa, Anggota DPRD DIY Syukron Arif Muttaqin Ajak Mahasiswa Belajar Metode Cara Ngapak

Peduli Aksara Jawa, Anggota DPRD DIY Syukron Arif Muttaqin Ajak Mahasiswa Belajar Metode Cara Ngapak
Bedah Buku Gampang Eling Cara Ngapak, Teknik Praktis Hafal Aksara Jawa, Rabu (7/6/2023), di Kampus UNU Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA  -- Sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan aksara Jawa, anggota Komisi D DPRD DIY dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Syukron Arif Muttaqin, mendorong anak-anak muda, mahasiswa serta santri agar memiliki tekat untuk belajar baca tulis aksara Jawa.

Ajakan itu dia sampaikan saat menjadi narasumber Bedah Buku Gampang Eling Cara Ngapak, Teknik Praktis Hafal Aksara Jawa, Rabu (7/6/2023), di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

“Kita punya aksara Jawa yang hari ini sudah ditinggalkan. Banyak anak muda yang kurang tertarik karena lebih tertarik aksara Korea dan Jepang,” kata Syukron.

Faktanya, tidak sedikit produk kuliner yang berasal dari luar negeri selalu disertai identitas aksara pada kemasannya, misalnya Thai Tea atau Boba Tea. Sebaliknya pada kemasan produk gudeg, geplak atau wingko tidak disertakan aksara Jawa.

“Ini menjadi keprihatinan kita. Lebih dalam lagi, saat nonton film di Netflix, jika filmnya berasal dari Thailand ada tulisan dengan aksara Thailand, dari Arab ada tulisan Arab, tetapi film Tilik kenapa tidak ada tulisan Jawa. Padahal film itu yang memproduksi Dinas Kebudayaan,” ungkapnya.

Berangkat dari keprihatinan seperti itulah, akhirnya DPRD DIY bersama Pemda DIY mensahkan Perda DIY Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa. Sewaktu pembahasan di tingkat Panitia Khusus (Pansus) DPRD DIY, anggota dewan yang pernah menjadi jurnalis ini duduk sebagai ketua.

Berbekal perda yang akan disusul dengan Peraturan Gubernur (Pergub), menurut Syukron, pihaknya akan terus mendorong tumbuh dan berkembangnya relawan pegiat-pegiat aksara Jawa maupun komunitas bala aksara. Ke depan, dia berharap akan muncul ahli-ahli aksara Jawa.

Disebutkan, metode Cara Ngapak memang sangat efektif, mudah dan simpel. Cukup delapan jam saja dijamin sudah bisa baca tulis aksara Jawa. Bahkan metode tersebut telah mendapatkan penghargaan khusus sebagai kategori Inovasi Terbaik OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) Kemendikbud RI Tahun 2022.

Oleh pencetusnya, Ahmad Fikri AF, metode tersebut dibuat buku berjudul Gampang Eling Cara Ngapak Teknik Praktis Hafal Aksara Jawa. Buah karya dari Inisiator dan Penggerak Kampung Aksara Pacibita itu dibagikan pula kepada peserta kegiatan tersebut.

Buku Gampang Eling Cara Ngapak, Teknik Praktis Hafal Aksara Jawa karya Ahmad Fikri AF. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Rektor UNU Yogyakarta Abdul Ghofar mewakili rektor, Widya Priyahita Pudjibudojo, maupun pembicara lainnya yaitu KH Muhammad Nizam Yahya selaku Ketua RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyyah) PWNU DIY. Pada kursi undangan, tampak salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Ida Fatimah, serta sejumlah kiai.

Dipandu moderator Mohammad Alfuniam yang juga Direktur Kepesantrenan Eksternal UNU Yogyakarta, Ahmad Fikri memaparkan bicara aksara Jawa sebenarnya tidak bisa terlepas dari aksara lokal nusantara yang nasibnya hampir sama.

“Kita harus belajar dari Afrika yang kehilangan aksara dan bahasa lokal karena kolonialisme. Mereka sekarang berbahasa Prancis. Aksaranya pun pakai Latin. Kita juga harus belajar dari bangkitnya aksara lokal di Jepang, Korea, Thailand,” kata Fikri.

Bagi orang Jawa, lanjut dia, dampak dari penggunaan aksara Latin adalah hilangnya penalaran. Ini karena penulisan akasara Latin dipotong per kata.

“Setelah kata adalah spasi. Artinya apa? Penuh interupsi. Akhirnya tradisi politik kita penuh interupsi. Itu karena dari segi bahasa dan tulisan harus dipotong,” kata dia.

Sedangkan aksara Jawa tidak mengenal interupsi, tidak ada titik, koma, tanda seru atau tanda tanya. “Jadi, kalau orang Jawa menulis dengan aksara Jawa dengan maksud bertanya tanpa ada simbol pertanyaan, maka dikembalikan ke rasa masing-masing. Itu yang hilang hari ini karena nalar kita sudah Latin,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Ghofar memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan bedah buku di kampus UNU Yogyakarta. Apresiasi serupa juga disampaikan Muhammad Nizam Yahya. Warga NU masih memiliki komitmen kuat untuk tidak meninggalkan aksara Jawa.

Kepala Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Dewi Ambarwati, saat membuka acara tersebut menyampaikan kegiatan bedah buku kali ini merupakan putaran ke-80.

Ini merupakan salah satu upaya eksekutif bersama DPRD DIY memeratakan literasi sekaligus meningkatkan kegemaran membaca di kalangan masyarakat. (*)