Selasa, 15 Jun 2021,


pandemi-bukan-halangan-untuk-menjadi-kreatif-dan-peduli-sesamaTanah and Friends. (dok.T&F)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Pandemi Bukan Halangan untuk Menjadi Kreatif dan Peduli Sesama

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pandemi membuat seni pertunjukan seperti kehilangan panggung secara langsung. Musisi salah satunya. Banyak dari mereka yang akhirnya menunda, bahkan membatalkan konser on ground yang sejatinya menjadi nyawa sebuah konser. Banyak pekerja seni juga kehilangan pekerjaannya.

Bagi yang peka dengan perubahan, pandemi sebenarnya membuat sebuah peluang lain yang bisa dieksplorasi tanpa habis. Platform berbagi audio dan video terbuka lebar untuk membagikan setiap karya pekerja musik dari seluruh dunia. Joox, Spotify, Dezeer adalah sebagian platform musik digital yang bisa digunakan. Belum lagi YouTube yang khusus mampu memvisualkan setiap karya kreatif berupa video.

Sebuah kelompok musik kreatif, Tanah & Friends, salah satu yang membaca peluang digital ini. Grup musik yang menyuarakan alam, persahabatan, kebersamaan hingga kritikan ini awal dibentuk dari proses belajar musik untuk Tanah Liat, putra dari seniman Ugo Untoro. Tanah yang sejak bangku Sekolah Dasar menggemari perkusi, menyimpan ketertarikan khusus kepada alat musik drum. Ia pun menjadi penggebuk drum dalam grup musik yang bernama Tanah and Friends ini.

Selain Tanah, ada perupa Dodi Irwandi sebagai bassis, Denny Dumbo sebagai gitaris akustik dan vokal, May Mawar lead gitar dan Regita Mayu sebagai vocal dan backing vocal. Band ini mengawali jamming dengan mengcover lagu-lagu musisi tanah air hingga hits mancanegara.

"Tanah sangat menguasai pola rythm dan beat pada musik yang kami mainkan. Sebagai anak berkebutuhan khusus, Tanah sangat istimewa. Tidak ada kesulitan sedikit pun saat membimbingnya," ujar Dodi Irwandi, sang bassis, saat ditemui dalam launching video musik di Museum dan Tanah Liat, Jeblok, Kapanewon Kasihan, Bantul, Selasa (8/6/2021) malam.

"Kami hanya perlu memberikan kode-kode agar Tanah bisa menguasai gebukan drumnya. Kode-kode ini bisa beragam. Misal dari gesture tubuh," lanjut seniman yang aktif di Kelompok Taring Padi ini.

Kepiawaian Tanah bermain drum tidak pernah lepas dari kesabaran sang ibu, Rahayu, dan ayahnya, Ugo Untoro, yang tidak pernah putus untuk membimbing dan mengikuti dalam setiap proses.

"Karena Tanah pula, kami berempat belajar tentang mencintai musik, tentang kekhusukan bermain, khususnya bermain drum yang ternyata harus senang dan bahagia," katanya.

Launching video musik di sebuah Museum seni rupa memang bukan hal yang umum dilakukan. Panitia secara maksimal menjaga agar para pengunjung datang dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Selain keharusan memesan slot kehadiran via daring, panitia juga membatasi jumlah pengunjung. Hand sanitizer dan masker pun disiapkan untuk pengunjung yang tidak datang dengan menggunakan masker standar.

Pada peluncuran video musik yang dikemas dengan segala keterbatasan ini pula, para penonton yang telah mendaftar secara daring bisa memberikan donasi. Selanjutnya, seluruh donasi yang terkumpul akan dibagikan ke salah satu panti asuhan di sekitar Museum dan Tanah Liat.

"Di masa sulit ini, pastinya para penghuni panti lebih merasakannya. Itulah alasan kami menggalang donasi dalam peluncuran video musik ini. Kami juga memohon doa restunya agar kami selalu dalam lingkaran kreatif yang selalu berkembang dengan karya-karya kami," jelas May Mawar selaku lead gitaris Tanah and Friends.

May menambahkan, musik Tanah and Friends (T&F) bersuara tentang banyak hal. Bisa tentang sosial, alam, hingga kritikan. Yang jelas, produk karya T&F akan tidak terpatok dengan satu genre (karakter) saja.

"Tapi sambil belajar dan waktu berjalan, T&F akan terus mencoba berkarya dengan bebas, lepas, liar dan luas dalam menghasilkan wujud karyanya apa pun itu di musik," imbuhnya.

T&F dibentuk setahun lalu, bersamaan dengan pandemi Covid-19 pada 2020. Band ini menawarkan karya-karya original ke publik. Setiap karya yang didasari proses workshop dalam pembuatan lirik ini saling menyumbang teks satu sama lain.

Tak jarang ada pemangkasan dalam teks sampai jadi lirik pada sebuah lagu. Setelah lirik dan lagu jadi, kemudian beranjak pada proses selanjutnya, yaitu mencari chord, rythm, melodi, birama dan lain-lain.

"Kami tidak menentukan tenggat waktu dalam pembuatan sebuah lagu, tapi dalam setiap proses kreatif harus menjadi satu bentuk komposisi musik dan lagu," tutupnya. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini