Selasa, 15 Jun 2021,


kegiatan-ekonomi-jogja-ditopang-oleh-kerumunanPara narasumber diskusi panel Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY. (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Kegiatan Ekonomi Jogja Ditopang oleh Kerumunan

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Sinergi kebijakan antara pusat dengan kabupaten dan kota menjadi kunci dalam menumbuhkan perekonomian DIY.


“Mengapa ekonomi DIY kembali positif, karena kita punya kebijakan implementasi saling mengisi, tidak bertentangan. Biasanya pariwisata dan kesehatan selalu bertentangan, tetapi di DIY dukungan keduanya berjalan dengan baik," kata Kadarmanta Baskara Aji, Sekda DIY,  dalam diskusi panel Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY, Rabu (9/6/2021).

Menurut Baskara Aji, pelaku wisata sangat menjaga protokol kesehatan. “Prokes dijaga, artinya Dinas Pariwisata tidak membabi buta mengizinkan orang datang, [tidak] yang penting bawa duit. Tidak [juga] secara tegas melarang orang datang untuk ke wisata,” katanya.

Diskusi panel diikuti para pelaku UMKM, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah perguruan tinggi, pelaku wisata, pelaku usaha serta sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemda DIY dan kabupaten serta kota, perwakilan DPRD DIY.

Baskara Aji menyebut, perbankan memiliki peran penting memulihkan ekonomi, seperti Bank BPD yang mendapatkan amanah untuk menyebarkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sehingga perbankan punya kontribusi gotong royong untuk menuntaskan terutama UMKM terpuruk.

UMKM dengan usaha sangat terbatas, saat ini tidak ada yang kreditnya macet. Artinya, kata Aji, ada kerja sama antara perbankan dan UMKM. Jika sinergi ini terus dilakukan, bisa membuat DIY tidak begitu terpuruk dan segera cepat bangkit di masa pandemi ini. Aji memastikan kabupaten dan kota di DIY tidak akan membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan apa yang disepakati gubernur.

“Walaupun APBD memberi sumbangan, meski tidak lebih dari 20% dari PDRB DIY, tetapi pelaksanaan APBD yang sinergi, sumbangan di luar APBD itu cukup efektif. Ini yang membuat DIY punya kekuatan karena bersama,” katanya.

Ia menambahkan, penopang ekonomi terkuat pariwisata dan pendidikan, dampaknya besar. Jika Juli 2021 nanti mulai pembelajaran tatap muka, pasti dampaknya akan lebih tinggi lagi. Pendidikan memberikan length of stay sangat tinggi. Dalam setahun bisa sampai 10 bulan mahasiswa tinggal di DIY, sehingga uang yang mengalir sangat banyak.

Oleh karena itu, Aji berharap pertumbuhan ekonomi DIY bisa menembus angka 7% saat proses tatap muka sudah dimulai. Namun sektor pendidikan juga tidak boleh asal membabi buta membuka, namun juga harus melalui prokes yang ketat.

“Saya sepakat prediksi pertumbuhan ekonomi bakal positif. Selain ekonomi tumbuh, harapan kami ketika bisa sampai 7%, gap atau rasio gini bisa ditekan,” ucapnya.

Wakil Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Miyono, menambahkan secara umum kegiatan ekonomi Jogja ditopang oleh kerumunan. Semakin banyak orang, maka makin buka kemungkinan ekonomi Jogja akan tumbuh. Karena sekitar 68% ekonomi DIY didorong dari konsumsi. Ketika konsusmsi tumbuh, ekonomi pasti akan melesat.

“Ini jadi kunci. Pergerakan manusia itu pasti mendorong ekonomi karena orang bergerak, orang butuh energi dan makan. Kalau wisata Jogja misal dibuka, saya yakin ekonomi cepat, cuma ada risiko, sehingga harus hati-hati,” ujarnya.

“Kita bisa mengatasi pandemi dan pemulihan tinggal eksekusi di lapangan. Ini yang perlu ditingkatkan agar korporasi dapat pembiayaan perbankan, sehingga intermediasi perbankan berjalan baik,” tutupnya. (*)







SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini