Pameran Rana Budaya di TBY, Merawat Ingatan Lewat Lensa Fotografi

Kepala TBY, Purwiati, menyebutkan jumlah peserta dan karya yang masuk tahun ini melonjak tajam.

Pameran Rana Budaya di TBY, Merawat Ingatan Lewat Lensa Fotografi
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, mengamati salah satu karya di pameran Rana Budaya di lobi Gedung Militaire Societeit Taman Budaya Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Deretan foto berwarna dan hitam putih berjejer rapi di lobi Gedung Militaire Societeit Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Bukan sekadar gambar, karya-karya itu menjadi jejak visual yang merekam benda-benda keseharian, warisan budaya, hingga kuliner tradisional yang akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Inilah pameran Rana Budaya edisi ketiga yang tahun ini mengusung tema Still Culture. Tema tersebut mengajak publik untuk melihat kembali alam benda, bukan hanya sebagai obyek mati, tetapi sebagai bagian dari budaya yang menyimpan cerita masa lalu sekaligus merawat ingatan kolektif.

“Selaras dengan upaya menghadirkan kekayaan kebudayaan Indonesia, lomba ini terbuka untuk seluruh warga dari semua usia, sebagai ruang berkarya dan berekspresi melalui fotografi,” ujar Bayu Adi Wijaya, Ketua Panitia, saat jumpa pers, Kamis (4/9/2025).

Antusiasme masyarakat begitu terasa. Kepala TBY, Purwiati, menyebutkan jumlah peserta dan karya yang masuk tahun ini melonjak tajam. Tercatat 1.508 karya dari 652 fotografer, meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. “Peningkatan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap Rana Budaya semakin tinggi,” katanya.

Lima terbaik

Dari ribuan karya tersebut, tim juri terdiri Aji Susanto Anom, Beawiharta dan Shofia Utami menyaring lima karya terbaik. Sementara kurator Arsita Pinandita, Budi Yuwono dan Rangga Purbaya memilih 145 foto untuk dipamerkan.

Arsita menilai, karya-karya yang dipamerkan berhasil membawa hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang berarti. “Benda-benda keseharian yang dianggap biasa ternyata punya makna di baliknya, bagaimana ia direpresentasikan dari masa lalu ke masa kini,” ucapnya.

Pameran ini tak hanya menampilkan visual indah tetapi juga membangun ruang interaksi. Selama sepuluh hari, 5-13 September 2025, pengunjung bisa mengikuti berbagai program harian, mulai dari lokakarya fotografi makanan, gelar wicara, lomba foto sehari, hingga diskusi bertajuk Still Culture. Semua program terbuka untuk umum dan gratis.

Bagi Shofia Utami, salah seorang juri, tantangan terbesar justru datang dari banyaknya karya yang masuk. “Ada sekitar 1.500 karya, tapi pemenangnya hanya lima. Jadi kesesuaian dengan tema menjadi patokan utama,” jelasnya.

Cara unik

Meski begitu, dia merasa setiap karya punya cara unik dalam merepresentasikan budaya.

Dengan rangkaian programnya, Rana Budaya #3 tidak hanya memamerkan foto, tetapi juga merangkul publik untuk ikut serta merawat budaya melalui lensa. Sebuah cara sederhana, namun berarti, untuk menjaga cerita dan identitas bangsa tetap hidup di masa kini. (*)