Pameran Karya Restu Ratnaningtyas di Langgeng Art Space, Ketika Tubuh Bernegosiasi dengan Mesin
Seniman kelahiran 1970 ini memulai pameran dari sesuatu yang sangat personal.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di sudut galeri Ace House, Langgeng Art Space Jalan Suryodiningratan No 37 Yogyakarta, sebuah karya seni berbentuk potongan tangan terjahit oleh benang. Potongan wajah terperangkap dalam kotak. Kain robek dijahit kembali dengan kasar, seolah sedang berteriak dalam diam. Pemandangan ini menyambut pengunjung pameran Broken White Project #29 24/7 Bodies yang berlangsung hingga 17 Oktober mendatang.
Restu Ratnaningtyas, seniman kelahiran 1970 ini memulai pameran dari sesuatu yang sangat personal: penuaan. "Belakangan aku merasa produktivitas agak berkurang karena bertambahnya usia. Penglihatan semakin menurun," ungkapnya kepada wartawan di sela pembukaan pameran, Jumat (12/9/2025).
Namun apa yang dimulai sebagai refleksi personal berubah menjadi cermin kolektif tentang kondisi semua orang. Pameran ini menampilkan delapan karya dengan medium yang beragam meliputi keramik, instalasi tekstil, cat air dan cat minyak.
Pilihan medium bukan tanpa alasan. "Kalau kain, karena ngomongin produktivitas seringkali tekstil dihubungkan dengan buruh perempuan. Kalau keramik, itu juga kriya, yang sebenarnya juga kerja," jelas Restu.
Bukan pajangan
Yang menarik, beberapa karya keramiknya bukan sekadar pajangan. Ada yang berbentuk kait, ada yang jadi device suara, bahkan ada yang menjadi wadah ikan. Fungsi-fungsi ini sengaja dihadirkan untuk mempertanyakan batas antara seni dan kegunaan, antara estetika dan produktivitas.
Semua karya membuatnya terkesan, salah satunya adalah karya dari medium keramik yang menghasilkan suara. Lapisan suara ini menambah dimensi sensori yang memperdalam pengalaman tubuh yang terus bernegosiasi dengan waktu, usia, memori, serta tuntutan produktivitas. "Ada kepuasan sendiri ketika bisa menghadirkan suara dalam karya itu," katanya.
Selama ini, karya-karya Restu sering dibaca dalam konteks domestik karena penggunaan medium tekstil dan keramik. Namun dia ingin melampaui pembacaan tersebut. "Menurutku ini bisa dilebarkan ke konteks sosial yang lebih luas, misalnya masyarakat, internet dan sosial media," tegasnya.
Kain, misalnya, bisa dibaca sebagai matrix dengan jalinan-jalinan yang menyerupai data. Inilah yang membuatnya terus bereksplorasi dengan berbagai medium. "Jadi relate kalau mau ngomongin sosial media atau networking, karena prosesku memang nggak linier," kata Restu.
Lebih besar
Arham Rahman selaku kurator pameran melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar narasi penuaan. "Karya-karya ini sangat posthuman. Bentuk-bentuk figurnya tidak lengkap, seperti manusia tapi mirip dengan hewan atau mesin," jelasnya.
Inilah yang menggeser fokus pameran dari tema aging ke posthumanism -- sebuah kondisi di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur. Pertanyaan yang diajukan pameran ini bukanlah sekadar retoris. Di era algoritma dan kapitalisme digital, tubuh kita memang telah berevolusi dan berubah bentuk tanpa kita sadari.
Dalam era yang disebut Arham sebagai "ritme 24/7" -- kerja, komunikasi dan konsumsi yang berlangsung terus-menerus tanpa jeda -- tubuh manusia dipaksa menyesuaikan diri dengan tempo mesin yang dingin dan terukur. "Bahkan di saat tidur sekalipun, kita masih terjaring dalam mesin produktivitas," tambahnya.
Melalui fragmen-fragmen tubuh yang disajikan berupa tangan terjahit, wajah terkotak, kain robek yang dijahit kasar, Restu mengajak untuk bertanya apakah tubuh masih benar-benar milik kita, ataukah telah dijahit secara permanen ke dalam ritme 24/7 yang perlahan menghapus batas antara manusia dan mesin? (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
