MPLS Sekolah Rakyat Lebih Lama, Dua Bulan Belum Boleh Dijenguk Keluarga

Hingga saat ini masih banyak yang bertanya terkait dengan kuota ataupun keinginan masuk.

MPLS Sekolah Rakyat Lebih Lama, Dua Bulan Belum Boleh Dijenguk Keluarga
Suasana Sekolah Rakyat jenjang SMA di DIY di Jalan Kesejahteraan Sosial Sonosewu Kalurahan Ngestiharjo Kapanewon Kasihan Kabupaten Bantul. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Memasuki komplek Sekolah Rakyat jenjang SMA DIY di Jalan Kesejahteraan Sosial Sonosewu Kalurahan Ngestiharjo Kapanewon Kasihan Kabupaten Bantul, Kamis (17/7/2025) sore, terlihat suasana tenang.

Anak-anak yang merupakan siswa Sekolah Rakyat angkatan pertama Tahun Ajaran 2025/2026 tampak melakukan berbagai aktivitas pembelajaran. Ada yang beraktivitas di halaman, seputar gedung kelas maupun asrama.

"Mereka memang sedang adaptasi dan penyesuaian hidup di lingkungan asrama. Pada awal masuk, mereka selama dua bulan belum boleh dijenguk pihak keluarga," kata Agus Ristanto MPd, Kepala Sekolah Rakyat DIY jenjang SMA, kepada koranbernas.id di lokasi.

Menurut dia, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS waktunya lebih panjang dibandingkan sekolah umum. Di Sekolah Rakyat, MPLS dijadwalkan selama dua minggu.

Kepala Sekolah Rakyat jenjang SMA di DIY, Agus Ristanto. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

Para siswa juga memperoleh pembekalan dari TNI tentang bela negara, kedisiplinan maupun kehidupan di asrama. Sedangkan Dinas Sosial memberikan pembekalan mengenai mitigasi dan tangguh bencana.

Pada angkatan pertama ini, menurut Agus, jumlah siswa sesuai kuota yaitu 200 anak yang berasal dari keluarga miskin maupun miskin ekstrem di seluruh DIY. Terdiri 87 siswa laki-laki dan selebihnya perempuan.

Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan yang digagas oleh pemerintah Indonesia untuk menyediakan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Tujuan program ini untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Sekolah Rakyat juga dikenal sebagai sekolah berasrama yang menyediakan fasilitas lengkap dan kebutuhan dasar siswa tanpa biaya.

Bersih dan asri

Mereka yang diterima di sekolah ini berhak atas biaya pendidikan gratis serta biaya makan dan tempat tinggal. Lokasi Sekolah Rakyat berdasarkan pantauan koranbernas.id terlihat bersih dan asri dengan pepohonan besar nan rindang. Bangunan dicat dominan putih juga masih baru. Alat pendingin ruangan tampak terpasang pada beberapa tempat.

"Minat masuk ke Sekolah Rakyat tinggi. Hingga saat ini masih banyak yang bertanya terkait dengan kuota ataupun keinginan masuk. Namun semuanya tergantung dari kebijakan pemerintah karena memang kuota kita 200 orang. Mudah-mudahan mereka betah dan bisa melaksanakan kegiatan pendidikan sebaik-baiknya untuk masa depan mereka," kata Agus yang sore kemarin masih menerima tamu yang bertanya kuota dan syarat masuk Sekolah Rakyat.

Segala kegiatan siswa sejak bangun tidur hingga tidur lagi telah diatur dan terjadwal. Kegiatan belajar mengajar menjadi tanggung jawab guru. Sedangkan kegiatan di luar pembelajaran atau kegiatan asrama menjadi tanggung jawab wali asrama.

Salah seorang guru SMPN 2 Bantul, Umi Kulsum M Pd, mendukung program tersebut. Sekolah Rakyat memberikan kesempatan bagi mereka yang memang tidak mampu untuk mengenyam pendidikan berkualitas dengan fasilitas lengkap serta gratis.

Memang layak

Salah seorang siswa dari SMP Negeri 2 Bantul, Muhammad Satrio Yusuf, yang lulus tahun ini juga masuk Sekolah Rakyat. Menurut Umi, siswa itu memang layak dan memenuhi syarat untuk mendapatkannya.

"Kita melihat gedungnya juga representatif ditambah dengan penunjang fasilitas pembelajaran lengkap. Semuanya didapat secara gratis oleh siswa yang memang membutuhkan. Menurut saya program sekolah rakyat ini sangat bagus dan ini menjadi salah satu jembatan bagi mereka yang tidak mampu untuk meraih masa depannya," katanya. (*)