atas1

Mereka Setia Menjaga Resep Asli Kue Kranjang

Kamis, 23 Jan 2020 | 17:25:41 WIB, Dilihat 417 Kali
Penulis : Arie Giyarto
Redaktur

SHARE


Mereka Setia Menjaga Resep Asli Kue Kranjang Sianiwati dan kakaknya, Sulistyowati, di latar belakang. Penerus usaha membuat kue kranjang di Jalan Tukangan 43 Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Penyakit Degeneratif Cukup Menonjol di Kalangan TNI


KORANBERNAS.ID, JOGJA -- Kue kranjang identik dengan Imlek, tahun baru yang dirayakan saudara-saudara kita etnis Tionghoa. Kue itu memang hanya diproduksi setahun sekali menjelang Imlek.

Di Jogja ada kakak beradik, Sianiwati (71), dan kakaknya, Sulistyowati (74), yang masih setia pada usaha membuat kue kranjang. Keterampilannya diwarisi dari orangtuanya, Siauw Boen Tjiauw. Di Jalan Tukangan nomer 43 itulah sejak kecil mereka membantu sekaligus belajar proses produksi sampai pemasarannya.

Kue kranjang berlabel Naga dan Lampion ini sesuai resep aslinya terbuat dari tepung beras ketan dan gula pasir. Diuleni kemudian "dijantoni" untuk kemudian dimasukkan dalam cetakan dan dikukus. Warnanya coklat tanpa pewarna. Banyak orang mengira warna coklatnya dari gula jawa. Meski di pasaran beredar kue kranjang warna-warni, mereka tidak bergeming dari resep leluhurnya.

"Sudah lama kok kue kranjang warna warni ini. Tergantung selera pembelinya milih yang coklat atau yang warna-warni," kata Sulistyanto, penjual aneka jajanan di Pasar Pathuk bersama istrinya menjawab pertanyaan Koranbernas.id, Kamis (23/1-2020).

Namun bagi Sulistyowati, kue keranjang warna warni sangat mencolok itu bukan kue keranjang, tetapi sekadar dodol.

Agak sepi

Tahun Baru Imlek kali ini, menurut Sianiwati dan Sulistyowati, agak sepi. Ukurannya adalah pesanan yang masuk padanya. Atau retur dari pedagang yang dititipi, baik di pasar maupun toko-toko. Bukan karena minat untuk merayakan Imlek makin tergerus, tetapi ada kaitannya dengan faktor ekonomi.

"Tradisi membagikan kue kranjang pada teman, tetangga dan saudara masih tetap ada, tetapi tidak sebanyak dulu," kata Sianiwati.

Kawasan Pecinan seperti Ketandan dan Pajeksan masih banyak yang pesan. Baik bijian, tapi kebanyakan kiloan, karena jatuhnya lebih murah. Satu kilogram harganya Rp 40.000. Pesanan dari para pelanggan juga diterima oleh Sulistyanto. Termasuk kue ku yang warnanya merah menyala, dan kue mangkok sebagai kelengkapan sesaji.

Untuk keperluan sesaji leluhur, bagi Tionghoa beragama Budha, biasanya menggunakan kue kranjang bertumpuk 3, 5 atau 7. Selalu ganjil. Harganya masing-masing Rp 80.000, Rp 250.000 dan Rp 350.000. Bentuknya bertumpuk seperti candi. Meski harganya mahal, tetap banyak yang pesan.

“Itu kepercayaan. Untuk leluhur tidak ada kata mahal," kata Sianiwati.

Untuk menangani proses produksi dari awal sampai labeling dan pengepakan, mereka dibantu delapan tenaga pria dan wanita. Mereka merupakan tenaga kerja musiman. Sekitar 20 hari atau lebih tergantung situasi pesanan, mereka kembali ke Semanu Gunungkidul, bekerja di sektor pertanian.

Tahan lama

Kue kranjang bisa tahan lama. Dibiarkan begitu saja bisa tahan sebulan. Apalagi Sianiwati mengklaim kue kranjang olahannya memang tanak atau matang betul. Terlebih kalau dimasukkan kulkas, bisa tahan setahun. Kerasnya seperti batu. Kalau ingin dimakan, dikukus dulu.

Kue kranjang bisa dimakan begitu saja. Tapi yang masih agak lembek bisa dicampur dengan kelapa muda parut. Atau yang sudah agak keras digoreng dengan telur dan sedikit tepung.

Disebut kue kranjang, menurut Sulistyowati, karena dahulu kala membuatnya dengan keranjang kecil. "Tapi saya membuat sudah dengan plastik seperti ini," katanya.

Di rumahnya, produksi terus berjalan meski Imlek tinggal dua hari lagi. Memenuhi pesanan pelanggan, baik perorangan maupun toko. Usai Imlek berarti selesai sudah kesibukan di rumahnya. Pekerja kembali ke Semanu. Kakak beradik itu kembali bekerja membuat kue mangkok dan bak cang. Tapi hanya atas dasar pesanan, untuk menghidupi diri sendiri.

Kalau Imlek berlalu dan kue kranjang masih ada? "Ya itu risiko bisnis. Syukur kalau masih ada yang membeli," kata Siani.

Selebihnya, dibagikan pada tukang-tukang becak, tetangga atau masyarakat yang membutuhkan.

Bagi warga Budha, hari Jumat (24/1/2020) akan melakukan sesaji leluhur. Baik di Klenteng Gondomanan, Poncowinatan maupun di rumah-rumah tetua. Keluarga berkumpul, melakukan sembahyangan, pesta dengan hidangan enak-enak, aneka jajanan dan buah-buahan. Serta tidak ketinggalan membagikan Angpao.

Saat ini mereka terus berdoa agar hujan turun deras karena kata leluhur mereka, itu pertanda rezeki akan melimpah. Gong Xi Fa Cai. (eru)



Kamis, 23 Jan 2020, 17:25:41 WIB Oleh : Redaktur 1974 View
Penyakit Degeneratif Cukup Menonjol di Kalangan TNI
Kamis, 23 Jan 2020, 17:25:41 WIB Oleh : warjono 194 View
Sebulan, GGP Serap Seribuan Nomor Undian
Kamis, 23 Jan 2020, 17:25:41 WIB Oleh : warjono 592 View
Pertama Kalinya, Warga Caturtunggal Usung Sosok Perempuan

Tuliskan Komentar