Menikmati Suasana Pasar Putjuk Nggunung Ruang Kreatif yang Penuh Spontanitas
Tanpa sponsor besar, tanpa proposal panjang. Tak ada banner komersial, tak ada jargon marketing. Yang ada hanyalah ruang penuh apresiasi karya yang jujur.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Sore itu, gang-gang kecil di antara perumahan puncak Gunung Sempu Bantul berubah wajah. Deretan meja kayu, aroma kopi yang mengepul, alunan musik klasik rock dari pengeras suara dan tawa pengunjung menikmati suasana yang terasa hangat.
Tak ada banner komersial, tak ada jargon marketing. Yang ada hanyalah ruang penuh apresiasi karya yang jujur. Inilah Pasar Putjuk Nggunung, sebuah pasar kreatif yang lahir dari spontanitas dan rasa saling menghargai.
“Awalnya sebenarnya kita nggak ada maksud bikin acara ini,” ujar Cosmas Dwi Arta Kurniawan, salah seorang inisiator sekaligus pemilik rumah yang kini menjadi panggung acara kepada koranbernas.id, Sabtu (23/8/2025).
“Cuma ingin menghargai karya teman-teman sendiri. Dari situ ternyata berkembang jadi tradisi tahunan," tambahnya.
Karya orisinal
Berbeda dari kebanyakan pasar kreatif, Pasar Putjuk Nggunung punya prinsip unik: ora kulakan. Artinya, setiap tenant hanya boleh menjual karya orisinal, bukan barang yang diproduksi massal atau dibeli di pasar. Makanan, kerajinan, bahkan dekorasi pun dianggap sebagai karya yang layak diapresiasi.
“Kami nggak mikir jualan laku atau nggak. Yang penting bisa mengekspresikan karya. Kalau ada yang membeli itu bonus, tapi tujuan utama kami adalah apresiasi,"kata Wawan.
Di sini, transaksi bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah pertemuan, obrolan hangat, dan rasa sefrekuensi di antara pengunjung maupun pelaku.
Panggung musik pun disiapkan untuk siapa saja yang ingin berekspresi, selain bisa menampilkan format band dan disc jockey, panggung ini juga bisa untuk berkaraoke dengan membayar Rp 3.000.
Beralih fungsi
Lokasi pasar ini menyimpan sejarah. Dulu, perumahan Sempu dikenal sebagai kawasan industri kecil berupa kerajinan kulit, tekstil, kayu hingga logam. Namun seiring waktu, banyak rumah beralih fungsi menjadi bengkel, kafe, studio musik, hingga ruang seni.
“Sekarang sudah generasi kedua yang tinggal di sini. Karakternya berubah, jadi lebih beragam profesinya. Itulah yang bikin pasar ini hidup karena orang-orangnya memang punya energi berbeda," kata dia.
Menariknya, pasar ini tidak pernah membuka open tenant secara umum. Semua peserta adalah bagian dari lingkaran pertemanan. Mereka datang membawa kawan baru, dan lingkaran itu terus melebar dari tahun ke tahun.
Setiap edisi Pasar Putjuk Nggunung selalu mengusung tema berbeda. Tahun pertama tanpa tema khusus, tahun kedua bergaya 70-an dan tahun ketiga mengangkat nuansa classic rock.
Butuh katarsis
“Kadang kita butuh katarsis. Butuh ruang untuk meluapkan emosi lewat penampilan, musik, atau karya. Generasi sekarang juga relate dengan yang klasik, karena itu semacam pelarian dari kehidupan modern yang penuh tekanan," lanjutnya.
Kini, Pasar Putjuk Nggunung tak sekadar tempat berjualan. Ada panggung musik untuk teman-teman musisi, mini galeri seni rupa, hingga sudut-sudut kreatif yang terbuka bagi berbagai bentuk ekspresi. “Semua karya teman-teman sebisa mungkin kita akomodasi di sini,” kata dia.
Nilai lingkungan pun dijaga. Pengunjung dianjurkan membawa wadah sendiri atau siap mencuci dan mengembalikan wadah yang digunakan bersama. Hal kecil yang mencerminkan kesadaran berbagi.
Dari sekadar pertemuan kecil teman, kini Pasar Putjuk Nggunung punya sekitar 36 tenant, bahkan pernah mencapai lebih dari 40. Media ikut meliput, pengunjung datang dari berbagai kota. Namun esensi acara ini tetap sama: ruang sederhana untuk menghargai karya dan merayakan kebersamaan.
Pasar berjiwa
“Lingkaran itu ternyata bisa dibuka selebar-lebarnya,” kata Kosmas.
“Setiap orang yang datang bawa teman dan begitu terus. Yang penting, semua ada di frekuensi yang sama.”
Pasar Putjuk Nggunung membuktikan bahwa sebuah acara tak perlu lahir dari rencana besar atau modal besar untuk menjadi bermakna. Dengan rasa saling menghargai, semangat bersenang-senang, dan keberanian untuk tetap orisinal, sebuah gang kecil bisa menjelma jadi pasar berjiwa.
Sementara itu Adrian Tomasca selaku Ketua Panitia Pasar Putjuk Nggunung 3 mengungkap hal yang paling mengejutkan, acara yang kini diikuti puluhan tenant ini dulu hanya dipersiapkan dalam waktu dua minggu. Spontan, tanpa sponsor besar, tanpa proposal panjang.
Senang-senang
“Pasar Putjuk Nggunung 1 dan 2 itu cuma dua minggu persiapan. Baru tahun ketiga ini agak panjang, satu sampai dua bulan. Tapi ruhnya tetap sama: spontan dan senang-senang," jelasnya.
Meski beberapa orang bertanya mengapa tidak menambah durasi, Tomas merasa satu hari sudah cukup. "Energinya memang untuk sehari. Dari awal memang niatnya fun, bukan mengejar target," tambahnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
