Maskot Porda dan Peparda DIY 2027 Diluncurkan

Langkah awal kesiapan Kulonprogo sebagai tuan rumah.

Maskot Porda dan Peparda DIY 2027 Diluncurkan
Peluncuran Maskot Porda DIY XVIII dan Peparda DIY V 2027, berupa Branjangan Srikayangan. (anung marganto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- Pemerintah Kabupaten Kulonprogo bersama KONI dan NPCI setempat resmi meluncurkan maskot, logo dan jingle Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIY XVIII 2027 serta Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) DIY V 2027. Peluncuran tersebut digelar di Taman Budaya Kulonprogo, Selasa (7/4/2026).

Ketua KONI Kulonprogo, Hamam Mutaqim, menyampaikan peluncuran ini menjadi langkah awal kesiapan Kulonprogo sebagai tuan rumah. “Ini bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari proses panjang menuju penyelenggaraan Porda dan Peparda yang sukses,” ujarnya.

Maskot yang dipilih bernama “Bravo”, terinspirasi dari burung Branjangan, fauna khas Kulonprogo yang banyak dijumpai di wilayah Srikayangan Sentolo. Nama Bravo merupakan akronim dari Branjangan Victory Kulonprogo.

Hamam menjelaskan, filosofi Branjangan mencerminkan karakter pejuang tangguh, lincah dan mampu bertahan dalam kondisi ekstrem yang dinilai sejalan dengan semangat olahraga.

Semangat kolektif

Wakil Ketua Umum I KONI DIY, Prof Rumpis Agus Sudarko, yang hadir mewakili Ketua KONI DIY menyatakan pentingnya identitas visual dalam membangun semangat kolektif. “Maskot, logo, dan jingle ini menjadi identitas sekaligus penggerak partisipasi masyarakat dalam mensukseskan Porda dan Peparda,” katanya.

Bupati Kulonprogo, R Agung Setyawan, menyatakan pemerintah daerah memilih pendekatan efisiensi. Fokusnya pada revitalisasi fasilitas olahraga yang telah ada, bukan pembangunan baru.

Beberapa fasilitas yang akan dibenahi antara lain GOR di Wates dan Cangkring, Stadion Cangkring serta lintasan atletik. “Kami tidak ingin anggaran untuk Porda mengganggu kebutuhan infrastruktur masyarakat. Karena itu, yang ada kita optimalkan melalui renovasi,” ujarnya.

Menurutnya, langkah ini menunjukkan arah kebijakan yang lebih realistis, dengan memaksimalkan aset daerah. (*)