Marsmolys Tampil di Saemen Fest 2025

Bermain tanpa barikade di Imba Space adalah sebuah privilese.

Marsmolys Tampil di Saemen Fest 2025
Penampilan Marsmolys di panggung Imba Space Saemen Fest 2025 di Mandala Krida Yogyakarta. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah riuhnya penampilan band-band di Saemen Fest 2025, trio rock psikedelik Marsmolys justru menemukan panggung magisnya sendiri.

Tampil di Imba Space, area eksperimental hasil kolaborasi dengan Simak Siar, band yang digawangi oleh Antino Restu (gitar, vokal), Yoga Bhakti (gitar), Ferdy Listant (bass) dan Fahrenno Asnawan (drum) ini membuktikan energi rock tidak selalu butuh panggung raksasa.

Bagi Marsmolys, bermain tanpa barikade di Imba Space adalah sebuah privilese. Hal ini diakui langsung oleh sang vokalis, Tino, saat diwawancarai seusai mereka naik panggung.

"Untuk bentuk panggung yang tanpa barikade, kami sangat senang karena bisa berinteraksi langsung dengan penonton yang datang," ujar Tino usai penampilan Marsmolys di Saemen Fest 2025, Minggu (14/12/2025), di Mandala Krida Yogyakarta. "Rasanya sangat intim dan bisa dikatakan heart to heart dalam menyampaikan musik kami," tambahnya.

Strategi panggung

Merespons kedekatan jarak dengan penonton, Tino membocorkan bahwa mereka merombak total strategi panggung hari ini. Jika biasanya Marsmolys dikenal dengan build-up atmosferik yang pelan, kali ini mereka memilih pendekatan frontal. "Persiapan khusus pasti ada, kami bongkar pasang setlist," jelasnya.

"Khusus di Imba Space, kami ingin mencoba lagu pertama langsung berisik dan raw, tanpa build-up musik dulu. Lalu diakhiri dengan Cosmic Still yang responsif, mendayu, tapi chaos pada bagian belakangnya," katanya.

Saemen Fest tahun ini terasa spesial karena menjadi ajang kumpul keluarga bagi skena musik Jogja. Ada nama-nama besar seperti Jenny, The Kick, hingga Melancholic Bitch (Majelis Lidah Berduri).

Posisi ini diakui Yudha (bass) sempat membuat mereka sedikit gentar. "Jujur, cukup gugup main di Saemen tahun ini, lineup-nya 'mengerikan' semua," kata Yoga sambil tertawa.

Konsep kolaborasi

"Tapi kami berusaha tetap menjadi diri sendiri, biar apa yang ingin diutarakan Molys lewat lagu-lagu kami tetap sampai. Ke depannya, konsep kolaborasi ekosistem Jogja seperti ini harus lebih digalakkan lagi," tegasnya.

Tahun 2025 menjadi tahun produktif bagi Marsmolys lewat rilisnya album kedua, The Progeny of Holy Moly. Menurutnya, album ini terdengar lebih gelap dan psikedelik dibanding debut mereka, Verticalysm, bukan tanpa alasan.

"Pemicu utamanya lebih ke eksplorasi sonikal. Kalau Verticalysm itu call and response, album kedua ini aransemennya lebih 'pasti' dan 'paten'," jelasnya.

Dia menambahkan secara lirik album ini adalah buah dari "kegelisahan kolektif" para personel. Meski liriknya sarat makna dan berbahasa Inggris, Marsmolys percaya pada bahasa universal kebisingan. "Kami ingin apa yang kami rasakan tersampaikan tanpa pendengar harus paham liriknya, tapi bisa merasakan energi meledak-ledak yang sama," tambahnya.

Album baru

Ferdy (basis) Marsmolys memberikan kabar gembira bagi para penggemarnya. Tidak ingin beristirahat lama setelah festival ini, mereka sudah menyusun rencana besar.

"Kami sedang merencanakan tur untuk album baru di awal tahun 2026," ungkapnya antusias.

"Sekaligus, kami juga sudah mempersiapkan album baru lagi di tahun 2026," katanya.

Pernyataan ini menegaskan gaung Marsmolys seperti judul lagu mereka Echoes of The Void akan terus terdengar bising dan relevan. (*)