Marsha Widodo Ajak Anak Muda Rutin Mengunjungi Museum
Banyak anak muda datang ke museum hanya karena tugas sekolah, bukan karena dorongan pribadi.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bagi Marsha Widodo, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama di balik kaca. Di mata siswi Jakarta Intercultural School (JIS) itu, museum adalah ruang hidup sebagai tempat bermain, bertanya dan menemukan makna.
Kecintaannya pada museum tumbuh dari pengalaman pribadinya berkeliling ke berbagai negara bersama keluarga. Dari Museum of Modern Art (MoMA) di New York hingga National Gallery of Victoria di Melbourne, ia menemukan satu kesamaan yang melekat di benaknya, museum-museum di luar negeri berhasil membuat pengunjung muda merasa menjadi bagian dari cerita yang mereka lihat.
“Setiap museum di luar negeri punya cara unik mengajak kita ‘masuk’ ke dalam sejarah,” ujar Marsha dalam diskusi Museum untuk Generasi Z: Dari Ruang Pamer ke Ruang Main di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Senin (13/10/2025).
Di sejumlah negara, menurutnya, pengunjung bisa menyentuh replika benda, menonton video interaktif, atau ikut permainan edukatif yang membuat pameran terasa hidup. Rasanya seperti ikut berpetualang dalam waktu, bukan sekadar menatap benda tua.
Terasa kaku
Marsha mengakui, pengalaman itu membuatnya banyak membandingkan dengan kondisi museum di Indonesia. Di dalam negeri, museum sering kali masih terasa kaku dan berjarak. “Kita masuk ke ruang yang sunyi, penuh benda di balik kaca, lalu keluar tanpa benar-benar merasa terhubung,” katanya.
Menurutnya, suasana itu membuat banyak anak muda datang ke museum hanya karena tugas sekolah, bukan karena dorongan pribadi. Ia membandingkan kebiasaan di berbagai negara yang lebih maju dalam budaya museum.
“Di Amerika, sekitar 50–70 persen anak muda rutin mengunjungi museum setiap tahun. Di Australia, remaja datang ke museum karena keinginan sendiri. Tapi di Indonesia, datanya masih sekitar 53 persen— dan itu pun rata-rata hanya sekali dalam setahun,” katanya.
Dari pengalaman keliling dunia itulah Marsha kemudian merumuskan gagasan sederhana: museum harus menjadi ruang main, bukan hanya ruang pamer. “Play atau bermain bukan berarti main-main. Bermain di museum artinya terlibat, mengalami, dan menemukan makna dengan cara yang menyenangkan,” ungkapnya.
Tempat foto
Dia mengajak generasi muda untuk melihat museum sebagai tempat menemukan diri sendiri, bukan sekadar menghafal sejarah. Sebab museum seharusnya tidak hanya ‘dilihat’, tapi juga ‘dihidupi’. Bukan cuma tempat foto untuk Instagram atau TikTok.
Marsha menegaskan, media sosial justru bisa menjadi jembatan baru antara museum dan generasi muda. “Tidak salah kalau kita ingin mengunggah foto saat berkunjung. Tapi yang penting adalah apa yang kita bagikan di balik unggahan itu pengetahuan, cerita dan makna,” katanya.
Marsha membagikan empat langkah sederhana agar generasi muda lebih akrab dengan museum. Tempat itu mestinya ruang belajar di luar kurikulum. “Gunakan kesempatan berkunjung untuk menanyakan hal-hal yang tidak ada di buku teks,” ujarnya.
Saat mengunggah foto museum ke media sosial, pengunjung bisa menambahkan cerita di balik artefak itu. “Kita bisa menjadi penyebar pengetahuan, bukan sekadar penampil. Apalagi sekolah sering menekankan hafalan. Padahal museum justru memberi ruang bagi keingintahuan tanpa tekanan,” katanya.
Lebih bermakna
Terakhir, bermain berarti mengalami. “Saat ikut permainan edukatif atau menonton video interaktif, coba tanya diri sendiri, apa yang sebenarnya ingin disampaikan benda ini? Dari situ pengalamanmu jadi lebih bermakna,” ungkapnya.
Sementara Kepala Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, menegaskan bahwa museum kini tidak lagi cukup menjadi ruang pamer yang sunyi. “Museum bukan lagi sekadar ruang pamer. Kami ingin menjadikannya ruang main yang edukatif, tempat anak muda bisa mengenal sejarah dan budaya dengan cara yang menyenangkan,” ungkapnya.
Sonobudoyo, lanjutnya, kini berupaya menjalankan lima fungsi utama museum. Tak hanya mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan namun juga memamerkan dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan relevan dengan zaman.
“Generasi muda ingin merasakan, bukan sekadar melihat. Kalau mereka bisa menemukan cerita dirinya di museum, di situlah museum menjadi relevan,” tandasnya.
Masa kini
Kurator dan peneliti seni, Ignatia Nilu, menilai perubahan paradigma ini penting untuk menjembatani museum dengan publik muda. Museum perlu menghadirkan pendekatan yang lebih membumi di mana sejarah dan kebudayaan tidak terasa jauh dari kehidupan masa kini.
“Sejak kecil, kita sering datang ke museum karena tugas sekolah. Akibatnya, museum terasa seperti ruang formal yang menegangkan. Padahal museum seharusnya tempat membangun pengalaman personal dan reflektif,” ujarnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
