Kiai Peduli Sampah, LDII DIY Ubah Limbah Menjadi Amal Jariyah

Salah satu aksi konkret adalah gerakan Jugangan Ing Omah (Jugangin Om) dan Jugangan Ing Masjid (Jugangin Mas).

Kiai Peduli Sampah, LDII DIY Ubah Limbah Menjadi Amal Jariyah
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, memberikan keterangan pers terkait program Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bagi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY, ibadah kini tidak hanya berhenti di atas sajadah, tetapi juga merambah hingga ke tempat sampah. Melalui gerakan "Kiai Peduli Sampah", organisasi ini mengajak masyarakat Yogyakarta mengubah limbah rumah tangga menjadi amal jariyah sekaligus pilar pembangunan berkelanjutan yang nyata.

"Gerakan ini menekankan, sampah bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan peluang sedekah," ujar Ir Atus Syahbudin, Ketua DPW LDII DIY, kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).

Melalui program Sedekah Sampah Akbar dan Sampah Jadi Jariyah, warga diedukasi untuk mengelola limbah sejak dari rumah, masjid hingga majelis taklim. Salah satu aksi konkret yang dilakukan lanjut Atus adalah gerakan Jugangan Ing Omah (Jugangin Om) dan Jugangan Ing Masjid (Jugangin Mas).

Dengan membuat lubang kompos mandiri, masyarakat diajak mengolah sampah organik menjadi pupuk sekaligus menjaga daya serap air tanah.  Langkah sederhana ini terbukti efektif mengurangi beban tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kampung berprestasi 

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan lingkungan ini juga terlihat dari prestasi di lapangan yaitu Kampung Sangurejo Sleman yang kini tengah dipersiapkan menuju kategori ProKlim Lestari Nasional 2026.

Selain itu Padukuhan Kembang Kulonprogo juga telah meraih Sertifikat ProKlim Utama 2025. Inovasi Budidaya Lele di Gunungkidul. Warga PAC LDII Bejiharjo berhasil mengembangkan lele tanpa bau amis menggunakan formula pakan "Ramuan Barokah 354" berbahan empon-empon.

Di balik aksi lingkungan tersebut, terdapat fondasi 29 Karakter Luhur yang ditanamkan melalui jalur pendidikan, mulai dari TPA hingga pondok pesantren. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah dan rukun dikolaborasikan dengan budaya khas Yogyakarta seperti andhap asor dan gotong royong. "Kami berupaya mencetak generasi profesional religius yang memiliki integritas, disiplin, dan kepedulian sosial," ungkapnya.

Sektor ekonomi pun digarap dengan prinsip serupa. Melalui Usaha Bersama (UB), KSPPS Bupelur, dan jaringan BMT, LDII DIY mendorong kemandirian ekonomi umat berbasis syariah yang transparan dan jujur, sesuai dengan etos kerja masyarakat lokal.

Riset dan media

Program-program ini diperkuat oleh sentuhan ilmiah dari H Agus Kurniawan S Hut M Sc selaku Ketua Biro LISDAL LDII DIY yang juga peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sinergi dengan instansi pemerintah seperti DLHK DIY terus dilakukan untuk memastikan program lingkungan memiliki dampak yang terukur.

Dalam pertemuan silaturahmi dengan insan pers di Gedung Serba Guna Mantrijeron Yogyakarta, Atus Syahbudin berharap media massa dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarkan praktik-praktik baik ini.

Hubungan yang harmonis dengan pers diyakini mampu memberikan informasi yang menyejukkan sekaligus konstruktif bagi pembangunan Yogyakarta ke depan. (*)