Manfaatkan Limbah, Hamesha Studio Sukses Ekspor Produk Kreatif ke Eropa
Sejumlah pembeli dari Belanda, Jerman, Jepang hingga Singapura rutin memesan produk Hamesha.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah isu global tentang krisis lingkungan dan pentingnya ekonomi berkelanjutan, sebuah studio kreatif asal Yogyakarta justru melihat peluang besar dari hal yang kerap dianggap sepele: limbah. Hamesha Studio, yang berdiri sejak beberapa tahun lalu, kini sukses mengolah limbah menjadi produk bernilai tinggi hingga mampu menembus pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia.
Bagi tim Hamesha, limbah bukan sekadar sisa tak berguna. Dengan sentuhan desain kreatif, material bekas seperti kain perca, limbah kayu hingga plastik didaur ulang menjadi aneka produk fesyen, aksesori dan dekorasi rumah. Produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai artistik tinggi, tetapi juga sarat makna tentang keberlanjutan dan kepedulian lingkungan.
“Prinsip kami sederhana, bagaimana sesuatu yang dianggap tidak bernilai bisa hidup kembali dengan wajah baru. Dari situlah kami memulai, dan ternyata pasar internasional sangat terbuka dengan ide ini,” ujar Zaira Bertels, Co Founder Hamesha Studio, Sabtu (23/8/2025), di Yogyakarta.
Langkah berani ini rupanya mendapat respons positif dari pasar luar negeri. Sejumlah pembeli dari Belanda, Jerman, Jepang hingga Singapura rutin memesan produk Hamesha.
Desain unik
Mereka tertarik bukan hanya karena desainnya yang unik tetapi juga nilai keberlanjutan yang melekat pada setiap produk. Data internal studio menunjukkan, ekspor terbesar masih datang dari Eropa, khususnya Jerman dan Belanda.
Kedua negara itu dikenal memiliki konsumen yang sadar lingkungan dan mendukung produk berbasis daur ulang. Sementara untuk Asia, Jepang menjadi pasar potensial yang terus berkembang.
Ini tentu tidak lepas dari ketekunan para perajin lokal yang terlibat. Hamesha Studio memberdayakan komunitas perajin di Yogyakarta ikut serta dalam proses produksi, sehingga dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Saat ini ada sekitar 100 pekerja di studio tersebut. Dua di antaranya merupakan perajin profesional di bidang kerajinan kaca. “Kami ingin membuktikan bahwa Yogyakarta punya potensi besar untuk ikut serta dalam ekonomi hijau global. Hamesha hanya salah satu contoh kecil, tapi kami berharap bisa menginspirasi lebih banyak pelaku kreatif lain,” tambahnya.
Isu lingkungan
Ke depan, Hamesha Studio berencana memperluas pasar ekspornya, sekaligus memperdalam inovasi produk berbasis limbah. Dengan semakin meningkatnya kesadaran konsumen dunia terhadap keberlanjutan.
Di tengah gempuran produk massal yang sering abai pada isu lingkungan, langkah Hamesha Studio menjadi bukti nyata bahwa kreativitas bisa berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap bumi. "Peluang bagi produk-produk daur ulang asal Indonesia terbuka semakin lebar. Kami membangun bisnis sebagai keluarga," ungkapnya.
Meski dalam kurun dua hingga tiga tahun, Hamesha Studio tumbuh pesat. Mereka membuka berbagai departemen baru, sekaligus mempersiapkan pembangunan Craftsman Village, sebuah kawasan tempat para perajin bekerja, berkolaborasi dan bereksperimen bersama desainer dunia.
Tidak berhenti di situ, Hamesha juga merancang proyek Hamesha Community Village di Yogyakarta, yang diharapkan menjadi ruang hidup kreatif bagi masyarakat lokal dan internasional.
Yvesta Putu Ayu Palupi
