Mahasiswa Amikom Bantu Digitalisasi UMKM Bakpia Menghadapi Persaingan Bisnis
Kebanyakan pengusaha bakpia di sini masih menggunakan sistem pemasaran tradisional, seperti menghentikan orang yang lewat di jalan.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Menghadapi ketatnya persaingan dengan brand besar, puluhan pelaku UMKM bakpia di kawasan Purwodiningratan Yogyakarta memperoleh pendampingan digital marketing dari mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta. Program ini merupakan bagian dari proyek sosial yang diikuti mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi.
"Kebanyakan pengusaha bakpia di sini masih menggunakan sistem pemasaran tradisional, seperti menghentikan orang yang lewat di jalan. Mereka kalah bersaing dengan brand besar," ujar Ade Kurniawan Puji Sutrisna, Ketua Proyek Sosial Digital Marketing, di sela acara pelatihan, Minggu (17/11/2024).
Tim mahasiswa terdiri delapan orang yaitu Yeremia Amos Tangke, Ade Kurniawan Puji Sutrisno, Teresa Eskavi Sonda, Ellora Catra Anya Fausta, Salma Faiz Maulida Putri, Thenesa Lionita Dau, Mockolaes Yosua Trinsing dan Naufal Fahdillah.
Mereka memberikan pelatihan penggunaan aplikasi desain Canva dan strategi pemasaran digital kepada para pembuat bakpia yang mayoritas berusia 30-50 tahun. Mereka juga membantu pembuatan konten promosi dan video marketing.
Aplikasi ilmu
Ade berharap, peserta bisa mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. "Minimal mereka bisa mulai mengunggah produk di media sosial seperti TikTok dan Instagram menggunakan desain dari Canva yang sudah kami ajarkan," ujarnya.
Meski program formal hanya berlangsung sehari, mahasiswa tetap memberikan pendampingan pembuatan konten promosi. Mereka juga terlibat dalam acara Bakpia Day yang diinisiasi warga kampung untuk mempromosikan produk bakpia lokal.
Pelatihan diikuti belasan warga Purwodiningratan dari berbagai usia. Ketua RW 08 Purwodiningratan sekaligus Ketua Paguyuban Laris Manis, Joni Purwantoro, mengatakan ada sekitar 20 pembuat bakpia yang tergabung dalam paguyubannya.
"Di kawasan ini ada tiga sentra bakpia. Masing-masing industri rumahan ini memiliki merek sendiri," jelasnya.
Pemain besar
Joni mengakui, kawasan Purwodiningratan mulai dikenal sebagai sentra bakpia sejak 2000. Namun kini menghadapi tantangan serius dari pemain besar, termasuk dari luar DIY.
Selain persaingan bisnis, pengusaha bakpia rumahan juga menghadapi tantangan internal. "Kami perlu standardisasi kualitas, seperti rasa, ukuran dan harga. Ini penting agar bisa saling membantu saat ada pesanan banyak. Tapi menuju ke sana butuh biaya, sementara ekonomi masyarakat sedang sulit," tambahnya.
Wiwid Adiyanto selaku dosen Ilmu Komunikasi sekaligus pendamping para mahasiswa menjelaskan, program ini bertujuan agar mahasiswa bisa langsung terjun ke masyarakat.
"Mereka belajar mempengaruhi masyarakat dalam pemanfaatan digital marketing, sehingga pemasaran UMKM bisa lebih maksimal, tidak hanya dari mulut ke mulut atau media konvensional," katanya.
Pembelajaran berharga
"Ini tantangan besar karena banyak peserta kesulitan menggunakan gadget. Tapi justru ini menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa," tambah Wiwid.
Dia berharap program ini bisa berkelanjutan melalui angkatan-angkatan berikutnya. Selain di sentra bakpia, program serupa juga dilaksanakan di SMK Ma'arif dengan fokus public speaking dan PR serta di panti asuhan untuk literasi media gadget.
"Kami mencoba mencari jalan tengah antara kebutuhan masyarakat dengan ilmu komunikasi yang dimiliki mahasiswa," kata dia. (*)