Literasi Pangan dan Pustakawan

Oleh: Agung Hartono

Melalui perpustakaan, pustakawan bisa menyajikan informasi berbasis penelitian, menghadirkan narasumber ahli gizi, atau bahkan membuat layanan khusus dengan menghadirkan konten-konten yang dikemas secara menarik, misalnya dalam rupa infografis tentang “fakta pangan” yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Selain tampilan infografis yang menarik, barangkali juga dapat membuat konten menarik dengan memanfaatkan fasilitas seperti tiktok, IG sebagai media mengedukasi masyarakat terkait pangan.

Literasi Pangan dan Pustakawan
Agung Hartono. (istimewa).

PANGAN merupakan kebutuhan primer. Ketersediaan akan bahan pangan yang cukup dan bergizi merupakan komitmen masyarakat global, agar keberlangsungan hidup generasi tetap berkelanjutan. Pentingnya masalah pangan dan untuk memastikan akses rutin terhadap makanan berkualitas tinggi yang cukup, untuk gaya hidup aktif dan sehat, serta mendorong pembangunan ekonomi dan sosial berkelanjutan, menginspirasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi ketahanan pangan. Berdiri pada 16 Oktober 1945, badan bentukan PBB tersebut dikenal dengan nama FAO (Food and Agriculture Organization). Tiap tanggal dan bulan tersebut ditetapkan pula sebagai hari pangan sedunia. Tahun ini bertepatan dengan ulang tahun ke-80 FAO.

Ketahanan pangan berawal dari kesadaran dalam rupa membangun budaya di tengah masyarakat, kaitannya dengan perilaku bijak dan cermat dalam mengonsumsi makanan agar memeroleh asupan gisi yang cukup bagi tubuh. Perilaku tersebut dapat terbentuk jika masyarakat memeroleh informasi atau pengetahuan yang kredibel tentang literasi makanan atau pangan. Terkait literasi inilah, pustakawan mempunyai peran signifikan dan strategis dalam memberikan pemahaman atau edukasi kepada masyarakat dengan menghadirkan literasi pangan yang memiliki sumber referensi terpercaya, membantu orang tua, siswa dan masyarakat agar mampu dalam memilih, memilah informasi yang terkait dengan isu-isu pangan.

Generasi muda hari ini hidup pada era banjir informasi, termasuk informasi tentang makanan. Ironisnya informasi yang tumpah ruah sekarang ini tidak semuanya benar dan bermanfaat; maka pustakawan dapat memainkan perannya menciptakan ekosistem berliterasi—dalam hal ini kaitannya dengan isu pangan, agar melahirkan generasi yang sehat, kritis, cerdas dan peduli pada keberlanjutan kehidupan umat manusia di planet bumi ini.

Hoaks Pangan

Di tengah ‘tusnami’ informasi yang ditandai membludaknya beragam informasi dan berita bohong yang sengaja dibuat, disebarkan dan dikemas seolah-olah benar dengan maksud tertentu, nyata kini menghampiri lini kehidupan masyarakat. Fenomena demikian popular dengan istilah hoaks. Terkait tentang hoaks, pustakawan dapat berperan dengan menangkal informasi menyesatkan tentang pangan yang marak terutama di media sosial. Salah satu informasi itu misalnya tentang “diet instan” atau “makanan super” yang sering membuat masyarakat salah langkah.

Melalui perpustakaan, pustakawan bisa menyajikan informasi berbasis penelitian, menghadirkan narasumber ahli gizi, atau bahkan membuat layanan khusus dengan menghadirkan konten-konten yang dikemas secara menarik, misalnya dalam rupa infografis tentang “fakta pangan” yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Selain tampilan infografis yang menarik, barangkali juga dapat membuat konten menarik dengan memanfaatkan fasilitas seperti tiktok, IG sebagai media mengedukasi masyarakat terkait pangan.

Di samping infografis, pustakawan juga dapat menginisiasi lomba menulis atau kampanye hemat pangan. Kita ketahui, pemborosan pangan menjadi masalah global, termasuk di Indonesia. Banyak masyarakat belum sadar bahwa sisa makanan berdampak pada lingkungan dan ekonomi. Gagasan aksi lain misalnya menggandeng pihak yang berkompeten pada isu-isu pangan menggelar festival pangan yang lebih menonjolkan produk kearifan local. Inisiasi tersebut bisa jadi dapat menjadikan semacam penegasan bahwa pustakawan bukan hanya penjaga buku, melainkan penggerak kesadaran publik, dalam hal ini terkait masalah pangan.

Agen Literasi

Pustakawan memiliki peran sebagai agen literasi—tidak hanya terbatas pada literasi baca-tulis, tetapi juga literasi informasi, digital, finansial, hingga pangan. Jika peran tersebut mampu direalisasikan, era perpustakaan yang sunyi dan hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku telah berakhir dan tergantikan oleh perpustakaan yang ‘wajahnya’ telah mengejawantah menjadi ruang publik yang dinamis, tempat warga belajar, berdiskusi tentang isu-isu aktual termasuk soal pangan.

Pada era ketika informasi begitu mudah diakses, masyarakat justru dihadapkan pada paradoks berupa banyaknya pilihan makanan dan gempuran iklan produk pangan yang sering kali tidak berbanding lurus dengan pemahaman tentang gizi, keamanan, dan keberlanjutan pangan. Di sinilah pentingnya literasi pangan, yaitu kemampuan untuk memahami, memilih, dan mengonsumsi makanan secara sehat dan bijak. 

Literasi pangan bukan hanya ranah ahli gizi atau praktisi kesehatan, melainkan juga dapat diperkuat melalui lembaga pendidikan dan pusat informasi masyarakat, salah satunya perpustakaan. Pustakawan mempunyai peran strategis dalam memperluas cakupan literasi menuju isu-isu tematik, termasuk pangan. Melalui inovasi layanan dan program, perpustakaan dapat menjadi ruang edukasi publik yang menghubungkan pengetahuan pangan dengan praktik sehari-hari masyarakat.

Literasi pangan tidak sekadar kemampuan mengenali jenis makanan atau membaca label gizi pada kemasan, melainkan mencakup pengetahuan, keterampilan serta kesadaran kritis tentang pangan. Dengan pemahaman yang utuh, literasi pangan dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang tepat dalam memilih, mengolah dan mengonsumsi makanan, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan sumber daya pangan.

Peran pustakawan adalah menanamkan kesadaran literasi pangan yang berkelanjutan, sehingga masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengelola pangan. Pustakawan dan perpustakaan berperan penting dalam menyebarluaskan informasi tentang gizi, pertanian berkelanjutan dan keamanan pangan serta mendorong kesadaran masyarakat terhadap isu pangan global dan lokal.

Upaya mulia pustakawan dalam bergiat di bidang literasi pangan tentu bukan tanpa hambatan atau tantangan. Keterbatasan pustakawan dalam pengetahuan pangan, minimnya koleksi khusus pangan di perpustakaan serta keterbatasan dana dalam menjalankan program literasi merupakan kendala yang dihadapi. Kendala yang dihadapi menjadi tantangan. Namun di balik tantangan terdapat peluang di antaranya literasi pangan selaras dengan SDGs (Zero Hunger, Good Health and Well-being). Tren gaya hidup sehat membuat isu pangan semakin relevan dan perpustakaan bisa berkolaborasi lintas sektor, seperti menjalin kemitraan dengan dinas kesehatan, komunitas pangan lokal, serta universitas.

Kerja sama

Literasi pangan dan pustakawan memang sisi yang berbeda. Namun pustakawan sebagai seorang “profesional” di bidang kepustakawanan diharapkan menjadi bagian solusi untuk membuka kesadaran masyarakat arti pentinya ‘melek’ informasi (literate) tentang isu-isu pangan dan perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi ruang hidup yang memberi inspirasi. 

Dengan literasi pangan, pustakawan membantu masyarakat membangun pondasi yang kuat terkait ketahanan pangan. Selaras dengan tema Hari Pangan tahun ini: “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”. Tema ini menekankan arti penting kerja sama atau bersama-sama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih baik agar masa depan pangan lebih adil, sehat dan berkelanjutan. Melalui kreativitas dan inovasi layanan, pustakawan dapat menjadi penggerak penting dalam memperluas literasi pangan. 

Seiring dengan semangat transformasi perpustakaan--bukan sekadar ruangan yang penuh dengan deretan buku namun juga sebagai pusat informasi sekaligus ruang aksi, perpustakaan bersama-sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat dalam seluruh rantai sistem pangan — dari kebijakan, produksi, distribusi hingga konsumsi, pustakawan dapat memberikan sumbangsih nyata dalam membangun generasi yang cerdas dan bijak memilih pangan.

Selain dengan stakeholders tidak kalah urgennya adalah mengupayakan jalinan sinergi dengan lembaga pendidikan. Kebutuhan integrasi pustakawan dan lembaga pendidikan terkait edukasi literasi pangan pada masyarakat merupakan isu nasional yang penting dan relevan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2025 yang telah diperingati pada 16 Oktober lalu. *

Agung Hartono

Pustakawan Institut Seni Indonesia Yogyakarta