Lampaui Target, BKKBN Jateng Apresiasi Program Genting Kabupaten Klaten
Program Genting tidak menggunakan APBN atau APBD.
KORANBERNAS.ID, KLATEN -- BKKBN Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengapresiasi pelaksanaan program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) di Kabupaten Klaten yang dinilai sukses. Apresiasi itu diberikan karena capaian Genting di daerah berpenduduk 1,3 juta jiwa ini bisa melampaui target.
Ketua Tim Kerja Bina Daerah serta Masyarakat dan Hubungan Antar Lembaga BKKBN Jateng, Dr Nasri Yutiningsih, mengatakan capaian Genting di Kabupaten Klaten tahun 2025 dengan target 4.612 anak asuh terealisasi 7.353 anak asuh atau 159,35 persen dengan jumlah mitra 7.349.
"Target yang dicapai Kabupaten Klaten luar biasa. Tahun 2025 di angka 4.612 tercapai 7.353 atau 159 persen. Artinya ada penambahan signifikan sekitar 2.741 anak asuh. Di tahun 2026 target 6.046 anak asuh," kata Nasri pada Rakor Evaluasi Program Genting Kabupaten Klaten tahun 2026 di Pendopo Pemkab, Kamis (4/6/2026).
Mewakili Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Nasri menambahkan Rakor Genting Kabupaten Klaten 2026 sebenarnya sudah selesai. Itu buktikan dengan kehadiran semua pihak yang berperan serta dalam program Genting tahun 2025, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Klaten beserta sejumlah pengurus, OPD terkait.
Dana masyarakat
Termasuk penyuluh lapangan KB (PLKB) SE Kabupaten Klaten, ahli gizi puskesmas se Kabupaten Klaten, camat beserta Ketua TP PKK kecamatan, lembaga dan organisasi, dunia usaha, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, tim pendamping keluarga.
Namun, kata dia, pada hakikatnya program Genting adalah gerakan gotong-royong yang melibatkan semua pihak, ada BUMN, BUMD, perguruan tinggi, wartawan. Program Genting tidak menggunakan APBN atau APBD. "Murni pengelolaan dana masyarakat yang diharapkan dapat berpartisipasi mencegah anak itu stunting di lingkungan terdekat," jelasnya.
Di Jawa Tengah, jumlah bantuan program Genting terkumpul Rp 50,1 miliar dari target 149.879 anak asuh dan tercapai 134 persen. Capaian ini termasuk di Kabupaten Klaten.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutan tertulis dibacakan staf ahli Bupati, Joko Istiyanto, mengemukakan stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak di bawah rata-rata, tapi ancaman nyata terhadap masa depan kecerdasan anak bangsa, produktivitas generasi muda dan ketahanan daerah.
Penurunan stunting
Sementara itu, Kepala Dinsos P3APPKB Klaten Puspo Enggar Hastuti SE dalam laporannya mengatakan rakor ini sebagai wadah koordinasi, konsolidasi dan penguatan komitmen semua pihak dalam percepatan dalam penurunan stunting.
Rakor di antaranya bertujuan meningkatkan pemahaman seluruh pemangku kepentingan mengenai pelaksanaan program Genting dan mendorong partisipasi aktif pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, masyarakat, orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting (KRS).
Mantan Camat Prambanan itu menambahkan, prevalensi stunting di Kabupaten Klaten pada bulan April 2026 berdasarkan e-PPGBM (elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) masih di angka 2 digit dan belum bisa mewujudkan target Bupati Klaten 1 digit. "Klaten masih 13,39. Kecamatan Bayat tertinggi disusul Kecamatan Polanharjo," kata Puspo. (*)
Masal Gurusinga
