Komdigi Tegas, AI Hanyalah 'Co-Pilot' Jangan Serahkan Nalar Kritis pada Mesin

Teknologi harus tetap menjadi alat bantu bukan pengganti peran manusia.

Komdigi Tegas, AI Hanyalah 'Co-Pilot' Jangan Serahkan Nalar Kritis pada Mesin
Gelaran Indonesia.go.id Goes to Campus (IGTC) di STMM Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan generasi muda agar tidak menyerahkan nalar kritis sepenuhnya kepada mesin kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Pada kunjungan ke kampus Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta, Rabu (21/01/2026), Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Nursodik Gunarjo, menyatakan teknologi harus tetap menjadi alat bantu bukan pengganti peran manusia.

Saat membuka gelaran Indonesia.go.id Goes to Campus (IGTC) bertema AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil dan Tetap Etis, Nursodik mengungkap adanya fenomena di mana AI kerap dianggap sebagai solusi instan untuk segala hal.

"Saya ingin menegaskan satu hal bahwa AI adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Dalam istilah teknologi, AI itu Co-pilot, bukan pilot. Artinya, pilotnya tetap Anda sekalian, kendali tetap ada di tangan kawan-kawan semua," kata Nursodik di hadapan ratusan mahasiswa.

Kreativitas mati

Nursodik memperingatkan, teknologi tidak pernah netral karena selalu mengikuti nilai penggunanya. Jika digunakan tanpa etika, AI berpotensi menjadi "musuh" yang memproduksi disinformasi seperti deepfake atau mematikan kreativitas original.

Sebaliknya, jika dikendalikan dengan bijak, AI dapat menjadi akselerator pelayanan publik dan riset.

Merespons tantangan tersebut, Ketua STMM Yogyakarta, Dr RM Agung Harimurti, mengungkapkan pihaknya telah melakukan langkah strategis dengan merevisi kurikulum sejak tahun ajaran 2025. Penyesuaian ini mencakup integrasi materi Cyber Security, Internet of Things (IoT), big data dan etika penggunaan AI.

Agung menjelaskan fokus pendidikan vokasi saat ini bukan lagi sekadar mengajarkan cara menggunakan alat melainkan penguasaan teknik instruksi atau prompting yang tepat untuk menghasilkan karya berkualitas.

Konteks kekinian

"Mahasiswa tidak hanya diajarkan menggunakan teknologi, tetapi yang terpenting adalah prompting-nya. Bagaimana menginstruksikan teknologi itu untuk membantu membuat karya, misalnya memvisualisasikan tokoh sejarah seperti Gajah Mada agar hidup kembali dalam konteks kekinian," ungkap Agung.

Meski mendorong adopsi teknologi, STMM tetap memberlakukan pengawasan ketat terhadap orisinalitas karya akademik. Agung menegaskan penerapan metode "ATM" (Amati, Tiru, Modifikasi) sebagai batasan etis agar mahasiswa tidak sekadar melakukan penyalinan (copy-paste) mentah dari hasil mesin.

"Ini seperti pisau bermata dua. Kalau hanya copy, daya kritis akan turun. Kami sudah instruksikan dosen untuk menilai secara jeli, dan tahun ini kami tingkatkan deteksi plagiasi menggunakan teknologi yang mampu mendeteksi jejak AI," ujarnya.

Melalui program IGTC, Komdigi mengajak komunitas digital kampus turut aktif mengisi portal Indonesia.go.id dengan konten-konten positif, guna menyeimbangkan narasi tentang Indonesia di kancah global yang kerap didominasi isu negatif. (*)