Kerajinan Batok Kelapa Asal Bantul Tembus Pasar Ekspor

Bahan baku selain dari DIY juga didatangkan dari Purworejo.

Kerajinan Batok Kelapa Asal Bantul Tembus Pasar Ekspor
Hariyanti menunjukkan produk kerajian batok kelapa dengan brand "Yanti Batok Jogja Craft". (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Bantul dikenal sebagai Kabupaten yang dipenuhi orang-orang kreatif. Selain itu, juga telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (KaTa Kreatif Indonesia) pada tahun 2022.

Saat ini pun Kabupaten Bantul sedang dalam proses menuju Kota Kreatif Dunia yang terhubung dengan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) di bidang kerajinan dan seni rakyat.

Salah seorang warga yang kreatif tersebut adalah Hariyanti. Wanita berusia 50 tahun warga Juron RT 19 Kalurahan Pendowoharjo Kapanewon Sewon ini memiliki usaha kerajinan batok kelapa dengan nama Yanti Batok Jogja Craft.

Berdiri sejak 2002, di tempat tersebut batok kelapa disulap menjadi beragam kerajinan seperti gantungan kunci, dompet, teko minum, gelas, mangkok, irus masak, taplak meja, aneka tas, celengan. Juga membuat kancing baju berbagai ukuran.

Proses pengolahan batok kelapa menjadi kerajinan. (sariyati wijaya/koranbernas)

"Sebelumnya saya itu usaha di bidang makanan seperti keripik. Tapi di saat hujan ataupun saat jualan tidak laku menjadi kendala karena makanan kemudian tidak layak konsumsi dan akhirnya kita tidak bisa berkembang usahanya," kata Hariyanti pada acara Dinamika Desa gelaran Dinas Kominfo Kabupaten Bantul, Kamis (21/8/2025) di tempat usahanya.

Dari sanalah kemudian dia bersama suami berpikir usaha apa yang sekiranya awet dan ini tahan lama. Kemudian tercetus ide membuat kerajinan berbahan batok kelapa setelah melihat banyaknya batok-batok kelapa di sekitar tempat tinggalnya. “Saya belajar otodidak dan bahan baku batok selain dari DIY juga didatangkan dari Purworejo," lanjutnya.

Produk itu awalnya ditawarkan ke toko kerajinan dan ternyata mendapat respons positif pembeli. Kemudian dipercaya oleh Pemerintah Kabupaten Bantul dengan difasilitasi pameran ke beberapa daerah di tanah air.

Kerajinan yang dikelola Yanti sudah ada di beberapa bandara di Indonesia termasuk Yogyakarta International Airport (YIA).  Memang dirinya bermitra dengan salah satu brand batik terkenal yang memiliki stan di beberapa bandara.

Pasar ekspor

Kerajinan yang dikelolanya terus berkembang dan mampu merekrut 10 orang tenaga kerja mayoritas dari warga sekitar. Penjualan kerajinan juga mampu menembus pasar ekspor di antaranya ke Jamaika, Prancis dan Turki.

Setiap bulan setidaknya seribu pieces berhasil dilepas ke pasaran. Adapun harganya mulai Rp 3 ribu untuk gantungan kunci dan ratusan ribu untuk tas. "Kami juga menerima pesanan, desain dan ukuran mengikuti kehendak dari pemesan," katanya.

Lama pembuatan setiap produk berbeda-beda. Misalnya tas bisa tiga hari hingga seminggu tergantung motif dan jenis tasnya. Semua dikerjakan secara handmade.

Adapun prosesnya batok dipilih yang tua diolah menjadi beragam motif dan dihaluskan. "Kita pilih batok yang tua agar lebih kuat saat diproses. Kita juga menggunakan batok kelapa muda khusus untuk yang warna putih. Tetapi harus kita rebus dulu diberi cairan H202 (hidrogen peroksida) agar kuat," katanya.

Tanpa pengawet

Setelah itu, batok ditata memakai spon dengan cara dilem menggunakan kualitas lem yang bagus. Kemudian dijahit tangan juga memakai benang berkualitas agar kuat. Barulah finishing sesuai bentuk produk yang ingin dihasilkan. Misalnya tas akan ditambah kain puring, diberi handel atau pegangan dan rit.

“Selain tanpa pengawet, estetik dan indah, kerajinan batok juga mudah perawatannya. Untuk membersihkan cukup dioles dengan minyak kelapa yang belum dipakai maka produk akan kinclong kembali. Untuk daya tahan produk yang kita hasilkan bisa lima tahun bahkan lebih dan masih bagus," katanya. (*)