Satu Dekade JIFFINA, Jejak Transformasi Kriya Lokal Menuju Kiblat Eco-Lifestyle Global

Satu Dekade JIFFINA, Jejak Transformasi Kriya Lokal Menuju Kiblat <i>Eco-Lifestyle</i> Global
Pembukaan Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFINA) 2026 di Jogja Expo Center. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Riuh rendah tepuk tangan menggema di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (7/3/2026) sore. Bukan sekadar seremoni pembukaan pameran tahunan, pembukaan Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2026 kali ini terasa jauh lebih emosional. Perhelatan ini menandai sebuah "titik tolak" penting, yaitu satu dekade perjalanan sebuah mimpi yang bermula dari keresahan pelaku usaha di daerah.

Mundur ke tahun 2016, saat itu para perajin dan pengusaha mebel di Jawa dan Bali kerap dirundung kegalauan. Pameran berskala internasional selalu identik dengan kemegahan Jakarta. Bagi pelaku IKM dan UKM, ongkos untuk membawa produk mereka ke ibu kota terasa mencekik, atau dalam istilah lokal disebut ragadé marai rada awang-awangen.

"Kami merasa terpanggil untuk menghadirkan pameran kelas internasional, tapi di daerah sendiri," kenang David R. Wijaya, Ketua Forum JIFFINA Jawa Bali. 

Berawal dari komunitas kecil yang ingin mewadahi perajin lokal, JIFFINA kini tumbuh menjadi entitas besar yang diikuti oleh lebih dari 200 perusahaan dan menarik jadwal kunjungan 300 lebih buyer internasional.

Bukan sekadar Etalase, tapi Sebuah Proses Etis

Tema tahun ini, "One Decade One Vision: The Right Sources for Eco Lifestyle Products", seolah menegaskan bahwa JIFFINA telah naik kelas. Ia bukan lagi sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan sebuah pernyataan sikap terhadap dunia yang tengah mengalami krisis lingkungan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sambutan yang dibacakan Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menekankan bahwa furnitur Indonesia memiliki keunggulan mendasar, yaitu jiwa.

"Tradisi kriya kita tumbuh dari relasi akrab antara manusia dan alam. Tantangannya adalah menerjemahkan nilai tradisi itu ke dalam sistem produksi modern yang transparan dan terukur," tulis Sultan.

Bagi Sultan, JIFFINA adalah bukti bahwa Eco Lifestyle bukan sekadar label pemasaran, melainkan komitmen pada setiap helai serat rotan, potongan kayu, hingga perlindungan tenaga kerja di baliknya.

Bertahan di tengah Badai Global

Perjalanan sepuluh tahun ini tidaklah linier. Di tengah situasi geopolitik yang memanas—mulai dari ketegangan di Timur Tengah hingga efisiensi anggaran domestik—JIFFINA tetap berdiri tegak. Strategi pun mulai bergeser.

Ketika pasar tradisional seperti Amerika dan Eropa melambat, mata para eksportir kini mulai melirik pasar ASEAN, Asia Pasifik, hingga memperkuat pasar domestik melalui jalur e-katalog pemerintah. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Yuke Sri Rahayu, memberikan apresiasi terhadap konsistensi ini. 

Menurutnya, industri mebel dan kriya bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan subsektor strategis yang menciptakan lapangan kerja masif dan menjadi duta budaya Indonesia di mata dunia.

Mengenang Sang Pionir

Di balik kesuksesan 2026 ini, ada ruang hening untuk mengenang mereka yang telah tiada. Nama-nama seperti almarhum Robert dan Timbul Raharjo disebut dengan penuh hormat. Mereka adalah para pejuang yang meletakkan fondasi pertama saat JIFFINA masih berupa angan-angan.

"Semangat beliau-beliau ini yang kita bawa. Bahwa JIFFINA hadir untuk men-support UKM agar bisa berkembang lebih profesional," ujar Yuli Sugianto, Direktur Utama PT JIFFINA Internasional Perkasa.

Kini, dengan senyum lebar para CEO dan eksportir yang memenuhi area VIP, JIFFINA 2026 resmi dimulai. Sebuah pameran yang membuktikan bahwa dari sudut daerah, Indonesia mampu memberikan "sumber yang tepat" (the right sources) bagi gaya hidup ramah lingkungan di dunia. (*)