Rabu, 27 Okt 2021,


kami-ikut-memberikan-semangat-menghadapi-pandemi-Pelukis Bayu Wardhana disaksikan GKR Hemas tengah mengguratkan pisau paletnya dalam acara Melukis on The Spot bersamaan dengan vaksinasi Bhinneka Tunggal Ika di Sasana Hinggil, Keraton Yogyakarta. (muhammad zukhronneems/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Kami Ikut Memberikan Semangat Menghadapi Pandemi ...

SHARE

KORANBERNAS ID, YOGYAKARTA -- Beragam upaya dapat dilakukan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Semua pihak bisa berkontribusi berjibaku dalam penanganan pandemi. Yogyakarta yang terkenal guyub dengan ruh semangat gotong royong, punya cara unik pula dalam bahu-membahu menghadapi pandemi.


Merespon upaya pemerintah dan swasta dalam menggenjot tercapainya kekebalan komunal melalui vaksinasi, sekelompok seniman ternama Yogyakarta menorehkan karyanya dalam Melukis on The Spot bersamaan dengan vaksinasi Bhinneka Tunggal Ika di Sasana Hinggil, Keraton Yogyakarta, Senin (27/9/2021).


"Kami ikut memberikan semangat bagaimana menghadapi pandemi ini agar tetap inovatif, tetap bergerak, tetap berkarya, tetap semangat mengantisipasi segala sesuatu permasalahan selama pandemi," terang Astuti Kusumo, salah satu perupa saat ditemui di sela-sela acara.

"Yang kami lakukan selaku seniman lukis di sini nanti akan melukis On The Spot yaitu kita merespon pelaksanaan vaksinasi ke dalam lukisan. Bagaimana teman-teman dan masyarakat saat vaksin atau pun bangunan-bangunan di sekitar sini, merespon segala sesuatu yang ada," tambahnya.


Kami, lanjut Astuti, kelompok seniman yang bertempat tinggal dan berkarya di Yogyakarta, terutama perupa, merasa ikut handarbeni atau ikut nyengkuyung dan ikut terpanggil dalam mengajak masyarakat untuk ikut vaksinasi.

Selain Astuti, Putu Sutawijaya, Bambang Heras, Made Toris Mahendra dan Budi Ubruk tampak Bayu Wardhana yang tengah sibuk menggoreskan pisau paletnya di atas kanvas. Bayu sangat bersemangat menumpahkan ingatannya akan Istana Air, Taman Sari ke bidang gambar berukuran 3 x 2 meter tersebut.

Tidak ada objek yang menarik hati Bayu di sekitar lokasi penyelenggaraan vaksinasi. "Karena saya lihat di sekitar Alun-alun iki nggak ada yang bisa digambar, Hanya parkiran dan lalu-lalang kendaraan, gak menarik sama sekali," ujar Bayu.

"Nek secara batin aku nek gambar ringin kurung dua, itu unsurnya kok menuju kematian, dan aku gak mau. Buat saya sendiri Feng sui saya kurang baik. Selain itu terlalu banyak wide view-nya," kata seniman ekspresionis berusia 57 tahun ini.

Karena alasan itulah, dia harus menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan keelokan Taman Sari yang berjarak tak lebih dari satu kilometer dari lokasi.

"Hasilnya boleh dipertanggungjawabkan, bahwa Tamansari adalah salah satu destinasi pariwisata Yogyakarta yang sangat luar biasa bagus. Cuman itu kalau dilukis dengan sudut pandang yang benar, tidak hanya sekedar fotografer, pelukis pun demikian, efek-efeknya memunculkan daya pukau tersendiri," tandasnya.

Sementara salah satu penggagas acara, Widihasto Wasana Putra mengatakan, melukis on the spot mungkin merupakan kegiatan yang biasa dilakukan para perupa saat ini. Namun saat ini menjadi istimewa ketika tema herd immunity dipertemukan dengan kegiatan seni rupa. Sebab ada dua dimensi yang bertemu, yakni dimensi estetika dan kesehatan.

"Ini menjadi tanggung jawab bersama gotong royong dan kekompakan antar-komponen bangsa untuk menghadapi pandemi ini dan tetap optimis tetap tercapainya herd immunity. Selain itu juga memberikan multiplier effect khususnya pada kalangan seniman jika hasil karyanya ini diapresiasi. Ini seperti supply oksigen bagi mereka," imbuhnya. *

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini