Kain non-Batik Memiliki Daya Tarik Tersendiri, tak Kalah Memukau

Kain non-Batik Memiliki Daya Tarik Tersendiri, tak Kalah Memukau
Penampilan salah satu anggota Paguyuban Sri Tanjung dalam fashion show di Malioboro Mall saat memperingati ulang tahun pertama mereka. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Siapa sangka teknik "gesek godong" yang terdengar sederhana—mengoleskan pewarna alami pada daun lalu digesek ke kain—bisa tampil memukau di atas panggung fashion show? Itulah yang terjadi saat Paguyuban Sri Tanjung merayakan ulang tahun pertama mereka dengan gelaran fashion show perdana di Mall Malioboro, Jumat (11/7/2025).

Boni Tri Utomo, Bendahara Sri Tanjung yang juga ketua panitia fashion show, tak menyangka antusiasme para desainer begitu tinggi. "Minatnya luar biasa. Hari ini saja ada 22 desainer. Kalau nggak saya stop, bisa sampai 30," ungkapnya dengan nada bangga.

Fashion show ini bukan sekadar perayaan ulang tahun. Lebih dari itu, ini adalah momen pembuktian bahwa kain non-batik seperti shibori, ecoprint, lurik, jumputan, dan gesek godong punya daya tarik tersendiri. Bahkan model profesional pun didatangkan untuk memastikan tampilan yang memukau.

"Saya bilang ke mereka bahwa ini ajang untuk membangunkan dan mempromosikan produk supaya dikenal orang. Jadi tidak sia-sia," ujar Boni.

Perjalanan Paguyuban Sri Tanjung memang tak biasa. Terbentuk resmi pada 27 Maret 2024, komunitas ini langsung membuka gerai di Mall Malioboro pada 2 Juli 2024. Dengan sistem yang unik—concept sharing alih-alih sewa— puluhan anggota bergantian mengisi produk di gerai mereka.

"Jadi berapa yang kita dapatkan dalam satu bulan, kita berbagi dengan pihak mal," ungkap Boni menjelaskan skema kerja sama yang saling menguntungkan ini.

Bagi 80-90 anggota Paguyuban Sri Tanjung, ini bukan hanya soal bisnis. Mereka belajar mengelola toko, menghitung biaya operasional, menjaga gerai, hingga meningkatkan penjualan.

"Banyak intrik atau friksi juga, dan itu sebagai latihan kita sebetulnya," Boni mengaku.
Setiap anggota punya kewajiban menjaga gerai secara bergiliran, dengan iuran bulanan Rp 35.000 untuk listrik. Yang menarik, setiap anggota bisa memunculkan brand mereka masing-masing, tidak harus menggunakan brand tertentu.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah kota dan pihak mall, Paguyuban Sri Tanjung optimis bisa terus berkembang. Rencana kolaborasi dengan hotel-hotel untuk display produk dan event rutin seperti fashion show menjadi strategi jangka panjang mereka.

"Ke depan, saya pikir akan coba kita kolaborasi juga dengan mal. Tidak hanya untuk Sri Tanjung saja, tetapi mungkin mal ini juga bisa mengadakan event-event seperti ini supaya lebih menarik pengunjung," ungkap Boni dengan penuh harapan.

Meski omzet saat ini baru mencapai 3-4 juta per bulan, semangat para anggota tak surut. Justru kondisi ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang baru belajar mengelola bisnis retail.

"Kadang ada yang baru dua atau tiga bulan belum laku, terus menyerah. Itu sering. Makanya tadi saya bilang ini ajang kita untuk belajar," tutur Boni dengan bijak.

Tak heran jika Wakil Walikota Yogyakarta Wawan Hermawan memberikan perhatian khusus pada paguyuban ini. Saat hadir Wawan menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi. "Yang namanya fashion, rata-rata itu tiga bulan saja sudah berubah. Jadi kami berharap bisa melakukan inovasi-inovasi yang lebih tinggi lagi," tegasnya.

Tantangan dan Strategi ke Depan

Yang menarik dari paguyuban ini adalah keberagaman teknik yang mereka kuasai. Mulai dari ecoprint yang masih diminati konsumen, hingga gesek godong yang unik dengan teknik mengoleskan pewarna alami pada daun-daunan. Belum lagi shibori yang terus berkembang dengan desain yang selalu berubah.

Penampilan salah satu anggota Paguyuban Sri Tanjung dalam fashion show di Malioboro Mall saat memperingati ulang tahun pertama mereka. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

"Kita bisa mengundang desain kain shibori yang saat ini sudah sangat cepat berubah, sehingga masyarakat melihat perubahan desain yang sangat cepat," kata Wawan Hermawan, mengusulkan kolaborasi dengan desainer yang sudah mapan.

Strategi co-branding ini dipandang sebagai solusi yang lebih cepat untuk meningkatkan omzet. Pasalnya, dengan fasilitas yang sudah representatif di Mall Malioboro, produk-produk mereka berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi.

Bebasari Sitarini, Kepala Bidang Koperasi Dinas Perindustrian Koperasi UKM Kota Yogyakarta, memberikan arahan yang praktis. "Jangan lupa untuk tetap mempromosikan produknya melalui marketplace atau secara online. Karena kalau hanya mengandalkan toko, ya kita hanya duduk saja," sarannya.

Fashion show perdana ini memang baru berlangsung di mini atrium, tapi mimpi mereka untuk tampil di atrium utama yang lebih strategis sudah mulai terwujud. Satu tahun mungkin masih terbilang singkat, tapi langkah besar yang telah diambil Paguyuban Sri Tanjung membuktikan bahwa inovasi dan kolaborasi adalah kunci kesuksesan.

Dari gesek godong hingga fashion show, mereka telah menunjukkan bahwa UKM non-batik Yogyakarta memiliki potensi besar untuk berkembang pada era modern ini. (*)