Cerita Danarti dari Seragam SMP ke Panggung Fashion Show

Cerita Danarti dari Seragam SMP ke Panggung <i>Fashion Show</i>
Retno Tri Danarti memperlihatkan karyanya yang menggunakan berbagai teknik. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Semua berawal dari seragam SMP anaknya pada 2018. Saat teman-teman lain mungkin hanya mengenakannya sebagai kewajiban sekolah, bagi Retno Tri Danarti, kain batik di seragam itu menyimpan daya tarik tersendiri. Dia ingin batik yang digunakan anaknya ke sekolah tidak monoton. Dari sana, benih ketertarikan terhadap dunia seni membatik mulai tumbuh perlahan namun pasti.

“Saya suka lukisan sejak kecil namun tidak pintar menggambar, lalu ketika tahu teknik pounding seperti digambar juga... rasanya seperti menemukan rumah,” kenang Retno, pemilik brand Danarti Batik, saat ditemui dalam peringatan Fashion Show peringatan ulang tahun Gerai Sri Tanjung pada Jumat (11/7/2025) di Malioboro Mall, Yogyakarta.

Berangkat dari kecintaannya pada seni lukis dan kepedulian terhadap lingkungan, Retno memilih untuk menggunakan pewarna alami dalam setiap karyanya. Baginya, berkarya tidak hanya soal estetika, tetapi juga tanggung jawab.

“Saya pilih pewarna alam karena lebih ramah lingkungan. Banyak orang belum tahu, pewarna sintetis bisa mencemari air dan tanah,” ujarnya.

Retno juga menjelaskan beberapa teknik dalam membatik ramah lingkungan, seperti shibori, ecoprint, hingga teknik pounding—yang dilakukan dengan memukul daun langsung ke atas kain menggunakan palu kayu. Teknik itu bukan hanya menghasilkan motif unik, tapi juga menyimpan cerita tentang alam dan tradisi.

Meski berjalan sendiri dan menghadapi tantangan ekonomi, semangat Retno tidak surut. Ia tetap memproduksi kaus, syal, hingga kain batik dengan pewarna alami dan menjualnya secara daring maupun lewat pameran-pameran di hotel dan ruang komunitas. Harga produk bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu, tergantung jenis dan teknik yang digunakan.

“Prosesnya memang enggak bisa instan. Harus telaten dan penuh perasaan,” katanya.

Ia mengakui bahwa belum banyak anak muda yang mau terjun langsung karena prosesnya yang panjang. Namun, justru di situ letak kekuatan batik alam: ada kesabaran, ada ketulusan. Kini, ia bergabung dalam komunitas UMKM Paguyuban Sri Tanjung dan kerap membagikan pengalamannya kepada sesama perajin. Menurutnya, keberadaan komunitas menjadi sangat penting untuk saling belajar, berkembang, dan bertahan.

“Saya ingin mengajak lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk kembali mencintai batik. Bukan hanya karena indah, tapi karena batik menyimpan pesan—tentang alam, budaya, dan keberlanjutan,” tutupnya. (*)