Senin, 06 Des 2021,


jumlah-nasi-terbuang-247-ton-per-tahun-hanya-di-slemanPlt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono. (istimewa)


Nila Hastuti
Jumlah Nasi Terbuang 24,7 Ton Per Tahun, Hanya di Sleman

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono,  mengatakan ketersediaan pangan selama masa pandemi masih aman.


Namun demikian bertepatan dengan hari pangan se-dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober mendatang, Bupati Sleman membuat gerakan masyarakat untuk Stop Boros Beras.

  • Ketersediaan Pangan Tak Penuhi Populasi Manusia

  • "Dimulai dari diri kita, alasannya karena kondisi saat ini  pemenuhan pangan menghadapi tantangan dengan tingginya alih fungsi lahan, sementara jumlah penduduk cenderung terus naik. Perlu ada strategi alternatif menekan kebutuhan pangan melalui penurunan pemborosan pangan,” kata Suparmono kepada wartawan di Sleman, Selasa (5/10/2021).

    Menurut Suparmono, dari sisi produksi Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan terus meningkatkan lewat intensifikasi dan dicari alternatif gerakan masyarakat untuk tidak boros pangan, karena sisa pangan di Indonesia cukup tinggi.


    “Paling boros nomor satu Arab Saudi dan Indonesia menempati nomor dua. Kalau kondisi alih lahan dan cara konsumsi pangan seperti sekarang, maka diperkirakan pada tahun 2022-2023 Sleman bisa defisit beras,” ungkao Suparmono.

    Saat ini Kabupaten Sleman masih surplus beras 70 ribu ton, beberapa waktu lalu surplus 100 ribu ton, dan ini turun terus dari tahun ke tahun.

    Berdasarkan perhitungan setiap 1 kg beras terdapat 50.000 butir. Jika penduduk Sleman masing-masing menyisakan 1 butir nasi, maka jumlah nasi yang terbuang sebesar 24,7 ton per tahun.

    “Artinya banyak sekali pangan kita terbuang yang seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pangan kita," jelas Suparmono.

    Secara terpisah Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan salah satu penyebab pemborosan pangan adalah perilaku konsumsi pangan.

    Masih banyak warga tidak menghargai pangan, seperti makan tidak habis, belanja berlebihan, gengsi menghabiskan makanan, hasil pertanian dibiarkan busuk akibat harga rendah, dan lainnya.

    “Kami mengajak kepada seluruh masyarakat untuk makan secukupnya dan jangan menyisakan nasi yang sudah di piring. Mari untuk mulai menghargai pangan, Stop Boros Pangan Mulai dari Piring Kita,” kata Kustini. (*)


    TAGS: pangan  beras 

    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini