Jogja 10K Dongkrak Okupansi Hotel Tembus 90 Persen

Komunitas dari Sabang sampai Merauke berkumpul dan berlari bersama. Sepanjang rute disambut masyarakat dengan atraksi budaya.

Jogja 10K Dongkrak Okupansi Hotel Tembus 90 Persen
Rangkaian ajang lari Jogja 10K di Plaza Malioboro, Sabtu (2/5/2026) malam. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ajang lari bertajuk Jogja 10K kembali digelar tahun ini, Minggu (3/5/2026). Kali ini Jogja 10K diikuti lebih dari 9 ribu pelari. Tingginya animo para pelari ini memberi dampak signifikan terhadap sektor pariwisata di Kota Yogyakarta.

Pada akhir pekan ini, tingkat hunian atau okupansi hotel di kota tersebut dilaporkan melonjak hingga sekitar 90 persen bahkan sejumlah kawasan wisata mendekati penuh.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, Sabtu (2/5/2026), mengatakan kedatangan ribuan peserta dari luar daerah yang mengikuti event lari tersebut mendongkrak okupansi hotel.

“Di kawasan Malioboro hingga wilayah selatan dan timur kota, hunian hotel hampir penuh, bahkan mendekati 100 persen. Ini memberikan dampak positif bagi anggota PHRI maupun pelaku UMKM,” ujar Deddy.

Menggerakkan ekonomi

Menurutnya, kegiatan sport tourism seperti Jogja 10K terbukti mampu menggerakkan sektor ekonomi daerah. Selain perhotelan, peningkatan aktivitas wisatawan juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil, kuliner, hingga pedagang di kawasan wisata.

Event lari ini memberikan pengalaman berbeda dengan start dan finish di kawasan ikonik Jalan Malioboro. Selain itu memadukan olahraga dengan nuansa budaya khas Yogyakarta.

PHRI DIY berharap Jogja 10K dapat terus digelar secara rutin dan masuk dalam kalender event tahunan di Yogyakarta.

"Keberlanjutan event seperti ini akan menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi sport tourism di Indonesia," ungkapnya.

Khas Jogja

Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi penyelenggaraan Jogja 10K perdana tersebut. Dia menilai konsep yang diusung mampu memberikan pengalaman khas Jogja dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

“Luar biasa, ini Jogja banget karena menawarkan pengalaman yang unik dan berkolaborasi dengan masyarakat. Sport tourism seperti ini memberi dampak positif bagi Kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Dia menyebutkan sekitar 80 persen peserta atau lebih dari 7 ribu pelari berasal dari luar kota. Hal ini dinilai memberi kontribusi besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. “Kami berharap Jogja 10K dapat menjadi agenda tahunan dengan jumlah peserta yang terus meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Project Director Jogja 10K, Sentanu Wahyudi, menjelaskan event ini diinisiasi dari komunitas untuk komunitas. Sebanyak 105 komunitas lari dari berbagai daerah di Indonesia turut berpartisipasi.

Atraksi budaya

“Ini event dari runner untuk runner. Komunitas dari Sabang sampai Merauke berkumpul dan berlari bersama. Sepanjang rute juga disambut masyarakat dengan berbagai atraksi budaya,” jelasnya.

Tak hanya kategori utama 10K, panitia juga menyelenggarakan kategori 3K Heritage Walk yang memungkinkan peserta menikmati suasana kota dengan lebih santai. Pengambilan race pack dipusatkan di Plaza Malioboro yang turut diramaikan expo berbagai brand terkait dunia lari.

"Untuk memastikan kelancaran acara, panitia menyiagakan lebih dari 300 marshal serta berkolaborasi dengan Polresta Yogyakarta dalam pengamanan dan sterilisasi rute lomba," jelasnya. (*)