Jejak Masjid Pathok Negoro di Kleben: Rahasia Satu Abad Masjid Darunna’iem dan Bukti Peta Belanda 1933
Menelusuri sejarah 100 tahun Masjid Darunna’iem Kleben, Sleman. Benarkah arsitekturnya mengadopsi pakem Masjid Pathok Negoro? Simak bukti peta Belanda 1933
Bukti otentik keberadaan rumah ibadah ini diperkuat oleh temuan peta militer Belanda yang diterbitkan oleh Dinas Topografi Hindia Belanda pada tahun 1933. Dalam arsip tersebut, kawasan Kleben sudah ditandai secara permanen sebagai area masjid dan makam kuno.
“Penanda di peta 1933 itu adalah validasi ilmiah. Artinya, jauh sebelum tahun itu, aktivitas religi sudah mapan di sini. Secara usia, ini jelas sudah melewati satu abad,” ujar Hari Wahyudi, pegiat sejarah dari komunitas Citralekha Peradaban Yogyakarta.
Arsitektur “Tiban” yang Meniru Pakem Pathok Negoro
Bukan hanya soal usia, daya tarik utama Darunna’iem terletak pada kemiripan struktur bangunannya dengan Masjid Pathok Negoro. Sesepuh setempat, Sudjito (79), mengisahkan bahwa berdasarkan memori kolektif warga, masjid ini dulunya dikenal sebagai "masjid tiban".
Warga Kleben dan sekitarnya ikut berebut gunungan saat rangkaian acara peringatan 1 abad Masjid Darunna'iem di Dusun Kleben, Sleman. (istimewa)
Struktur aslinya memiliki luas 9 x 9 meter dengan atap ijuk dan ditopang oleh Sokoguru kayu yang kokoh—ciri khas bangunan suci di lingkungan keraton.
“Cerita turun-temurun menyebutkan bentuknya persis masjid Pathok Negoro. Bahkan, konon Pangeran Diponegoro pernah singgah di sini saat masa perjuangan,” ungkap Sudjito.
Hingga kini, meski telah mengalami renovasi, bagian sokoguru pada joglo utama tetap dipertahankan sebagai "nyawa" bangunan. Keberadaan sumur tiban dan makam kuno di sekitar lokasi semakin menguatkan statusnya sebagai situs religi penting di wilayah utara Yogyakarta.
Kirab Gunungan dan Akulturasi Budaya Satu Abad
Merayakan pencapaian 100 tahun, masyarakat dari tiga padukuhan (Kleben, Keceme, dan Bejen) menggelar rangkaian syukuran besar mulai Minggu (8/2/2026). Kirab budaya dengan empat gunungan hasil bumi menjadi simbol rasa syukur atas napas panjang dakwah di Darunna’iem.
Imam Masjid Darunna’iem, Nur Jamil Dimyati (69), menekankan bahwa masjid ini adalah simbol gotong royong abadi.
“Dulu warga membangun dengan membawa bambu dan kayu seadanya. Kini, tugas kami adalah merawat semangat itu,” katanya.
Rangkaian perayaan akan terus bergulir hingga Sabtu (14/2/2026) dengan menyajikan akulturasi seni-dakwah, mulai dari Festival Hadroh, Tari Kubro, kesenian Badui, hingga ditutup dengan Pengajian Akbar bersama Kiai Ahmad Zaenal Mubarok. Bagi warga Kleben, satu abad ini hanyalah awal untuk terus menjaga “Rumah Kenikmatan” tersebut bagi generasi mendatang. (*)
Siaran Pers
