Senin, 20 Sep 2021,


jangan-sendirian-cara-sineas-indonesia-bangkit-dari-kubur-pandemiPara pemain dan produser film Jangan Sendirian dalam premier di XXI, Sabtu (27/3/2021) malam. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)


Yvesta Putu Ayu Palupi
Jangan Sendirian, Cara Sineas Indonesia Bangkit dari Kubur Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Di tengah pandemi dan lesunya bisnis perfilman dunia, sineas muda Indonesia memberanikan diri membuat film baru. Bergenre horor, sutradra X Jo meluncurkan film berjudul Jangan Sendirian.


Tak main-main, karya anak bangsa ini menjadi salah satu film horor yang akan tayang serentak 1 April 2021 di seluruh Indonesia dan berikutnya lima negara ASEAN. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang dipilih dalam premier film ini, Sabtu (27/3/2021) malam.

  • Tak lagi Bersahabat, Christine Hakim Prihatin pada Ratna Sarumpaet
  • Waspadai, Terorisme Menyasar Kaum Muda

  • Aji Fauzi sang Produser Executive dari Adglow Pictures mengungkapkan setelah menunggu waktu sekitar dua tahun akhirnya film itu tayang dan mengajak masyarakat agar tidak takut nonton ke bioskop.

    Film ini juga siap memanjakan penonton dengan sensasi petualangan romansa campur keseraman, kengerian hingga ketakutan tanpa dibatasi oleh dramatikal seperti film sejenis yang sudah ada.

  • Pemain Film Ini Jadi Tumbal di Pabrik Gula Tua

  • “Saya bersyukur film Jangan Sendirian tayang serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia termasuk Maluku dan Papua. Dan tak tak disangka bisa diterima produser di beberapa negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei dan Kamboja serta beberapa aplikasi film dunia,” paparnya.

    Aji tak menampik pandemi memang tantangan utama yang harus dihadapi, namun merujuk respons positif yang diberikan pemerintah terhadap tututan insan perfilman Indonesia,  membuatnya optimistis industri perfilman kembali bangkit. Terlebih setelah pemerintah mengizinkan bioskop di seluruh Indonesia beraktivitas kembali per 1 April 2021.

    Berbeda dengan film bergenre horor lainnya, Jangan Sendirian banyak memangkas unsur drama dan dialog dari para pemainnya ditambah dengan mengambil lokasi syuting di Yogyakarta yang romantis, indah sampai tiga lokasi yang angker.

    “Mulai sekarang mari jangan takut lagi nonton sendirian, kalau mau nonton film ini juga jangan nonton sendirian karena bakal ada kejutan-kejutan dalam setiap adegan dari awal sampai akhir," paparnya.

    Henry Boboy yang juga pemain plus produser executive dari Yogyakarta menambahkan gagasan mengenai film yang dibintangi artis muda, Henry boboy (boy), Davin Jhonschaap (Sam), Agatha Valerie (Rubi), Jassi Tumbel (Anna), mendiang Robby Sugara (Tuan Broto) dibuat berdasarkan sesuatu yang sangat dekat serta pengalaman sehari-hari setiap orang.

    “Begitu banyak orang yang takut dengan kesendirian, takut gelap, hingga merasa diteror ketakutan sendiri tanpa sebab. Berangkat dari sinilah judul film Jangan Sendirian diharapkan bisa lebih mudah menempel di benak masyarakat atau calon penonton. Berbeda dengan genre horor pada umumnya, Jangan Sendirian banyak meminimalisir unsur drama serta dialog para pemain. Dipastikan, film ini akan dipenuhi oleh aksi-aksi horor yang segar serta tidak mudah ditebak alurnya," papar Boboy.

    Pria pengisi soundtrack film Jangan Sendirian ciptaan Eros Sheila On 7 ini mengharapkan film yang dibesutnya dengan konsep yang sangat menarik akan mampu memberikan hiburan berkelas bagi para penontonnya baik lokal, ASEAN sampai Eropa karena digarap dengan sangat serius dan memberikan tontonan kengerian setiap scene-nya.

    “Perbedaan signifikan dengan film horor lainnya adalah ada para penebar keseraman, ketakutan maupun histeria. Yang kami suguhkan bukanlah sosok hantu Klasik, tetapi sosok iblis dengan berbagai karakter modern-imajiner dan berbeda dari film horor yang pernah ada,” kata Aji.

    X Jo menambahkan, dia senang pasar luar negeri bisa menerima film yang sebagian besar syutingnya mengambil lokasi di Yogyakarta. Sebab dia menampilkan konsep film horor cukup berbeda.

    Dalam film berdurasi 85 menit itu, penonton tak lagi menemukan hantu khas Indonesia seperti pocong, jaelangkung, kuntilanak atau genderuwo. Tidak ada pula alur film horor yang biasanya berupa teror hantu, diawali dari seseorang atau kelompok yang datang ke rumah kosong, kuburan atau tempat angker sejenisnya.

    “Dalam film ini terorlah yang mendatangi orang-orang saat mereka sedang beraktivitas,” jelasnya. (*)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini