ISI Yogyakarta Perkuat Konservasi Seni Melalui Kolaborasi Internasional

Prodi Konservasi Seni ISI Yogyakarta sendiri masih tergolong muda, baru berdiri tiga tahun dan kini memiliki 90 mahasiswa

ISI Yogyakarta Perkuat Konservasi Seni Melalui Kolaborasi Internasional
Peresmian kerja kolaborasi antara Cheng Shiu University dengan ISI Yogyakarta ditandai dengan membuka tirai penutup plakat di Gedung Ajiyasa FSRD ISI Yogyakarta. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL–Upaya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta dalam mengembangkan program studi Konservasi Seni mendapat dukungan penting dari lembaga mitra internasional. 

ISI Yogyakarta secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan Cheng Shiu University (CSU), Taiwan melalui kegiatan bertajuk “Collaboration Art, Craft, Design Conservation Studio”.

Kegiatan yang digelar di kampus FSRD ISI Yogyakarta ini menjadi tonggak baru dalam penguatan keilmuan konservasi seni, khususnya melalui workshop dan pertukaran akademik. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan langsung oleh Dr. Tommy Cheng, Vice Rector of Cheng Shiu University dan Rektor ISI Yogyakarta.

“Kami sudah memulai kerja sama sebelumnya dalam bentuk pertukaran mahasiswa. Empat mahasiswa kami telah mengikuti perkuliahan satu semester di Cheng Shiu University,” ujar Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T., Dekan FSRD ISI Yogyakarta pada Rabu (23/7/2025.

“Hari ini, kerja sama itu kami perkuat lagi dengan penandatanganan MoU dan pelaksanaan workshop konservasi seni,” imbuhnya.

Kolaborasi ini tak hanya mencakup aspek formal institusi, tetapi juga menyentuh ranah praktik. Dalam kegiatan workshop, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Museum Affandi, yang akan menghadirkan salah satu lukisan karya maestro Affandi sebagai objek praktik konservasi nyata bagi dosen-dosen terlibat.

“Ini kesempatan luar biasa. Para dosen bisa langsung belajar dari tim konservator berpengalaman terhadap karya asli yang sangat bernilai,” tambah Salahuddin. 

Workshop ini diikuti oleh 10 peserta, terdiri dari lima dosen Prodi Konservasi Seni dan lima dosen dari prodi lain di lingkungan FSRD ISI Yogyakarta.

Prodi Konservasi Seni ISI Yogyakarta sendiri masih tergolong muda, baru berdiri tiga tahun dan kini memiliki 90 mahasiswa. Diharapkan, lulusan pertama akan dihasilkan pada tahun 2027. 

Menutup sambutan, pihak ISI Yogyakarta juga mengundang Cheng Shiu University untuk turut berpartisipasi dalam ajang Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF) ke-4 pada 2026 mendatang, sekaligus memperluas jangkauan internasional dari program yang dikembangkan di kampus seni tersebut.

Dalam sambutannya, Dr. Tommy Cheng mengungkapkan kebanggaannya bisa kembali hadir di Yogyakarta setelah kunjungan pertamanya setahun lalu. Ia menegaskan bahwa bidang konservasi seni menjadi prioritas di Taiwan, dengan dukungan penuh dari pemerintah. 

“Pusat konservasi seni di Taiwan adalah salah satu yang terpenting di Asia. Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal pembentukan pusat konservasi baru di Yogyakarta,” ucapnya.

Selain Dr. Cheng, rombongan Cheng Shiu University juga terdiri dari nama-nama penting di bidang desain dan konservasi seni, di antaranya Dr. I-Cheng Li (Director of Conservation Center), Dr. Pin-Chia Huang dan Dr. Hsiao-Meng Su (Professors of Design Department), Professor Chien-Hua Lu (Painting Conservator), Ms. Yi-Lin Yang (Painting Conservator), serta Ms. Celeste Chang (Assistant).

Dengan semangat berbagi ilmu dan lintas budaya, ISI Yogyakarta dan Cheng Shiu University menegaskan bahwa konservasi seni bukan sekadar upaya teknis menjaga benda bersejarah, melainkan bagian dari diplomasi budaya yang saling memperkaya antarbangsa. (*)