Terungkap Asal Muasal Poin Penting Isi Perjanjian Giyanti, Ternyata Diawali Tatap Muka Pangeran Mangkubumi dan Hartingh
Pangeran Mangkubumi sangat waspada terhadap tipu daya Belanda. Untuk itulah Belanda mengirim mediator seorang ulama ahli agama dari Timur Tengah yang membuat Pangeran Mangkubumi percaya untuk melakukan perundingan
KORANBERNAS.ID, BANTUL--Tim dari Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) yang terdiri dari 6 orang yaitu Lilik Suharmaji, Chaterina Etty, Mei Ujianti, Pradana, Marmayadi dan Jordan, melakukan ekspedisi ke tempat bersejarah yang sampai sekarang belum dikenal masyarakat luas. Tempat itu adalah Dukuh Pedagangan (sekarang Dagangan), Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.
Dalam rilisnya yang dikirimkan ke koranbernas.id, Rabu (23/7/2025) Lilik menjelaskan jika kegiatan dilaksanakan pada Sabtu (19/7/2025) lalu.
Tempat bersejarah yang belum dikenal bahkan belum ada petilasan itu, adalah tempat bertemunya Pangeran Mangkubumi dengan Gubernur Pantai Timur Jawa Nicolaas Hartingh (menjabat 1754-1761), untuk membicarakan poin-poin penting yang nantinya dirumuskan dalam naskah Perjanjian Giyanti.
Pertemuan itu terjadi pada Minggu 22 September 1754 di Pedagangan Grobogan. Pertemuan ini terjadi karena adanya kemajuan pesat komunikasi antara pihak Pangeran Mangkubumi dengan pihak Belanda. Kemajuan ini berawal dari strategi Belanda yang mengirim mediator seorang sayid yang bernama Sayid Ibrahim.
“Saat itu memang Pangeran Mangkubumi sangat waspada terhadap tipu daya Belanda. Untuk itulah Belanda mengirim mediator seorang ulama ahli agama dari Timur Tengah yang membuat Pangeran Mangkubumi percaya untuk melakukan perundingan. Perundingan mereka berlangsung di Simo, Timur Laut Boyolali pada bulan Juni 1754,” kata Lilik.
Dalam Babad Giyanti, lanjutnya dikisahkan pertemuan di Pedagangan itu Pangeran Mangkubumi sudah digambarkan sebagai raja. Pada saat itu Pangeran Mangkubumi menerima kedatangan Hartingh, sehingga gubernur pantai timur yang pandai berbahasa Jawa dan mempunyai pengetahuan luas mengenai tradisi dan budaya Jawa sebagai tamunya Pangeran Mangkubumi.
“Saat pertemuan itu, sebagaimana isi Babad Giyanti, Pangeran Mangkubumi mengenakan baju putih, dan kain bergambar khas Jawa, mungkin kain batik. Menyandang dua keris dan ikat kepala kain linen halus yang berjahit benang emas pada kepalanya,” kata Lilik.
Setelah pertemuan di Pedagangan inilah, maka seterusnya terjadi komunikasi antara Gubernur Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi yang kemudian berujung pada penandatanganan Perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, Karanganyar.
Usai ke lokasi, tim PSN bertemu dengan Kepala Desa Sugihan Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Eko Purnomo, S.Kor dan berdiskusi seputar arti pentingnya Dusun Dagangan dalam sejarah perjuangan bangsa. Maka dari PSN mengusulkan agar di dusun itu dicarikan tanah khas desa untuk dijadikan petilasan Mangkubumi.
Tentunya jika bangunan itu terwujud maka dapat membawa nama harum desa setempat, dan meningkatkan ekonomi kerakyatan seiring dengan berbagai acara seperti yang sudah berjalan di Situs Giyanti sekarang ini.
“Memang PSN ini dibentuk bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan sejarah dan budaya Yogyakarta, serta melakukan penelitian dan kajian terkait Sejarah Mataram dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,” pungkas Lilik. (*)
Sariyati Wijaya
