Ini Bukti Keseriusan Gilangharjo Lindungi Perempuan dan Anak

Ini Bukti Keseriusan Gilangharjo Lindungi Perempuan dan Anak

KORANBERNAS.ID, BANTUL--Pemerintah Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak Bantul, sangat serius memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Selain kebijakan, keseriusan juga terlihat dari dukungan anggaran yang besar.

Tahun 2020, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), mendapat kucuran anggaran Rp 170 juta dari APBDesa.

“Untuk anggaran yang langsung ke Satgas PPA di APBDesa mencapai 170 juta. Jika saya hitung anggaran lain yang ada kaitan dengan program perempuan dan anak, maka angkanya mencapai 16 persen APBDesa atau setara 600 juta. Misalnya program PKK, Posyandu ataupun juga dukungan untuk PAUD dan TK yang ada di sini,” kata Ketua Satgas PPA Gilangharjo, Zainul Zain S.Ag kepada koranbernas.id, disela kegiatan peningkatan kapasitas bagi kader Satgas PPA di Balai Desa Gilangharjo, Selasa (3/02/2020) siang.

Selain anggaran, tentu saja kebijakan yang dibuat juga mengedepankan perlindungan kepada perempuan dan anak. Termasuk bagaimana anak dilibatkan dalam pembuatan dan perumusan program. Karena memang desa ini telah memiliki forum anak Gilangharjo.

Selain itu, untuk jumlah kader Satgas PPA juga bertambah dari awalnya 40 orang, kini menjadi 60 orang, dengan 7 orang diantaranya adalah laki-laki.

“Tugas kami ada dua yakni respon ketika terjadi kekerasan di masyarakat. Baik pelakunya sesama anak-anak, kerabat dekat atau orang luar. Karena berdasarkan catatan, yang terbanyak melakukan kekerasan adalah orang dekat. Kita harus tunjukkan empati kita, kita dampingi termasuk bagaimana solusinya. Dan tugas lain adalah mencegah terjadinya kekerasan di tengah masyarakat,” katanya.

Caranya, adalah bagaimana anak-anak, lingkungan dan pengampu kebijakan bisa paham tentang perlindungan terhadap anak dan perempuan.

“Kita ada sosialisasi kepada anak tentang bagaimana cara menghadapi bahaya. Cara menghindari, pemberdayaan anak dan mengadvokasi mereka. Juga bagaimana menumbuhkan keberanian mereka untuk bisa bilang “tidak” ketika ada ancaman kekerasan terhadap mereka. Jadi mampu menolak dan menghindari,”kataya.

Adanya Satgas PPA yang terbentuk tahun 2027 dan diawali dengan embrio Komite Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (KKPA) tahun 2012,

lanjut Zainul juga melakukan pendampingan terhadap 150 keluarga selama tahun 2020 di 15 pedukuhan. Munculnya kasus di keluarga itu kemudian di telaah dan juga semua keluarga didampingi untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul.

“Termasuk bagaimana kita memberikan pemahaman tentang pola asuh yang benar agar tidak ada kekerasan yang terjadi di dalam keluarga,”katanya.

Pihaknya juga menggandeng pihak lain seperti Puskesmas, untuk materi kesehatan reproduksi dan KUA yang memberikan materi tentang membentuk keluarga bahagia .

“Kita hampir satu bulan berkeliling untuk melakukan sosialisasi sehingga menambah wawasan masyarakat,”katanya.

Maka untuk mampu menjalankan segala tugas dan fungsi tadi, diberikan pembekalan bagi Satgas PPA selama dua hari, Selasa (3/02/2020) dan Rabu (4/02/2020) bekerjasama dengan Yayasan Samin.

Diantaranya, kader satgas diajak untuk melakukan diskusi dan telaah kasus hingga mencari solusi, memahami perlindungan anak dan konvensi hak anak yang diakui secara internasional. (SM)