Gelorakan Semangat "Harambee", Mahasiswa IKS UIN Sunan Kalijaga Turun ke Jalan Demi Kesejahteraan Sosial
IKS UIN Sunan Kalijaga merayakan World Social Work Day 2026 dengan kampanye publik dan talkshow. Mengusung tema Harambee, mahasiswa suarakan peran penting pekerja sosial
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengguncang Kota Pelajar dengan rangkaian aksi nyata memperingati World Social Work Day 2026. Mengusung tema global "Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society," para calon pekerja sosial ini turun ke jalan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya harmoni dan keadilan sosial di tengah keberagaman.
Aksi kolaboratif ini melibatkan berbagai elemen penting, mulai dari Laboratorium Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial (LP3S), HMPS IKS, Alumni (AKSES), hingga praktisi profesional dari IPSPI DIY. Mereka memulai gerakan dengan Social Work Campaign di tiga titik nadi Yogyakarta, yakni Tugu, Titik Nol Kilometer, dan Alun-alun Utara. Tak hanya berorasi, para mahasiswa membagikan leaflet dan takjil sebagai simbol nyata kehadiran pekerja sosial yang merangkul masyarakat bawah secara langsung.
Membedah Filosofi Harambee dalam Tradisi Gotong Royong
Puncak peringatan berlanjut dengan Talkshow inspiratif di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Selasa (10/3/2026). Pakar IKS, Dr. Arin Mamlakah Kalamika, membedah filosofi Harambee asal Afrika yang bermakna “Menarik Bersama”.
Ia menegaskan bahwa nilai ini sejatinya identik dengan nafas gotong royong bangsa Indonesia. Sementara itu, praktisi lapangan Putri Jati Pertiwi dan relawan muda Raidah Syahirah berbagi kisah heroik saat mendampingi warga di Sekolah Rakyat serta menangani trauma psikososial pasca-bencana di Aceh.
Ketua Program Studi IKS UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Izzul Haq, PhD, berharap momentum ini memperkuat posisi pekerja sosial sebagai aktor strategis pembangunan nasional. “Kami ingin menginspirasi lebih banyak pihak untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan sejahtera,” tegasnya.
Acara yang dihadiri sekitar 100 mahasiswa ini ditutup dengan syahdu lewat pembacaan puisi musikal oleh mahasiswa difabel, Akbar Ariantono, yang membuktikan bahwa semangat harmoni melampaui segala keterbatasan fisik. (*)
Siaran Pers
