Gaya Keren Mahasiswa Geografi UNY, Turun ke Lumpur Baros Demi Selamatkan Pesisir Bantul
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY angkatan 2024 menggelar aksi nyata penanaman mangrove di Pantai Baros, Bantul. Langkah konkret ini menjadi upaya strategis dalam menjaga ekosistem pesisir selatan Yogyakarta dari ancaman abrasi sekaligus mendukung pencapaian SDGs
KORANBERNAS.ID, BANTUL--Kawasan pesisir selatan Yogyakarta tidak hanya identik dengan gulungan ombak besar dan hamparan pasir yang luas. Di sudut Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, terdapat Pantai Baros—sebuah wilayah muara sungai berair payau yang memegang peran krusial bagi keseimbangan ekologi hilir.
Menyadari pentingnya menjaga benteng hijau tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2024 turun langsung ke kawasan berlumpur Pantai Baros untuk melaksanakan aksi penanaman mangrove.
Dipandu oleh dosen pengampu mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan, Primanisa Inayati Azizah, M.Pd., kelompok mahasiswa di antaranya Alivia Indah, Nicola Saputra, Muhammad Rasyid, Kara Nugrahanny, Rizqi Hidayat, Nahroini Falaah, Rafsan Akbar, beserta rekan-rekan seangkatan lainnya tampak antusias membelah lumpur pesisir.
Kepada redaksi koranbernas.id, Kamis (21/5/2026), Primanisa Inayati Azizah menjelaskan bahwa aksi pelestarian lingkungan ini telah sukses dilaksanakan pada Minggu, 10 Mei 2026 lalu.
“Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk aksi nyata kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan pesisir. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya konkret dalam mendukung program pembangunan ekosistem yang berkelanjutan,” ujar Primanisa tegas.
Laboratorium Alam dan Benteng Pesisir
Mengenakan ranger (seragam lapangan) khas Geografi UNY berwarna merah menyala, para mahasiswa mengombinasikan semangat akademis dengan kerja otot. Mereka bahu-membahu menancapkan bibit-bibit mangrove di area perairan dangkal. Langkah ini sekaligus menjadi ruang implementasi keilmuan yang selama ini hanya dikaji di ruang kuliah.
Pantai Baros sengaja dipilih, karena karakteristiknya yang unik. Sebagai habitat berlumpur, kawasan ini menjadi rumah aman bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, kepiting, udang, hingga burung air. Namun, tanpa perawatan dan penanaman vegetasi yang masif, kawasan ini rentan mengalami degradasi.
“Melalui praktik langsung di lapangan, artinya mahasiswa tidak belajar teori. Mereka dapat memahami langsung kondisi geografis wilayah pesisir, karakteristik mikro ekosistem mangrove, hingga menangkap berbagai tantangan lingkungan nyata yang dihadapi kawasan pantai saat ini,” kata Primanisa.
Secara ekologis, hutan mangrove memiliki fungsi multifaset. Akarnya yang kokoh mencengkeram tanah rawa terbukti efektif menahan hantaman abrasi akibat gelombang laut, sehingga garis pantai Bantul tetap stabil. Lebih dari itu, hutan mangrove bertindak sebagai perisai alami dari ancaman banjir rob yang kerap menghantui warga pesisir, sekaligus menjadi penyerap karbon dioksida (carbon sink) raksasa demi memitigasi dampak perubahan iklim global.
Sinergi Nyata Mendukung SDGs
Aksi lingkungan yang dimotori oleh mahasiswa Geografi UNY ini juga dirancang searah dengan agenda global, khususnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 15: Life on Land (Menjaga Ekosistem Daratan). Poin ini memberikan mandat berat terkait perlindungan, pemulihan, dan pemanfaatan ekosistem daratan dan pesisir secara berkelanjutan.
Lewat peluh dan lumpur di Pantai Baros, para mahasiswa UNY ini mengirimkan pesan kuat ke publik: peran intelektual muda tidak boleh mandek di balik meja dan literatur ilmiah. Mereka harus hadir, menginjakkan kaki di bumi, dan membawa dampak nyata bagi kelestarian lingkungan masyarakat lokal. (*)
Sariyati Wijaya
