Ganjar Pranowo Ajak Mahasiswa UNISA Kritis tapi Santun
Teman-teman tidak harus demo. Anda bisa menggunakan jalur konstitusi, yaitu judicial review.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah namun tetap santun dan berbasis data.
Pesan itu disampaikan pada Kuliah Kebangsaan bertema Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat di Era Kontemporer: Refleksi atas Dinamika Sosial Politik di Indonesia di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Jumat (24/10/2025).
“Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Menteri X, kok tidak tepat ya? Karena saya membaca datanya seperti ini. Rasanya perbaiki dulu datanya, baru kemudian diambil kesimpulannya. Nggak usah pakai kata-kata kadar dan tak pantas. Waduh, ngeri didengarkan. Nggak enak,” ujar Ganjar memberikan contoh di hadapan ratusan mahasiswa.
Ganjar menilai kritik yang baik harus berbasis pada data dan dilakukan dengan cara beradab. Contoh, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan yang perlu dikritisi secara konstruktif. “MBG bagus? Bagus niatnya, semangatnya bagus. Ketika praktiknya tidak bagus, apa yang harus kita lakukan?” katanya.
Magang legislatif
Menurut politikus PDI Perjuangan itu, partisipasi publik sangat penting dalam perumusan kebijakan agar tidak sekadar menjadi wacana politik. Mahasiswa perlu memahami proses kebijakan melalui magang di lembaga legislatif.
“Anda bisa magang di parlemen, di DPRD, magang di kampus juga boleh. Nanti prosesnya akan mudah terinternalisasi jika Anda akan memimpin,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ganjar juga menyinggung pentingnya menggunakan jalur hukum ketimbang aksi jalanan dalam menyampaikan aspirasi. “Teman-teman tidak harus demo. Anda bisa menggunakan jalur konstitusi, yaitu judicial review. Banyak sekarang mahasiswa yang melakukannya dan menang,” jelasnya.
Dia turut menyoroti kondisi kebebasan pers di Indonesia yang kini berada di peringkat 127 dari 180 negara. Menurut Ganjar, kebebasan berpendapat tetap harus dibarengi tanggung jawab moral dan etika. “Sebagai warga bangsa, bukan berarti kita seenaknya. Kalau ada data, kasih. Tapi kalau tidak ada, jangan dikira-kira,” tegasnya.
Kelompok menengah
Ganjar juga menyinggung fenomena kelompok menengah yang mulai peduli politik akibat tekanan ekonomi, serta meningkatnya beban generasi muda yang harus menanggung tanggung jawab finansial keluarga.
Dia bahkan memberi tugas konkret bagi mahasiswa kebijakan publik untuk mengecek dan mengawal Program Legislasi Daerah (Prolegda) di daerah masing-masing agar kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat.
“Godaan Anda berat. Bisa godaan korupsi, nepotisme. Dulu aktivisnya dia, kok sekarang jadi begitu ya? Ujian paling berat justru saat berkuasa,” pesan Ganjar menutup kuliah kebangsaan tersebut.
Sebelum Ganjar, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional UNISA, Dr Muhammad Ali Imran M Sos M Fis menyampaikan materinya serta memberikan apresiasi atas kehadiran Ganjar.
Pelajaran hidup
Sosok mantan gubernur dua periode itu bukan hanya mengajarkan lewat materi, tapi juga lewat keteladanan hidup. “Pak Ganjar memberi pelajaran bagi kita semua melalui kehidupannya,” ujarnya.
Kuliah kebangsaan yang berlangsung di kampus terpadu UNISA Yogyakarta itu diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai program studi. Suasana acara berlangsung hangat, diselingi tawa saat Ganjar menyampaikan pengalaman kepemimpinannya dengan gaya khasnya yang lugas dan humoris. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
