Enchanted Elegance, Pameran Pernikahan Jadi Simbol Kebangkitan Industri Kreatif Yogyakarta
Tren pameran sekarang bukan lagi siapa yang paling besar dekorasinya, tapi siapa yang paling punya konsep.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Dunia wedding di Yogyakarta kembali bergairah. Setelah lebih dari tiga tahun lesu akibat pandemi, geliat industri kreatif mulai terasa lewat Jason Enterprise Wedding Expo Enchanted Elegance yang digelar di Grand Atrium Pakuwon Mall, 31 Oktober-2 November 2025.
Ajang yang menghadirkan 46 vendor pilihan ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang kolaborasi dan inovasi bagi para pelaku industri pernikahan. Dari dekorator, fotografer, hingga desainer busana, semuanya bersatu menghadirkan gagasan segar tentang arti pernikahan masa kini.
“Ekspo kali ini kami buat dengan semangat baru. Bukan cuma soal bisnis, tapi tentang bagaimana dunia wedding bisa tumbuh lagi sebagai bagian dari industri kreatif di Yogyakarta,” ujar Jason Lin, pendiri Jason Enterprise, Jumat (31/10/2025) malam.
Menurut Jason, tema Enchanted Elegance dipilih untuk memadukan keanggunan modern dengan pesona imajinatif ala dunia dongeng. Namun di balik kemewahan visual, ada pesan penting tentang keterbukaan dan kolaborasi.
Adaptif dan terbuka
Sejak berdiri pada 2012, Jason Enterprise telah empat kali menggelar expo serupa. Namun tahun ini terasa berbeda karena lebih artistik, lebih ringkas, tapi tetap menawan. Dekorasi yang biasanya penuh blocking kini dirancang ringan. Dengan ruang yang luas interaksi antarvendor dan pengunjung lebih hidup.
“Tren pameran sekarang bukan lagi siapa yang paling besar dekorasinya, tapi siapa yang paling punya konsep. Kami ingin menghadirkan atmosfer kreatif di mana vendor bisa menampilkan karya sekaligus berbagi inspirasi,” jelasnya.
Kebangkitan ini juga terlihat dari meningkatnya minat calon pengantin. Banyak pasangan yang datang bukan hanya untuk berburu promo, tapi juga mencari ide personalisasi pernikahan. Dari konsep fairy tale hingga back to nature, semuanya tampil dalam format yang lebih modern.
Penuh makna
“Sekarang orang nggak cuma mau pesta mewah. Mereka ingin pernikahan yang punya cerita. Itu kenapa tren minimalist elegant jadi favorit. Lebih sederhana tapi penuh makna,” katanya.
Tak hanya soal gaya, perubahan perilaku pascapandemi juga terasa. Pesta besar dengan ribuan tamu kini jarang, bergeser ke acara intimate wedding dengan 300-400 undangan. “Biasanya pasangan ingin yang hangat dan personal, sementara orang tua tetap ingin suasana ramai. Jadi mereka cari jalan tengah,” katanya.
Bagi Jason, perubahan ini justru membuka ruang inovasi. Banyak vendor kini fokus pada detail seperti pencahayaan, elemen natural hingga undangan digital yang sedang naik daun. Beberapa di antaranya bahkan datang dari luar kota untuk memperkaya warna pameran.
“Bidang undangan digital dan konten visual sekarang berkembang pesat. Ini sinyal bahwa industri wedding bukan hanya tentang pesta, tapi juga tentang pengalaman digital dan storytelling,” ujarnya.
Peluang baru
Jason berharap Enchanted Elegance bisa menjadi wadah yang mempertemukan ide, karya dan peluang baru. “Wedding itu dunia kreatif yang kompleks, ada seni, desain, komunikasi, hingga psikologi di dalamnya. Kami ingin menjembatani semuanya dalam satu ruang inspirasi,” tegasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Jason Enterprise Wedding Expo menjadi bukti bahwa kebangkitan industri kreatif Yogyakarta tak hanya datang dari panggung seni dan desain, tapi juga dari dunia pernikahan, tempat di mana estetika, bisnis dan mimpi berpadu dalam harmoni yang elegan.
Enchanted Elegance dirancang untuk menampilkan sisi romantis dan magis khas dunia dongeng, namun tetap relevan dengan tren pernikahan modern.
“Biasanya pameran wedding itu terlalu banyak blocking atau sekat yang membuat suasana jadi kaku. Sekarang kami ubah, booth dibuat lebih terbuka supaya vendor bisa berkolaborasi dan pengunjung lebih nyaman melihat. Ini konsep baru yang kami sebut incentive elegant, tampilan elegan yang menginspirasi,” jelasnya.
Perubahan selera
Konsep ini juga menjadi jawaban atas perubahan selera pasangan muda. Tren pernikahan kini bergerak ke arah minimalist elegant sederhana, artistik, dan penuh makna. Gaya pesta juga ikut berubah. Setelah pandemi, pesta berskala kecil semakin diminati.
“Sekarang rata-rata tamu 300-400 orang. Kalau dulu bisa sampai seribu, sekarang lebih intim. Biasanya pasangan ingin yang hangat dan simpel, tapi orang tua tetap ingin ramai, jadi komprominya di angka itu,” ujarnya.
Selain menampilkan tren dan inspirasi terbaru, Jason Enterprise juga menjadikan expo ini sebagai sarana edukasi bagi calon pengantin agar lebih cermat memilih vendor.
“Sekarang banyak banget penipuan di dunia wedding. Jadi kami selalu tekankan pentingnya memilih vendor terpercaya. Jangan hanya percaya dari media sosial, tapi lihat juga pengalaman klien sebelumnya,” tegas Jason.
Kurasi ketat
Seluruh peserta expo, lanjutnya, telah melalui proses kurasi ketat. Dia hanya mengundang vendor dengan reputasi baik dan jam terbang cukup. "Bahkan sistem pembayaran pun kami buat terbuka. klien boleh bayar langsung ke vendor atau melalui kami. Semua aman dan transparan,” ujarnya.
Untuk menambah antusiasme, Jason Enterprise menyiapkan dua kategori doorprize menarik yakni hadiah utama untuk transaksi awal (DP) dan hadiah tambahan bagi pengunjung yang menambah DP selama pameran berlangsung.
“Untuk DP awal hadiahnya iPhone, dan untuk penambahan DP ada paket honeymoon. Jadi semua punya kesempatan menang, dengan sistem yang adil,” kata Jason. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
