Didampingi Dosen UII, Jamu Tradisional KWT Puspa Gemari Pleret Kini Dikemas Modern

Kami ingin membangun citra bahwa jamu itu bukan produk kelas dua. Bisa naik kelas, bisa dikemas dengan estetika modern tanpa meninggalkan nilai tradisional.

Didampingi Dosen UII, Jamu Tradisional KWT Puspa Gemari Pleret Kini Dikemas Modern
Pembinaan KWT Puspa Gemari di Pleret Bantul oleh dosen UII. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Kelompok Wanita Tani (KWT) Puspa Gemari di Pleret Bantul kini mengalami transformasi bisnis yang signifikan. Melalui program pendampingan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, para perempuan yang selama ini meracik jamu tradisional tidak lagi hanya mengandalkan keterampilan turun-temurun, tetapi juga mulai menguasai strategi bisnis modern.

Mereka mulai dari perhitungan biaya produksi, desain kemasan hingga pemasaran digital. Program ini merupakan bagian dari upaya UII untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan perempuan desa.

Pendampingan dilakukan secara intensif oleh dosen UII Dr Rosita bersama Dr Dessy Isfianadewi. Mereka menjadi pendamping sebagai bentuk pengabdian masyarakat berbasis keilmuan ekonomi dan kewirausahaan.

“Kami melihat potensi luar biasa dari KWT Puspa Gemari. Mereka sudah memiliki produk yang kuat secara kultural yaitu jamu tradisional, tetapi masih menghadapi berbagai kendala dalam aspek bisnis,” ujar Rosita melalui keterangan tertulis, Senin (21/7/2025).

Produk jamu tradisional KWT Puspa Gemari Pleret Bantul. (istimewa)

Salah satu perubahan yang paling tampak adalah transformasi kemasan produk. Semula menggunakan botol plastik polos dengan label seadanya, kini produk jamu KWT Puspa Gemari tampil dalam botol kaca berlabel modern, hasil desain melalui platform digital seperti Canva yang juga diajarkan dalam pelatihan.

“Kami ingin membangun citra bahwa jamu itu bukan produk kelas dua. Bisa naik kelas, bisa dikemas dengan estetika modern tanpa meninggalkan nilai tradisional,” jelas Rosita.

Inovasi kemasan ini tidak hanya membuat produk terlihat lebih profesional, tetapi juga membuka peluang baru untuk masuk ke pasar yang lebih luas dan segmen yang lebih muda, termasuk konsumen daring.

Aspek penting lain dalam pendampingan adalah pelatihan costing produk. Selama ini, banyak anggota KWT kesulitan menghitung secara tepat biaya produksi yang berdampak pada harga jual yang tidak kompetitif atau keuntungan yang tidak maksimal.

Kemandirian

“Setelah pelatihan, 12 dari 20 anggota kini sudah mampu menghitung sendiri biaya produksi mereka. Ini langkah penting menuju kemandirian usaha,” tegas Rosita.

Dengan pemahaman dasar ini, KWT Puspa Gemari mulai lebih percaya diri menetapkan harga yang wajar, mencatat margin keuntungan, dan bahkan merancang strategi diskon saat pameran.

Langkah digitalisasi juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam program tersebut. UII mendorong KWT Puspa Gemari tidak hanya bergantung pada penjualan offline, tetapi juga mulai merambah e-commerce. Produk jamu kini tersedia di Shopee, dengan sistem Purchasing Order (PO) yang membantu menghindari kerugian akibat produk tidak laku.

“Dengan sistem PO, kami bisa memastikan produk dibuat sesuai permintaan. Tidak ada stok menumpuk, tidak ada limbah, zero waste,” jelas Rosita.

Semakin sadar

Penerapan prinsip bisnis berkelanjutan ini membuat kelompok tidak hanya naik kelas secara ekonomi, tetapi juga semakin sadar akan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Dukungan terhadap program ini tidak hanya datang dari UII, tetapi juga dari kepolisian daerah (Polda) DIY. Produk jamu KWT bahkan telah dipamerkan dalam ajang kompetisi UMKM tingkat provinsi, menjadi bukti nyata bahwa hasil pendampingan ini mendapat pengakuan publik.

“Dari awal kami menekankan bahwa ini bukan proyek jangka pendek. Kami ingin menciptakan model pemberdayaan perempuan yang bisa direplikasi di wilayah lain,” kata Rosita.

Dalam waktu dekat, KWT Puspa Gemari menyiapkan strategi ekspansi ke platform TikTok Shop, melihat tren konsumen muda yang semakin bergeser ke platform berbasis video.

Kekuatan lokal

Bagi Rosita, kunci keberhasilan pemberdayaan terletak pada kesadaran menggali kekuatan lokal. “Bisnis berbasis pertanian adalah tulang punggung ekonomi desa. Jika kita perkuat dari sisi pengetahuan dan teknologi, maka kita bisa menciptakan dampak besar,” ujarnya.

Dia menambahkan kolaborasi ke depan tidak berhenti di sini. UII berkomitmen terus mendampingi KWT, baik dalam pengembangan varian produk herbal, maupun dalam akses pendanaan melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan jejaring UMKM nasional.

Transformasi yang dialami KWT Puspa Gemari bukan hanya tentang peningkatan omzet atau kemasan yang lebih cantik. Ini adalah soal martabat, kepercayaan diri, dan kemampuan perempuan desa untuk menjadi subyek dari perubahan ekonomi yang inklusif.

“Bila satu kelompok bisa tumbuh, maka desa akan bergerak. Inilah esensi dari empowerment through enterprise,” katanya. (*)