Dari Pacuan Kuda hingga Panggung Musik, SARGA Festival Satukan Tradisi dan Modernitas

Bagus ini, anak muda jadi kenal sama dunia pacuan kuda. Selama ini dianggapnya olahraga orang tua.

Dari Pacuan Kuda hingga Panggung Musik, SARGA Festival Satukan Tradisi dan Modernitas
Penampilan Batas Senja dalam Sarga Festival 2025 di Stadion Sultan Agung Bantul, Sabtu (26/7/2025) malam. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Suasana Lapangan Pacu Kuda Stadion Sultan Agung berubah total menjadi arena pesta kebun yang meriah, Sabtu (26/7/2025) malam. SARGA Festival yang menghadirkan Last Child, Nadhif Basalamah, Banda Neira, Batas Senja dan Masdddho terbukti mampu mewujudkan visi menggabungkan tradisi pacuan kuda dengan hiburan musik kontemporer.

Yang menarik, konsep unik ini berhasil mengundang ribuan pengunjung dari berbagai kalangan usia. Mulai dari keluarga muda yang membawa anak-anak, hingga komunitas pecinta musik indie yang penasaran dengan nuansa baru festival musik di arena pacuan kuda.

Rina Sari (28), warga Bantul yang datang bersama keluarga mengaku terkejut dengan konsep acara ini. "Awalnya saya pikir ini cuma konser biasa, tapi ternyata ada edukasi tentang pacuan kuda juga. Anak saya jadi tahu kalau olahraga ini ternyata keren banget," ujarnya sambil menggendong putrinya berusia 5 tahun.

Sementara Dimas Aditya (22), mahasiswa UGM yang datang bersama teman-temannya, mengaku terkesan dengan setting panggung yang unik.

Edukasi 

"Gila sih, ini pertama kali gue nonton konser di arena pacuan kuda. Vibes-nya beda banget dari venue musik lainnya. Last Child kemarin performanya gokil di tengah suasana yang nggak biasa gini," ceritanya penuh antusias.

"Untuk line-up sekelas Last Child dan Banda Neira, harga segini tuh sangat reasonable. Apalagi dapat bonus edukasi tentang pacuan kuda dan suasana yang beda dari konser indoor," ungkapnya.

Sutrisno (65), sesepuh pecinta pacuan kuda yang sudah puluhan tahun mengikuti perkembangan olahraga ini, memberikan apresiasi tinggi.

"Bagus ini, anak muda jadi kenal sama dunia pacuan kuda. Selama ini kan dianggapnya olahraga orang tua. Sekarang dengan musik-musik kekinian begini, generasi muda bisa tertarik," ujarnya sambil tersenyum lebar.

Respons positif

Marketing & Operations SARGA.CO, Kevin Jonathan Van Houten, tampak puas dengan antusiasme pengunjung. Menurutnya, respons positif ini membuktikan bahwa strategi mengemas pacuan kuda dalam kemasan festival musik berhasil.

"Yang kami lihat malam ini sangat menggembirakan. Ada keluarga yang tadinya cuma mau nonton Nadhif Basalamah, tapi akhirnya ikut menyaksikan demo kuda dan tertarik untuk datang lagi ke IHR-Indonesia Derby 2025," jelasnya.

Dengan harga tiket mulai dari Rp 20 ribu-an, SARGA Festival terbukti dapat menarik perhatian luas.

Sedangkan Aseanto Oudang selaku EO sekaligus Co-Founder SARGA.CO, optimistis kesuksesan festival ini akan berdampak positif pada persepsi masyarakat terhadap pacuan kuda.

Dikemas modern

"Malam ini adalah bukti bahwa olahraga tradisional bisa dikemas dengan cara modern tanpa kehilangan esensinya," jelasnya.

Keberhasilan SARGA Festival ini diharapkan dapat menjadi model mengangkat kembali popularitas pacuan kuda di Indonesia, sekaligus menciptakan ekosistem hiburan baru yang menggabungkan tradisi dan modernitas. (*)