Kisah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto Dituangkan dalam Film Believe

Beberapa kali Prabowo Subianto muncul menjadi bagian lanskap sejarah kehidupan karier Agus Subiyanto.

Kisah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto Dituangkan dalam Film Believe
Aktor Ajil Ditto menyampaikan penjelasan terkait film Believe dalam roadshow di Yogyakarta, Sabtu (26/7/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Setelah menggugah emosi 272.188 penonton sejak tayang perdana 24 Juli 2025, film berjudul Believe, Takdir, Mimpi, Keberanian menyambangi Yogyakarta dalam rangka roadshow spesial di Plaza Ambarrukmo, Sabtu (26/7/2025). Tur ini diikuti Ajil Ditto (pemeran Agus), M Iqbal Sulaiman (pemeran Abel) serta sutradara Arwin Tri Wardhana.

Film laga drama ini diangkat dari buku yang mengangkat kisah nyata dari Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dalam prosesnya menjadi anggota TNI. Yang istimewa, dalam perjalanan hidupnya ada sosok Presiden Prabowo Subianto yang kala itu menjabat Danjen Kopassus. Beberapa kali, Prabowo muncul jadi bagian lanskap sejarah kehidupan karier Agus Subiyanto.

Sejak awal, kemunculan nama Prabowo bukan tanpa sebab di film tersebut. Prabowo menjadi bagian dari rekam sejarah yang memang terjadi dalam rentang peristiwa yang diangkat.

“Memang Prabowo waktu itu ada di situ yang memberi tugas, yang melantik. Itu fakta sejarah. Tidak ada tendensi khusus, kami hanya menjaga otentisitas," kata Arwin.

Peristiwa nyata

Narasi film berangkat dari buku tentang Agus memproyeksikan tokoh-tokoh dan peristiwa nyata ke layar lebar bukan hal yang mudah. Tim sineas harus menjaga kerapian sejarah militer, dari seragam, senjata, struktur pangkat, hingga taktik pergerakan pasukan.

Mereka bekerja erat dengan TNI sebagai narasumber dan supervisor pada setiap departemen selama pembuatan film. Mulai dari art, makeup, armory, sampai blocking pergerakan pasukan.

“Tahun 1975 warnanya (seragam) beda, 1995 beda lagi bahan, bentuk, larangan-larangan atribut, semua harus tepat. Pangkatnya tidak boleh salah. Setiap detail di-cross check oleh PIC (Person in Charge) dari TNI. Bahkan beberapa prajurit terlibat langsung sebagai pemain, fasilitator hingga asisten komandan di-set," jelasnya.

Believe adalah debut perdana rumah produksi Bahagia Tanpa Drama, diproduseri Celerina Judisari dan disutradarai duo Rahabi Mandra serta Arwin Tri Wardhana. Keduanya semula sempat dipertanyakan mengapa harus dua sutradara dengan gaya berbeda.

Saling melengkapi

“Ternyata, justru karena itu film ini butuh dua port of view yang saling melengkapi. Hasil kolaborasinya jadi oke,” ungkapnya.

Ajil mengungkapkan, meski dibalut aksi militer, Believe mengutamakan kisah cinta dan kesetiaan. Selain itu perjuangan domestik yang jarang diangkat dalam film perang Indonesia.

“Perjuangan bukan hanya milik tentara di medan laga, istri-istri yang menunggu di rumah pun menjalani perang batin mereka sendiri, menunggu dengan kesetiaan tanpa kepastian,” ungkapnya.

Karakter Agus yang diperankan Ajil tumbuh dari relasi dingin namun penuh harapan dengan sang ayah, Serka Dedi. Saat memilih meniti jalan yang sama sebagai prajurit, Agus mendapati makna cinta, keberanian dan pengorbanan yang selama ini tak dia pahami.

Syuting 39 hari

"Ada tantangan yang harus saya hadapi, mulai dari kesiapan jadi anggota (TNI) selama 45 hari, termasuk memegang senjata dan latihan perang," ungkapnya.

Pada tingkat penulisan, tim kreatif mengambil posisi based on true events. Peristiwa nyata dijadikan landasan, lalu beberapa tokoh dan adegan difiksionalisasi untuk kebutuhan dramatik dan tensi aksi, tanpa mengkhianati ruh sejarah. Proses syuting berlangsung 39 hari, tersebar dalam total durasi sekitar dua bulan di Jawa Barat.

“Dari 75 persen hingga 95 persen kami dramatisasi aspek aksinya, sementara beberapa figur, seperti April, adalah fiksi untuk menopang emosi dan ketegangan,” jelasnya.

Iqbal menambahkan, berperan sebagai warga Timor Timur (sekarang Timor Leste), dia harus belajar bahasa Portugis dan Timor asli. Bukan perkara muda karena pelafalan bahasa tersebut harus benar-benar tepat agar tidak salah arti. "Saya bahkan sampai punya grup WA isinya tiga orang dengan orang asli sana untuk bisa belajar melafalkan bahasa Timor dan Portugis, karena bila salah intonasi maka beda arti," tambahnya. (*)