Anggota DPR RI Azis Subekti Merespons Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar mata uang bukan hanya ditentukan kekuatan fundamental ekonomi tetapi juga arus modal spekulatif.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Anggota DPR RI, Azis Subekti, menyatakan ada satu hal yang sering tidak disadari ketika masyarakat melihat rupiah melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
“Yang bergerak bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologi publik. Seolah-olah nasib sebuah bangsa ditentukan hanya oleh satu angka yang bergerak di pasar valuta asing," kata Azis melalui materi tertulis, Selasa (19/5/2026).
Merespons hal itu, menurut dia, dalam sistem ekonomi global modern, nilai tukar mata uang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi, tetapi juga oleh arus modal spekulatif, algoritma perdagangan, perang geopolitik, ekspektasi investor, lembaga pemeringkat, hingga psikologi ketakutan pasar dunia.
“George Soros pernah menjelaskan melalui teori reflexivity, pasar tidak sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri,” katanya.
Perang persepsi
Dia berpendapat, ekonomi global hari ini bukan hanya perang produksi dan perdagangan melainkan juga perang persepsi. Ironisnya, negara yang mata uangnya paling menentukan arah ekonomi dunia, yaitu Amerika Serikat, justru menghadapi tekanan internal yang besar.
“Utang publik Amerika telah melampaui US $ 36 triliun. Defisit fiskalnya terus membesar. Suku bunga tinggi menekan sektor riil. Industri manufakturnya menghadapi tekanan kompetisi dari China,” ungkapnya.
Azis menambahkan, dolar bukan sekadar mata uang tetapi simbol kekuasaan global. "Dominasi dolar hari ini juga tidak lahir secara tiba-tiba. Dibangun melalui sejarah panjang perubahan sistem ekonomi dunia,” jelasnya.
Di sinilah banyak negara berkembang terkena dampak bukan karena ekonominya runtuh tetapi arus modal global bergerak sangat spekulatif menuju aset Dolar. “Karena itu, membaca pelemahan rupiah harus dilakukan secara jernih dan proporsional,” kata dia.
Biaya impor
Melemahnya rupiah memang tidak boleh dianggap sepele. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat, harga pupuk terdorong naik, logistik menjadi lebih mahal, industri menghadapi tekanan biaya dan inflasi perlahan ikut bergerak.
“Kesalahan terbesar adalah ketika masyarakat menyimpulkan pelemahan rupiah otomatis berarti Indonesia sedang menuju kehancuran ekonomi," tandasnya. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
