atas1

Anak Gajah Ini Tidak Takut Saat Dielus Punggungnya

Jumat, 27 Mar 2020 | 20:12:49 WIB, Dilihat 421 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Anak Gajah Ini Tidak Takut Saat Dielus Punggungnya Manajer Konservasi GL Zoo Yogyakarta, Josephine Vanda Tirtayani mengelus bayi gajah yang baru lahir. (istimewa)

Baca Juga : Belajar di Rumah Diperpanjang Hingga 13 April 2020


KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Baru saja lahir dua hari silam, seekor anak gajah berkelamin betina langsung diajak jalan-jalan oleh sang pawang atau mahout. Dia membuntuti induknya.

Bahkan binatang berbelalai panjang ini tidak takut saat Manajer Konservasi Gembira Loka Zoo (GL Zoo) Yogyakarta, Josephine Vanda Tirtayani, mengelus punggungnya, Jumat (27/3/2020).

Seperti diberitakan, bledug atau anak gajah ini lahir pada Rabu (25/3/2020) dini hari pukul 02:06. Bayi gajah ini lahir dari indukan Sinta yang berumur 21 tahun, setelah dibuahi lewat perkawinan alami oleh pasangannya, Argo (30 tahun).

Sinta merupakan gajah betina dari Pusat Konservasi Gajah Seblat Bengkulu yang didatangkan ke  GL Zoo pada 2015.

Sedangkan Argo, indukan jantan, merupakan gajah Sumatra yang didatangkan dari Pusat Latihan Gajah Way Kambas Lampung ke kebun binatang ini pada 1996. Dengan kelahiran gajah Sinta ini berarti GL Zoo kini memiliki koleksi 9 ekor gajah.

Proses lahirnya anak gajah itu sendiri cukup menegangkan. Meski pada 22-31 Maret, obyek wisata ini tutup sementara bagi pengunjug karena dampak virus Corona atau Covid-19, namun karyawan khususnya perawat satwa tetap masuk kerja.

Muhammad Adi Satria, salah seorang mahout atau perawat gajah GL Zoo itu tidak libur. Bergiliran dengan delapan mahout  lainnya, dia  harus aplusan masuk kerja.

Perawat satwa GL Zoo, Muhammad Adi Satria, mengajak jalan-jalan bayi gajah dan induknya. (istimewa)

Adi Satria bersama delapan perawat gajah lainnya tiap pagi bergilir masuk kerja untuk merawat gajah yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan yang rutin dilakukan mulai dari membersihkan kandang, memandikan gajah dan memberi pakan serta minum.

Sejak Sinta bunting, bagian konservasi kebun binatang itu mengawasi dan merawat secara intensif. Pemberian pakan khusus dan multivitamin terus dilakukan demi menjaga kondisi sang induk betina.

Pemantauan melalui USG pun dilakukan untuk memastikan janin berkembang baik. Tiap pagi dan sore,  Sinta diajak jalan-jalan mengelilingi danau buatan Mayang Tirta kompleks kebun binatang itu, agar kondisi satwa itu terjaga selama masa bunting.

Sinta ditempatkan di kandang asuh khusus bagian dalam, dipisahkan dengan 8 gajah lainnya. Gajah itu lancar saat beranak. Tanda-tanda kelahiran seperti feses yang mengecil dan sedikit gelisah mulai sore. Para mahout dan dokter menyiapkan segala alat dan kebutuhan, baik untuk perawatan maupun obat.

“Begitu brujul anaknya lahir, respons Sinta, induknya sangat baik. Dengan kaki dan belalainya, bayi gajah itu disenggol-senggol untuk dibantu berdiri,” kata Adi Satria yang turut menunggui proses gajah itu beranak.

Josephine Vanda Tirtayani menambahkan, perilaku seperti menendang-nendang anak gajah maupun menggerak-gerakkan dengan belalainya seperti itu adalah hal yang wajar untuk induk yang baru saja melahirkan.

Meski pada awalnya Sinta sempat bingung dengan kelahiran anak pertamanya, setelah beberapa waktu langsung menunjukkan rasa sayangnya kepada bayi yang baru saja dilahirkan.

Ketika bayi gajah merengek dan mencoba berdiri dengan tertatih, sang induk Sinta sigap membantu dengan belalainya. Bayi gajah sudah mampu menyusu sendiri setelah dua jam kelahirannya. Walau sempat bingung mencari posisi puting susu yang cukup sulit digapai.

Menurut dia, lama gajah bunting butuh waktu cukup lama, sekitar 18-22 bulan. Sedangkan Sinta beranak setelah mengandung 21 bulan. Umumnya bayi gajah  lahir dengan berat 90-100 Kg. Bayi Sinta ini lahir normal seberat 98 Kg, tinggi 84 senti dan lingkar dada 1,09 meter.

Terakhir kali pada 1992, gajah koleksi kebun ini beranak. GL Zoo pantas bersuka cita karena berhasil melakukan pengembangbiakan terkontrol atas satwa endemik Indonesia gajah Sumatra (Elephas maximus Sumatranus) setelah menunggu 28 tahun. Usaha dan penantian panjang  itu pun tak sia-sia. (sol)



Jumat, 27 Mar 2020, 20:12:49 WIB Oleh : Masal Gurusinga 1098 View
Belajar di Rumah Diperpanjang Hingga 13 April 2020
Jumat, 27 Mar 2020, 20:12:49 WIB Oleh : Nanang WH 3430 View
Sepi karena Wabah Corona, Pasar Bisa untuk Playon
Jumat, 27 Mar 2020, 20:12:49 WIB Oleh : Nanang WH 802 View
Abu Letusan Gunung Merapi Sampai Kebumen

Tuliskan Komentar