carutmarut-belajar-ditengah-pandemiPara siswa Sekolah komunitas Sanggar Anak Alam tengah belajar tentang alam di sekolah setempat, beberapa waktu lalu. (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Ms

Carut-marut Belajar Ditengah Pandemi


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Hampir seluruh aktivitas di dunia terdampak Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Semua terkaget-kaget dan gagap bagaimana meramu formula terbaik untuk mempertahankan kemampuan masing-masing sebagai sebuah negara dari berbagai sisi.

Dunia pendidikan tak pelak menjadi carut-marut dihantam Covid-19. Di Indonesia, tepat sejak pemerintah mengimbau untuk melakukan semua kegiatan dari rumah, termasuk sekolah. Persoalan proses belajar mengajar yang sangat tergantung pada perangkat teknologi informasi dan internet ternyata tidak cukup untuk men-deliver ilmu kepada anak-anak yang belajar di rumah.


Baca Lainnya :

Butuh kepiawaian yang out of the box dalam membangun penyampaian yang kreatif sehingga mudah dicerna oleh anak sekolah. Sekolah terbaik, dengan guru dan Kepala Sekolah terbaik pun belum tentu koping dengan siasat pembelajaran di tengah pandemi.

Psikolog sekaligus Dosen di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Diana Setiyawati mengatakan tidak layak juga kita menyalahkan tenaga pengajar yang belum mampu menyampaikan ilmunya kepada anak didik ditengah kondisi seperti ini. Menurutnya, meskipun dengan segala predikat terbaik saat belajar masih konvensional, mereka tidak dipersiapkan untuk ini.


Baca Lainnya :

"Sebelum ini mungkin peningkatan sumberdaya guru tentang hal itu juga belum prioritas, kita juga melihat sekolah negeri di Jogja pun mengalami hal serupa, guru-gurunya ada yang keteteran," lanjutnya.

Yang kalau yang kesenjangan-kesenjanagan internet dan sebagainya Itu itu lebih kasihan, tapi bahkan yang di kota kota-kota seperti Jogja pun digital literasinya belum sampai untuk dengan cepat belajar tentang learning management system misalnya dari kuliah online, sekolah online itu kan dia perlu perlu wawasan yang tidak bisa instan juga.

"Namanya juga bencana, kalau carut-marut ya iya, tidak hanya kita, bahkan seluruh dunia belum pernah mengalaminya. Berbeda dengan gempa atau bencana alam lainnya, yang kita sudah pernah dan kemudian tahu bagaimana melaluinya," terangnya saat dihubungi koranbernas.id Rabu (26/8/2020) lalu.

"Jadi kita semua, dan bahkan seluruh dunia belajar bagaimana cara yang tepat untuk sekolah jarak jauh, belajar sesuatu yang tepat untuk diaplikasikan ke siswa sekolah," lanjutnya.

Ada banyak sekolah yang kami riset tentang itu lanjut Dian, kami mencari sekolah-sekolah yang bisa koping dengan baik. Beberapa sekolah memang sudah koping, tapi tidak banyak. Dari ratusan sample yang Ia dan Tim teliti dari berbagai penjuru Indonesia dari PAUD hingga Perguruan Tinggi memang ada yang bisa survive atau kreatif dalam pembelajaran. Selain tidak banyak itupun hanya dimiliki oleh sekolah-sekolah yang guru-gurunya siap berinovasi.

"Tidak semua anak-anak di Indonesia memiliki sarana untuk itu, orang tua dan keluarga yang tidak cukup punya digital literasi akan kesulitan untuk untuk belajar online. Sementara di Indonesia masih ada kesenjangan digital yang cukup besar. Jadi ada kaum yang sangat melek teknologi, tapi begitu banyak yang tidak," ungkapnya.

Kemudian Ia melanjutkan, pada kondisi ini merekalah yang paling terdampak, orang-orang yang tidak ada teknologi, tidak paham dan itu juga berkaitan erat dengan kemampuan ekonomi. Satu lagi hal yang mendasar, yaitu lokasi tempat tinggal. Karena di banyak tempat di Indonesia ternyata internet tidak reliable. Dengan begitu kita baru tahu bahwa ternyata digital literasi itu tidak merata.

"Daerah dengan kesenjangan-kesenjangan internet dan sebagainya Itu lebih kasihan, bahkan yang di kota-kota seperti Jogja pun digital literasinya belum cukup untuk dengan cepat belajar tentang learning management system, misalnya dari kuliah online dan sekolah online itu diperlukan wawasan yang tidak bisa instan juga," papar Dian.

"Artinya jika kita mau merefleksi diri, kita jadi tahu bahwa kondisi bangsa ini begitu, secara umum di Indonesia seperti itu, masih ada kesenjangan teknologi, literasi digital maupun juga sarana prasarana itulah penyebabnya," imbuhnya.

Menurut perempuan yang juga aktivis kesehatan mental ini, Pemerintah harus ada usaha pemilahan sistem mikro makro, secara makro dan sistemik Pemerintah harus melakukan sesuatu dengan cepat, termasuk mengalokasikan investasi yang besar atau CSR yang ada.

"Kalau kemaren semua berpikir untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga kesehatan dan sebagainya. Sekarang saatnya berpikir untuk membuat platform belajar yang mudah untuk anak-anak. Karena sekarang yang sedang dipakai masih seadanya," lanjutnya.

Menurut Diana, Pemerintah harus menyediakan platform yang mudah dan sesuai dengan kesibukan keluarga yang berbeda-beda itu contoh secara makro salah satunya. Hal lain, secara makro kita masih belum melihat bahwa adanya kebijakan publik yang berbasis keluarga, meskipun ini kondisi darurat, harusnya hal tersebut dipikirkan juga.

Misal kebijakan publik Lanjtut Dian, ketika semua PNS harus masuk secara fisik sejak juli, sementara anak-anak mereka belum masuk sekolah. Mereka harus meninggalkan anak-anak mereka di rumah dengan fasilitas learning online yang sebenarnya harus didampingi. Dengan begitu jika berbicara dengan sistem pendidikan yang tadi, itu menjadi tidak sinkron.

Sementara di negara lain lanjut Dian, Australia juga sekolah harus daring, tapi anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai dokter, tenaga medis, pelayanan publik, groceries, atau penyuplai kebutuhan sehari-hari, anak-anak mereka boleh bersekolah dengan metode tatap muka, tentu dengan protokol kesehatan yang jelas.

"Jadi ada kebijakan yang sinkron, karena sebagian orang harus membuat kehidupan ini berjalan, maka orang-orang di garda depan ini difasilitasi agar anak-anak mereka boleh ke sekolah," terang Dia.

Kita semestinya juga bisa seperti itu, cuman kadang lupa dalam mengambil kebijakan. Sehingga karyawan yang sebenarnya hanya mengerjakan tugas administratif pun harus masuk ke kantor semua tanpa pandang bulu. Akhirnya itu berefek pada anak-anak.

"Saya yakin sebenarnya saat ini akan banyak sekali anak-anak yang slowdown, Yaitu melambat dalam hal penyerapan ilmu dan mengembangkan kreatifitasnya. Dalam usia yang seharusnya mereka belajar ini itu, tetapi karena sekolah mendeliver pelajaran nggak bisa baik jadi anak-anak ya terlena dengan keadaan seperti ini. Mereka akan merasa libur setiap hari dan sebagainya," lanjutnya.

Yang paling bahaya lanjut Diana, adalah anak usia dini dan anak-anak usia menjelang kuliah. Kalau di Australia mereka inilah yang diutamakan. Anak-anak usia dini adalah masa-masa emas yang tidak bisa digantikan. Usia dimana mereka harus belajar, belajar pengembangan bahasa, harus belajar literasi dan sebagainya.

"Di dalam psikologi itu disebut masa kritis, yaitu masa yang tepat untuk menerima pelajaran. Sementara jika saat ini mengalami delay usia mereka ini tidak mendapatkan stimulasi yang memadai. Maka itu berbahaya, artinya mubazir energi dan mubazir otak mereka yang seharusnya berkembang," paparnya.

Sementara untuk anak-anak pra sekolah yang mau kuliah, mereka akan terlena untuk hal yang sia-sia. Maka jadi tidak maksimal persiapan-persiapan untuk menempuh jenjang kuliah karena semuanya terasa melambat atau slowdown.

"Masalah terbesar yang dikeluhkan oleh mahasiswa, dosen, guru, maupun orang tua dan anak adalah internet reliability. Kesenjangan internet itu masih cukup besar untuk negara kita, bahkan lebih dari 50% yang kami riset semua komplain tentang internet," jelas Diana.

"Bagi kami yang juga sebagai dosen, hal yang paling mudah dalam mengajar adalah pembelajaran dengan tatap muka online. Karena kami melakukan hal seperti biasa saja, hanya dibedakan ruang tempat. Seperti memberi kuliah seperti biasa, tetapi mereka mendengarkan dari rumah masing-masing. Hal ini paling mudah, kami hanya cukup menstimulasi mereka untuk lebih mendalami materi," lanjutnya.

"Tapi begitu internet tidak reliabel jadi tidak bisa dilakukan, akhirnya banyak sekolah yang menolak untuk itu. Hal lain, orang tua tidak siap dengan teknologinya ditambah lagi ada yang kurang mampu. Kemudian mereka tidak mampu untuk membeli kuota yang lebih lancar, Karena kuota lancar banyak dimiliki oleh provider-provider yang harganya selangit," tutup Diana.

Para siswa Sekolah komunitas Sanggar Anak Alam tengah belajar tentang alam di sekolah setempat, beberapa waktu lalu. (istimewa)

Pandemi Justru Menguatkan

Tidak semua sekolah dan berlajar tergerus arus pandemi. Sekolah komunitas Sanggar Anak Alam (Salam) adalah sebagian kecil sekolah yang tidak berpengaruh banyak dengan perubahan cara belajar. Sekolah berbasis keluarga dan riset dalam pembelajaran ini semakin merasa mantab bahwa pilihan mereka selama ini cukup tangguh dalam berbagai kondisi.

Sri Wahyaningsih, atau kerap dipanggil Wahya, Pendiri Sanggar Anak Alam memaparkan jika ini merupakan ujian bagi Salam, Ujian terhadap pilihan Salam sejak awal. Salam yang selalu melibatkan orang tua dan proses belajarnya serta melalui riset justru merasa kalau pandemi ini semakin menguatkan kami. Salam menjadi teruji dengan segala situasi, proses belajar tetap berjalan biasa.

"Yang membedakan, mungkin karena kita sebagai makhluk sosial tentu ketemu itu merupakan sesuatu yang sangat berarti, karena dengan bertemu kita juga belajar. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain, Hal inilah yang dirasakan Salam bahwa yang biasanya inspirasi itu datang dari sebuah pertemuan, sekarang proses itu hanya terbatas virtual," paparnya saat ditemui koranbernas.id di kediaman sekaligus sekolah, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta.

"Tetapi secara esensi kami tidak ada beban apa-apa, justru dengan pandemi kami semakin dikuatkan dengan pilihan-pilihan kami untuk belajar melalui empat pilar yaitu pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya," lanjutnya.

"Nah di masa pandemi ini, ketika semua orang ngomong tentang cuci tangan di Salam itu sudah menjadi kebiasaan sejak lama, jadi tidak terlalu kaget. Pangan sehat kami juga mengupayakan sendiri, akhirnya semua keluarga melakukan gerakan menanam dan berbagi makanan sehat," imbuh Perempuan yang aktif membantu Romo YB Mangunwijaya (Romo Mangun) dalam pelayanan masyarakat di Lembah Code, Yogyakarta di tahun 1983.

Sejak awal lanjut Wahya, makanan sehat yang merupakan kampanye kami. Sejak pandemi membuat rantai-rantai distribusi ini semakin dipersempit, bagi salam ini merupakan waktu yang tepat untuk bisa saling menguatkan komunitas ini agar bisa hidup dan teman-teman terus berkarya.

"Intinya Urip bebrayan, berbasis keluarga dan kebersamaan itu semakin terasa. sehingga para orang tua yang awalnya masih ragu-ragu akhirnya merasakan bahwa pilihan salam ini adalah benar," lanjutnya.

Wahya melanjutkan, Indonesia saat masih bernama Nusantara terutama di Jawa, pendidikan itu sudah bulat dan sudah ada, jadi sistem pembelajaran interaktif guru itu sebagai mentor atau sebagai fasilitator bagi si pembelajar punya minat khusus yang erat dengan ekologi, dengan demikian bisa belajar dengan apa yang ada disekitar. Misalnya di Jogja berkaitan dengan Gunung Merapi, dengan hutan dan dengan sungai dan laut.

Bagi salam, daring kini hanya dilakukan sebatas membuat kesepakatan riset pembelajaran yang semuanya bisa dikerjakan anak disekitar rumahnya. Selanjutnya mengawal proses dan presentasi kecil bagi masing-masing anak. Itupun tidak berlangsung setiap hari, dan durasi yang tidak lama. Karena tentu anak akan jenuh berlama-lama belajar secara virtual.

Sehingga belajar merdeka adalah apa yang dipelajari dari kehidupan sehari-hari, maka kearifan lokal tidak hilang misalnya orang menggantungkan hidupnya dari ekologi yang ada, dan itu menciptakan teknologi-teknologi seperti pandai besi, membuat gerabah hingga alat-alat rumah tangga. Maka ketergantungan terhadap hutan dan lingkungan sekitarnya sangat kuat sehingga hal ini akan terpelihara terus.

"Saya bukan orang yang anti teknologi tinggi. Tapi kini seolah-olah kita mengalami lompatan yang jauh dan terjadi hampir di seluruh dunia. Ada arus yang akan membawa kita ke semua ini ke era industri dan teknologi yang tinggi. Teknologi komunikasi karena semuanya berbasis internet yang memang secara alamiah menuntut produktivitas tinggi dan efisien. Sehingga ini bisa terjadi eksploitasi dan ada pergeseran-pergeseran yang sangat mungkin," pungkasnya.

Maksimalkan e-learning

Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 (SMA MUHA) Yogyakarta punya kiat khusus selama pembelajaran jarak jauh. Pandemi ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan Guru dalam memberikan pembelajaran menggunakan teknologi.

Sekolah ini sebenarnya sudah memiliki sistem e-learning mandiri jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Bahkan sebelum Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengintruksikan sekolah-sekolah di DIY menggunakan Google classroom dan JB class di Jogja Belajar.

Pandemi menjadikan waktu yang tepat untuk memaksimalkan sistem e-learning yang dimiliki sekaligus mencari cara terbaik yang tepat dan mudah untuk dilakukan Guru dan tentunya Siswa. Pencampuran sistem e-learning yang dimiliki, Google Classroom, Google Meet, Zoom hingga Whatsapp harus menjadi pilihan yang kreatif.

Disampaikan Humas SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Fatma Taufiyanti, Semua tenaga pengajar harus ikhlas belajar ekstra keras. Setiap malam sebelum dilakukan pembelajaran esok hari harus dipastikan semua materi dan media interaktif siap. Petugas khusus juga didaulat untuk memastikan semua materi ajar tersebut bisa untuk digunakan.

"Setiap hari ada tim kurikulum yang mengecek kesiapan bapak ibu guru mengajar, karena kami harus menyiapkan materi. Jadi waktu mengajar itu sudah ada senjatanya.Mulai dari Google PowerPoint dan sebagainya harus teliti. Jika hingga belum nanti akan di bimbing dan ditegur oleh pak kepala," lanjutnya.

"Semua guru dituntut harus lebih disiplin dan lebih berinovasi, ya karena kondisi seperti ini membuat kita memang harus lebih inovatif," imbuhnya.

Dalam tahun ajaran baru ini SMA Muha juga melakukan tatap maya, dengan menggunakan google meet. Jadi anak tidak hanya mereka mengirim video dan tugasnya. Dalam tatap maya sekolah juga melakukan absensi, untuk mengecek bahwa mereka hadir atau tidak dalam belajar sejak jam 7.30 hingga 1:15 setiap hari.

"Senangnya adalah rata-rata siswa kami sangat interes dan selalu bertanya jika ada yang tidak jelas. Bahkan sampai di luar jam pun mereka sering bertanya jika masih ada hal yang kurang jelas. Jadi ini merupakan tantangan sendiri bagi kami," lanjutnya.

Selain itu lanjut Fatma, Pihaknya juga melakukan parenting terhadap orang tua murid. Hal ini penting dilakukan untuk mengembangkan potensi siswa di masa pandemi. Banyak orang tua menyambut baik semua kegiatan seperti itu. Mereka antusias dan merasa punya keterikatan dan perhatian dari sekolah, tidak merasa dilepas begitu saja.(rne)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini